New Calvinism di Indonesia

Introduksi
Ketika kita mengingat dan merenungkan mengenai Reformasi, tentu kita mengingat nama-nama para raksasa iman seperti Martin Luther, Yohanes Calvin, Martin Bucer, dan lain-lain. Juga peristiwa besar dipakukannya 95 tesis di pintu gereja “Schlosskirche” di Wittenberg. Namun tentu saja masih banyak orang-orang yang Tuhan pakai dalam mempersiapkan gerakan bersejarah ini, terutama dalam fase-fase awal. Kita bisa mengingat tokoh-tokoh yang menjadi peletak dasar fondasi dan pembuka jalan untuk Reformasi. Misalkan Jan Huss yang dengan gigih memberikan berbagai kritik dan gagasan agar struktur gereja bisa kembali lebih setia sesuai dengan prinsip Alkitab. Juga John Wycliffe yang memiliki kerinduan besar agar Alkitab bisa dicetak, disebarluaskan, dan diakses oleh setiap orang Kristen. Dengan demikian, setiap orang Kristen bisa hidup saleh sesuai prinsip firman Tuhan. Tentu saja hal tersebut harus mereka bayar dengan perjuangan, air mata, kerja keras, dan bahkan nyawa mereka. Ketika kita sedikit menengok ke belakang, kita bisa merenungkan dan mensyukuri bagaimana Tuhan telah bekerja dan memakai pelayan-pelayan-Nya sepanjang sejarah, secara spesifik dalam konteks sekitar periode Reformasi.

Yang menjadi tujuan dari artikel singkat ini tidak hanya sebatas merenungkan dan mengetahui detail peristiwa yang telah terjadi dalam sejarah saja. Penulis berharap agar para pembaca setia PILLAR bisa lebih mengenal dan merenungkan konteks, prinsip, dan hal penting yang bisa dipelajari dari peristiwa Reformasi. Kemudian dengan gentar melihat kesulitan dan tantangan yang kita hadapi di zaman ini sebagai satu tubuh Kristus. Lalu dengan penuh kerendahan hati dan sikap yang bersandar penuh kepada Tuhan, mulai menggumulkan dan mengerjakan bagian dan takaran kita masing-masing.

Diversitas
Peristiwa Reformasi tidak hanya terjadi secara lokal di satu kota atau daerah saja. Reformasi terjadi di daerah yang luas dan melibatkan berbagai macam tokoh dan masyarakat di berbagai lapisan. Tentu kita bisa melihat kesamaan prinsip yang mereka miliki. Misalnya kesetiaan kepada Alkitab, bersandar pada anugerah, mementingkan aspek iman yang benar di hadapan Tuhan, menempatkan Kristus sebagai pusat, dan memiliki motivasi sungguh-sungguh untuk memuliakan Tuhan. Juga kesadaran bahwa manusia sudah rusak secara total, keselamatan yang tidak bergantung kualifikasi dalam diri manusia, ada sebagian orang yang Tuhan pilih, anugerah Tuhan yang diberikan dan menggerakkan manusia, dan juga keteguhan dari orang-orang kudus. Selain kesamaan prinsip-prinsip ini, kita juga sekaligus bisa melihat beberapa perbedaan dan variasi perjuangan yang terjadi di beberapa tempat. Dalam cakupan artikel ini, penulis akan sedikit menyoroti Gerakan Reformasi di Jerman, Swiss, dan Perancis.

Salah satu titik awal bermulanya gelombang Reformasi terjadi pada 31 Oktober 1517 di Jerman, ketika Martin Luther memakukan 95 tesis di pintu gereja “Schlosskirche” di Wittenberg. Luther yang hidup sebagai biarawan memang memiliki pergumulan mendalam mengenai penghapusan dosa, keselamatan, dan prinsip-prinsip mengenai gereja. Martin Luther awalnya sama sekali tidak memiliki pikiran ataupun niat untuk melawan gereja Katolik. Ia tidak memiliki tujuan untuk memberontak atau memecah gereja. Pemikirannya lebih terfokus ke arah ketidaksetujuan secara akademis mengenai praktik-praktik yang dilakukan di gereja. Luther juga menyoroti dengan tajam mengenai kesenjangan kekayaan antara rakyat jelata dan kaum agamawan dan bangsawan. Di luar dugaan Luther, ternyata tulisan-tulisannya telah Tuhan pakai secara luar biasa dalam mencetuskan Gerakan Reformasi.

