Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Alkitab & Theologi
Pemerintahan Gereja

Pemerintahan Gereja: Ketika Satu Pihak Berusaha Mengepalai Semua

22 Agustus 2026 | Mario A. J. Sirait 8 min read

Dari Para Rasul, Bapa Gereja, Hingga Primasi dan Infalibilitas Uskup Roma

Gereja yang jemaat awalnya berjumlah 12 orang saja, bertumbuh hingga ratusan, ribuan, dan jutaan. Banyak orang yang masuk ke dalam Tubuh Kristus sebagai umat-Nya. Namun, makin tersebarnya pengajaran akan kekristenan, bidat-bidat juga berkembang. Gereja lokal yang bertumbuh secara lokal makin lama juga makin menghadapi ajaran-ajaran palsu yang mencederai Injil Kristus. Setiap terjadi penyimpangan pengajaran, gereja di Roma sering berperan sebagai pengadilan banding. Hal ini dikarenakan uskup dari Roma dianggap sebagai uskup yang memiliki pemahaman iman yang ortodoks, serta dipercayai sebagai gereja yang dibentuk oleh dua rasul paling penting, yakni Paulus dan Petrus.

Bapa Gereja mula-mula juga menyanjung gereja di Roma karena Roma banyak berperan pada gereja di Korintus di bawah Klemens dari Roma (murid langsung dari Petrus)[1], penuh dengan kebenaran dan kasih menurut Ignatius dari Antiokhia, dan merupakan tempat dari seorang apologet andal yakni Yustinus Martyr. Gereja di Roma adalah salah satu yang stabil, dan memperoleh visibilitas politik dari Konstantinus Agung ketika kekristenan menjadi agama resmi di Kerajaan Roma. Gereja Roma memperoleh keutamaan kehormatan, tetapi tetap dipandang sebagai satu gereja dengan satu uskup yang setara dengan uskup-uskup gereja lainnya.

Bertahun-tahun Gereja mula-mula mengalami persekusi, memerangi bidat, kemudian gereja di Roma menjadi satu dengan pemerintah. Namun, Kekaisaran Roma yang diatur oleh gereja jatuh karena peperangan demi peperangan. Dari kejatuhan tersebut, gereja Roma tetap berdiri teguh dan bahkan berjuang dalam peperangan. Karena kekuatannya, theolog di Roma seperti Leo Agung dan Gregorius VII kemudian mengembangkan doktrin tentang supremasi uskup Roma terhadap semua umat Kristen: bahwa Keuskupan Roma memiliki yurisdiksi universal atas seluruh umat kristiani. Leo Agung menafsirkan Matius 16:18-19 sebagai Kristus memberikan kunci sorga kepada Rasul Petrus, uskup pertama Roma, sebagai dasar pembenaran akan supremasi kepausan Roma.

Berdampingan dengan Roma, Keuskupan Konstantinopel berkembang dan mengalami stabilitas di wilayah Timur sebagai “Roma Baru”. Kemunduran kota Roma sebagai pusat politik dan melemahnya pengaruh administratifnya menjadi salah satu alasan Konstantinus Agung memindahkan ibu kota Kekaisaran Romawi ke Konstantinopel, yang pada saat itu lebih stabil secara politik, militer, dan ekonomi. Pada Konsili Kalsedon (451 M), Kanon 28 menetapkan bahwa “New Rome (Constantinople) shall have equal privileges (Yunani: ισα πρεσβεία, “isa presbeia”) with Old Rome.” Namun Keuskupan Roma menolak kanon ini. Penolakan tersebut menjadi salah satu sumber pergesekan penting dalam relasi antara Roma dan Konstantinopel, yang berkontribusi pada ketegangan jangka panjang hingga akhirnya memuncak dalam Skisma Besar, yakni ketika perdebatan mengenai keutamaan satu keuskupan di atas yang lain (universal bishop) mencapai titik yang tak terjembatani.

 Skisma besar terjadi karena beberapa sebab umum pada mulanya, yakni perbedaan eklesiologi, theologi, dan tensi geopolitik. Salah satu perdebatan theologi yang menonjol adalah tentang isu prosesi/keluarnya Roh Kudus dalam perdebatan et filioque, penggunaan roti beragi atau tak beragi, dan ikonoklasme, yakni pengertian tentang keharusan penghancuran gambar (ikon) yang merepresentasikan Tuhan yang terjadi di antara gereja-gereja Timur.[2] Namun, dengan mencekamnya kondisi geopolitik di Eropa, Keuskupan Roma memberikan pesan kepada semua keuskupan lain untuk bersatu dan menjadikan uskup Roma sebagai satu kepala gereja yang memiliki yurisdiksi universal terhadap seluruh keuskupan pada saat itu. Ide ini ditolak oleh gereja-gereja Timur dengan alasan utamanya adalah sebagai pragmatisme dalam permasalahan geopolitik, serta perbedaan theologi dan tradisi gereja yang pada saat itu juga ada di dalam perdebatan yang mencekam.

