
- Penokohan dan Pengharapan terhadap Berhala
Kalau kita kembali ke September 2025 lalu, terjadi demonstrasi besar-besaran sebagaimana Dewan Perwakilan Rakyat telah gagal mewakili suara rakyat. Dalam demonstrasi tersebut, muncullah orang-orang yang dianggap mewakili suara rakyat di dalam menyatakan keresahan terhadap Dewan Perwakilan Rakyat, yakni orang-orang yang mengutarakan 17+8 poin tuntutan rakyat. Saat itu juga, beberapa lapisan rakyat memberi harapan mereka pada orang-orang ini. Saya sedang tidak membela posisi mana dalam demonstrasi tersebut, tetapi coba baca kalimat itu lagi: mewakili rakyat untuk berbicara kepada Dewan Perwakilan Rakyat yang tugasnya mewakili rakyat berbicara kepada presiden dan jajarannya. Lantas ada komentar yang menarik: “Masakan untuk berbicara kepada wakil rakyat, harus ada wakil rakyat lagi?” Fenomena yang sama terjadi di tahun 1998, ketika ada tokoh-tokoh “besar” yang memperjuangkan Reformasi 1998, rakyat pun juga langsung menaruh harapan mereka kepada para pejuang reformasi ini. Saya tidak sedang berkomentar tentang hal ini terkait benar atau salahnya, tetapi hendak menarik suatu benang merah bahwa manusia punya tendensi untuk menggantungkan harapan mereka kepada sesuatu yang bukan Allah. Ironisnya, ketika kita memasuki konteks keagamaan, manusia sering bergantung kepada sesuatu yang bukan Allah untuk mencapai Allah. Kondisi ini adalah fenomena yang sama yang terjadi pada gereja, 1200 tahun setelah Nikea, di mana umat Kristen menggunakan sesuatu yang bukan Allah, untuk mencapai Allah.
- Dari Nikea ke Reformasi
Melompat sekitar kurang dari 1200 tahun setelah konsili ekumenis di Nikea, Kristus tetap diakui sebagai Allah. Namun, di dalam aspek keselamatan, gereja saat itu, di dalam pengajaran-pengajarannya, telah memberikan kesan seakan karya Kristus di kayu salib, yang seharusnya menebus dosa sekali dan selamanya (bdk. Ibr. 9:24-28), terlalu jauh dengan umat, sehingga umat seringkali melihat bahwa perlu ada mediator tambahan untuk memperoleh keselamatan dari salib Kristus, walaupun ajaran gereja pada saat itu tetap mengajarkan bahwa Kristus adalah satu-satunya Penebus. Mediator tambahan tersebut adalah surat indulgensia untuk penghapusan dosa, penghormatan relik dan patung para orang kudus, serta perjalanan ziarah keagamaan, yang mana semuanya itu nantinya rentan terhadap penyalahgunaan uang. Seseorang diharuskan untuk mengakui dosanya di hadapan romo atau dosa dia tidak akan diampuni. Pemahaman soteriologi ini diambil dari Alkitab bahasa Latin (Vulgata) terutama pada ayat Matius 3:2 yang berisi:
“Poenitentiam agite, appropinquavit enim regnum caelorum,” yang diterjemahkan menjadi, “Lakukanlah penitensi (Sakramen Tobat), sebab Kerajaan Allah sudah dekat.”
Teks asli dari bahasa Yunani adalah:
“ἤγγικεν γὰρ ἡ βασιλεία τῶν οὐρανῶν,” yang diterjemahkan menjadi,
“Bertobatlah (ubah pikiran/hatimu), karena Kerajaan Allah sudah dekat.”