Paralel dengan ledakan Gerakan Reformasi di Jerman, semangat gerakan ini juga menjalar ke negara Swiss. Di daerah Swiss, Gerakan Reformasi dikembangkan lebih jauh oleh Ulrich Zwingli. Zwingli sendiri melayani sebagai pastor di Zurich. Ia pribadi telah mengembangkan pemikiran dan ide mengenai perubahan-perubahan struktur gereja. Kritikan tajam ia tujukan terutama mengenai praktik-praktik korupsi di lingkup gereja. Ia juga mendorong pernikahan bagi orang-orang yang melayani secara gerejawi. Pada saat itu, beberapa pengikut Zwingli menilai bahwa Gerakan Reformasi terlalu konservatif dan seharusnya bersifat lebih radikal. Nantinya, pandangan ini lebih dikenal dengan nama Anabaptists.

Gerakan Reformasi juga kemudian berkembang di Perancis dan Swiss melalui Yohanes Calvin. Pdt. Dr. Stephen Tong kerap menegaskan peran Martin Luther dan Yohanes Calvin yang saling melengkapi dan mendukung. Martin Luther memiliki keberanian dan ketegasan yang luar biasa dalam merobohkan suatu struktur yang begitu teguh. Setelah dirobohkan, perlu dibangun kembali struktur yang benar yang lebih sesuai prinsip Alkitab. Peran Yohanes Calvin sangatlah dominan dalam aspek pembangunan struktur ini. Calvin yang sebenarnya ingin hidup sebagai seorang scholar dan melakukan studi dan riset, akhirnya melanjutkan pelayanan dalam menggembalakan jemaat karena mendapat teguran keras dari William Farel. Calvin pada masa muda memiliki ambisi untuk menerbitkan buku yang nantinya bisa digunakan sebagai textbook utama untuk universitas-universitas ternama Eropa. Namun ambisi tersebut tidaklah tercapai. Melalui berbagai pembentukan hidup, di kemudian hari ketika ia menggembalakan jemaat, ia memikirkan untuk membuat tulisan agar jemaat bisa lebih mengerti mengenai dasar-dasar iman Kristen. Justru di tengah kesederhanaan dan kemurnian motivasi seperti ini, Tuhan memberkati tulisan Calvin secara luar biasa. Tulisannya diakui begitu ketat, konsisten, dan setia kepada prinsip Alkitab. Inilah buku Institutes of Christian Religion.

New Calvinism
Gerakan Reformasi yang dimulai pada tahun 1517 terus mengalami perkembangan. Tuhan telah membangkitkan begitu banyak orang yang setia sepanjang sejarah untuk melayani-Nya. Dalam konteks kita saat ini, ada berbagai wacana, analisis, dan perbincangan mengenai New Calvinism, yakni bagaimana prinsip dan spirit reformasi terus digumulkan dan diterapkan sesuai dengan pergumulan zaman ini. Majalah TIME sendiri pernah membahas bahwa New Calvinism termasuk salah satu ide yang memberikan signifikansi dan kontribusi besar terhadap dunia.[1] Dalam artikel ini, saya membatasi pengertian dan perspektif New Calvinism dari artikel yang diterbitkan oleh John Piper di www.desiringgod.org.[2] Mengenai definisi, memang tidak mudah untuk memberikan definisi lengkap dan detail mengenai New Calvinism. John Piper sendiri lebih memilih untuk menjabarkan karakteristik dan fitur dari New Calvinism. Pengertian Old Calvinisim sendiri begitu bervariasi, dan kaitan antara yang lama dan baru juga begitu organik. Secara prinsip, New Calvinism tetap memegang teguh prinsip-prinsip dasar seperti lima Sola, TULIP, dan inerrancy Alkitab.

Secara unik, New Calvinism akan sangat agresif dalam aspek misi dan penginjilan, terutama yang akan memberikan pengaruh langsung terhadap aspek sosial dan menjangkau kaum-kaum yang belum pernah dijangkau sebelumnya. Salah satu fokus penekanan adalah aspek kesalehan hidup (true piety) yang seharusnya terpancar dalam aspek hidup Kristen. Jonathan Edwards muncul sebagai tokoh yang menjadi panutan dalam hal ini. Di tengah-tengah era globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, New Calvinism akan memiliki cakupan secara global dan internasional. Dengan begini, prinsip-prinsip New Calvinism akan diekspresikan dan diresepsi melalui berbagai etnik dan kultur di berbagai belahan dunia. John Piper sendiri melihat tidak ada lagi suatu kota atau daerah geografis yang disebut sebagai pusat atau titik acuan. Sedikit berbeda dengan pada masa-masa permulaan reformasi di mana Jerman, Perancis, dan Swiss adalah negara-negara yang dominan dan menjadi pusat. Penekanan akan Injil dan salib yang terus dikaitkan dengan berbagai aspek hidup adalah satu-satunya keunikan dan semangat dari New Calvinism. Buah dari pertobatan dan pembenaran di dalam Kristus harus bisa terpancar melalui perubahan hidup dalam aspek individu dan juga komunal.