Dari terjemahan di atas, implikasinya adalah, seharusnya yang pertama dan lebih utama dari pertobatan seseorang merupakan penitence yang didefinisikan sebagai perubahan disposisi hati dan pikiran seseorang, yang dalam bahasa Yunani disebut metanoia. Namun, Gereja Katolik Roma pada saat itu menggunakan ayat ini untuk mengajarkan bahwa apabila seseorang bertobat, dia perlu menerima Sakramen Tobat, agar seseorang yang telah berdosa berat kembali berada di dalam kondisi rahmat. Setelah seseorang berada di kondisi rahmat, untuk memperoleh rahmat ketekunan, seseorang melakukan doa kepada santo/santa, penghormatan terhadap relik atau patung santo/santa, agar para santo dan santa boleh mendoakan mereka dari surga agar mereka bisa tetap tekun di dalam rahmat dan waktu di api penyucian (purgatory) makin sedikit. Selain itu, pembelian surat indulgensia juga dipercaya oleh Gereja Katolik Roma masa itu sebagai upaya penghapusan dosa dan pengurangan durasi di purgatory, sehingga surat ini diperjualbelikan. Selanjutnya, di dalam sarana rahmat, seorang Katolik Roma harus melakukan perbuatan baik agar dia tetap berada di dalam rahmat. Keseluruhan gambaran ini adalah bagian dari soteriologi Gereja Katolik Roma sebelum Reformasi.
- Reformasi: Solus Christus karena Deitas Christi
Melihat ini, seorang biarawan Katolik Roma bernama Martin Luther melakukan sebuah “protes” terhadap pengajaran-pengajaran gereja dengan menerbitkan 95 tesis yang hendak dia argumentasikan kepada paus dan magisterium gereja. Pada waktu itu, Alkitab hanya dimiliki oleh orang-orang yang berotoritas di gereja, di dalam bahasa Latin, dan tidak dimiliki oleh masyarakat luas, sehingga masyarakat (layperson) tidak mengenal Injil, berita karya keselamatan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Selama menjadi biarawan Katolik Roma, Luther mengalami suatu kondisi yang membuat dia berpikir bahwa dia berdosa dengan sangat berat. Luther menemukan penghiburan sejati dalam karya Kristus, sebagai Allah sejati, di kayu salib, yang di dalam dirinya sendiri memberikan anugerah yang cukup untuk mengampuni Luther dari dosa-dosanya hingga selamanya. Inilah Injil menurut Luther, bahwa dia tidak diselamatkan karena perbuatannya, tetapi hanya karena kasih karunia Tuhan saja.
Dalam gerakan Reformasi, Martin Luther juga mengajar dan berkhotbah, menekankan pemberitaan tentang keselamatan hanyalah atas anugerah Allah saja (Durch Gnade allein – Sola Gratia – In Grace Alone), yang diperoleh melalui iman saja (Durch Glaube allein – Sola Fide – Through Faith Alone) dan bukan karena pekerjaan manusia. Timbul banyak pertentangan, diskusi, dan dialog pada waktu itu, terutama di antara kalangan Ordo Agustinian. Salah satu adalah karena hal ini berkaitan dengan doktrin keselamatan, salah satu doktrin paling penting di dalam kekristenan. Banyak yang menyatakan persetujuan, tetapi tidak sedikit juga yang menentang. Pengajaran Reformasi ini kemudian menghasilkan Lima Sola Reformasi:
Keselamatan diperoleh melalui anugerah saja (Sola Gratia) yang diterima melalui iman saja (Sola Fide), di dalam Kristus saja (Solus Christus), yang diberitakan melalui Alkitab saja (Sola Scriptura), dan pada akhirnya untuk kemuliaan Allah saja (Soli Deo Gloria).
Bagi Luther, kemuliaan Allah adalah puncak keagungan dari konsep keselamatan dalam theologi Reformasi, yang jalannya diperoleh di dalam Kristus saja. Pernyataan ini menghapuskan konsep “penengah” antara Kristus dengan umat. Apakah signifikansi dari ini? Karena ketetapan pada Konsili Nikea, kita tahu sekarang bahwa Kristus, yang adalah Allah, adalah Mediator langsung antara kita dengan Allah Bapa. Karena Nikea, kita tahu bahwa Allah adalah Allah yang Tritunggal, sehingga ketika kita menaruh harapan dan doa kita ke tangan Kristus, kita tahu sekarang bahwa doa dan harapan kita didengar oleh Allah. Karena Kristus adalah Allah, dan Kristus telah menebus kita dari dosa di kayu salib, kita tahu bahwa kita diperdamaikan dengan Bapa, dan Roh Kudus ada di dalam kita. Apakah itu atas dasar karena kita mempunyai jasa baik di hadapan Allah? Tidak. Hanya karena keselamatan yang dari Kristus (Solus Christus), yang adalah Allah (Deitas Christi), kita bisa sampai kepada Allah Tritunggal.
Mario A.J. Sirait
Pemuda GRII Pusat