Dalam bagian penutup artikelnya, John Piper memberikan suatu dorongan. New Calvinism akan memiliki berbagai variasi dan kekayaan dari sisi resepsi, etnik, ras, dan kultur. John Piper tidak melihat ini sebagai suatu permasalahan, melainkan sebagai kekayaan dan keindahan diversitas tubuh Kristus. Tentu saja hal itu tidaklah sempurna dan juga memiliki berbagai kelemahan. Namun ia tetap bersukacita karena ia yakin berbagai prinsip dasar akan tetap dipegang teguh, dan akhirnya memancarkan kemuliaan Tuhan melalui segala bangsa, suku, dan bahasa (Why. 5:9).
Reformed Injili di Indonesia
Dalam konteks Indonesia sendiri, kita bersyukur Tuhan telah menggerakkan untuk dimulainya Gerakan Reformed Injili. Semangat Reformed seharusnya memiliki elemen kasih dan kehangatan yang secara otomatis terpancar ke luar melalui pemberitaan Injil. Namun dalam perjalanan sejarah, kita tidak kebal untuk jatuh ke dalam semangat pembelajaran yang membekukan dan menutup pintu bagi orang yang belum percaya. Melalui Gerakan Reformed Injili, kita diingatkan bahwa semangat kembali ke Alkitab tidak bisa dipisahkan dari semangat memberitakan Injil. Semangat Reformed tidak dibatasi oleh denominasi atau institusi tertentu saja. Sesuai kalimat dari pendiri Gerakan Reformed Injili, Pdt. Dr. Stephen Tong, Reformed adalah undangan yang mulia kepada seluruh gereja untuk kembali kepada seluruh Alkitab dengan sepenuh hati (Reformed is the glorious invitation to the whole churches to return to the whole Bible with the whole heart).[3] Dan dengan penuh doa dan harapan, Pdt. Dr. Stephen Tong terus menanti akan datangnya Era Reformed Injili (Reformed Evangelical Era).[4]

Dalam buku “Reformed Injili Apa dan Mengapa” dijelaskan bahwa Reformasi yang terjadi pada abad ke-16 merupakan gerakan yang unik dan tidak tertandingi.[5] Motivasi Reformasi adalah kembali kepada Kitab Suci dan mengaku bahwa segala sesuatu semata-mata berdasarkan anugerah, dan bahwa hanya melalui iman, dan bukan jasa manusia, kaum pilihan dipanggil untuk menjadi saksi Tuhan di dalam dunia ini. Dalam segala segi kehidupan manusia, sejarah telah menyaksikan kontribusi Calvinisme, mulai dari kehidupan pribadi sampai kehidupan bermasyarakat dan pendidikan, bahkan menjadi perintis demokrasi di seluruh dunia. Penemuan anugerah umum (common grace) dan keunikan pengertian wahyu umum (general revelation) telah menjadi keunggulan dan ciri khas Theologi Reformed dalam menangani masalah-masalah kebudayaan serta memberi pencerahan dan bimbingan kepada semua penemuan ilmiah yang paling modern, juga perubahan arus pikiran sampai pada Gerakan Zaman Baru dan Postmodernisme.

Melalui artikel singkat ini, biarlah pembaca setia PILLAR (terutama pemuda-pemudi) bisa sama-sama memikirkan bagian kita di dalam perspektif Kerajaan Allah yang lebih luas. Tentu nantinya perenungan akan Kerajaan Allah secara luas akan memberikan pengaruh terhadap panggilan kita di dalam cakupan gereja lokal dan masing-masing pribadi. Penulis berdoa agar semakin banyak pemuda-pemudi yang sungguh-sungguh merenungkan prinsip firman Tuhan secara menyeluruh, memberitakan Injil dengan penuh cinta kasih yang terpancar dari perkataan dan perbuatan, serta sekaligus memiliki kebijaksanaan di dalam memilah dan menghargai berbagai ekspresi kekristenan di tengah kompleksitas dan keberagaman etnik dan budaya di era globalisasi dan informasi ini. Biarlah berbagai keindahan kesalehan hidup (keadilan, kasih setia, belas kasihan, kesucian)[6] semakin terus terpancar melalui Gereja Tuhan di tengah-tengah zaman yang bengkok, yang menjunjung tinggi materialisme, relativisme, individualisme, dan pluralisme ini.

Juan Intan Kanggrawan
Redaksi Bahasa PILLAR

Endnotes:
[1] http://content.time.com/time/specials/packages/article/0,28804,884779_1884782_1884760,00.html
[2] http://www.desiringgod.org/messages/the-new-calvinism-and-the-new-community
[3] https://www.youtube.com/watch?v=-9biqoATVnI
[4] https://www.youtube.com/watch?v=jBTXOpvu–4
[5] http://pusat.grii.org/ (Panggilan Gerakan Reformed Injili).
[6] Mikha 6:8, Mazmur 50, Yesaya 1:17, Matius 14:14.