Atas penolakan tersebut, pada tahun 1054 Kardinal Humbert dari Keuskupan Roma mengekskomunikasi Patriark Cerularius dari keuskupan Konstantinopel, dan juga Cerularius mengekskomunikasi Keuskupan Roma. Keuskupan Gereja Roma kemudian memiliki uskup universal yang disebut dengan Paus, sedangkan Patriark Konstantinopel hari ini menjadi bagian dari Gereja Ortodoks Timur bersama dengan Patriark Alexandria, Yerusalem, dan Antiokhia. Bertahun-tahun kemudian, Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa Paus, uskup tertinggi Roma, memiliki infalibilitas dalam penafsiran Alkitab. Telah terjadi di dalam sejarah, bahwa ketika dari banyak pemimpin gereja, satu orang beritikad untuk mengambil otoritas yang paling tinggi dan mengepalai seluruh pemimpin gereja, maka perpecahan sangat mungkin terjadi.

Dampak Buruk Infalibilitas Satu Pemimpin Gereja yang Otoritatif

Ketika satu pihak di dalam suatu institusi agama rise to power menjadi kepala yang otoritatif, maka sangat rentan untuk terjadinya penokohan. Hal ini telah terjadi di banyak agama di dunia, termasuk juga di dalam gereja, seperti yang telah dibahas. Penokohan satu orang atau satu posisi yang one above all akan membuat gereja menjadi sangat rentan untuk jatuh ke dalam pengajaran yang salah, karena tidak adanya posisi yang setara di dalam proses pemeriksaan dan keseimbangan doktrin. Pada konteks ini, penulis hendak menekankan pada konteks keseimbangan. Tentu, orang yang ada di satu posisi di bawah dari posisi “kepala” bisa memberikan koreksi terhadap kesalahan “kepala”, tetapi ketika posisinya ada di bawah, komunikasi akan tidak seimbang karena relasi kuasa. Konsekuensi dari ini adalah keputusan doktrinal rentan untuk menjadi keputusan yang tersentralisasi dan bukannya kolegial.

Keputusan doktrinal yang tersentralisasi akan menyebabkan perbedaan pandangan pada para pemimpin-pemimpin gereja. Hal ini akan menyebabkan deviasi kecil di dalam persatuan gereja. Tentu, awalnya deviasi ini tidak dapat dilihat. Namun, sepanjang perjalanan waktu, deviasi ini akan terlihat sangat jelas, sangat besar, dan menjadikan gereja rentan terhadap perpecahan. Deviasi ini juga bisa diwarnai dengan politik intra gereja, kondisi ekonomi, dan sosial. Politik menjadi yang utama di atas spiritualitas, penyalahgunaan kekuasaan akan mudah, gereja lokal kehilangan kebebasan, dan otoritas firman Tuhan menjadi makin berkurang di bawah dekret pemimpin. Setelah semuanya kalut, muncullah perpecahan gereja, di mana satu pihak merasa diri paling setia dengan kebenaran yang mula-mula diakui bersama. Ini terjadi di dalam sejarah, terutama umat Protestan. Polanya adalah sebagai berikut: ketika gereja mulai “tidak setia dalam kebenaran”, orang-orang yang konservatif akan memisahkan diri, sedangkan orang-orang yang liberal akan merusak pengajaran gereja. Orang konservatif akan muncul sebagai orang yang berkata, “Gereja ini sudah tidak setia lagi dengan kebenaran, saya akan pergi dari sini dan membuat gereja baru yang setia dengan kebenaran.” Sedangkan orang liberal akan berkata, “Lebih baik kita berdamai, tidak perlu terlalu mengotot dalam hal doktrinal. Tidak ada yang lebih benar, hargai perbedaan dan bersatulah.”

Calvin mengecam adanya perpecahan di dalam gereja. Tentang ini ia menulis pada karya Institutes-nya:

“By the unity of the Church we must understand an unity into which we feel persuaded that we are truly ingrafted. For unless we are united with all the other members under Christ our head, no hope of the future inheritance awaits us.”[3]

Juga, di dalam tafsiran dia terhadap Efesus 4:3, Calvin mengatakan:

“With good reason does he recommend forbearance, as tending to promote the unity of the Spirit. Innumerable offenses arise daily, which might produce quarrels, particularly when we consider the extreme bitterness of man’s natural temper. Some consider the unity of the Spirit to mean that spiritual unity which is produced in us by the Spirit of God. There can be no doubt that He alone makes us “of one accord, of one mind,” (Philippians 2:2,) and thus makes us one; but I think it more natural to understand the words as denoting harmony of views. This unity, he tells us, is maintained by the bond of peace; for disputes frequently give rise to hatred and resentment. We must live at peace, if we would wish that brotherly kindness should be permanent amongst us.”[4]

John Calvin adalah seorang reformator Protestan. Dia bergabung pada arus Reformasi yang sedang terjadi saat itu. Sejak Luther, kekristenan Barat terbagi menjadi Katolik dan Protestan, dan mereka yang berbagian pada gerakan Reformasi akan diekskomunikasi oleh Gereja Katolik. Namun dari tulisan-tulisan Calvin, dia tidak memiliki intensi utama untuk memecah gereja. Benar, bahwa bagi dia perpecahan gereja sangatlah melukai tubuh Kristus, tetapi dia pun tidak dapat tunduk kepada otoritas satu kepala universal yang disebut dengan Paus. Terlebih lagi, Paus dan uskup melanggengkan praktis pengultusan relik dan patung orang-orang kudus, serta penjualan surat indulgensia yang bertentangan dengan Injil. Calvin dengan teguh memegang bahwa hanya Kristuslah satu-satunya Kepala Gereja. Ketika Gereja Katolik Roma, yang ada di bawah kepemimpinan Paus, membiarkan patung-patung orang kudus dipakai sebagai media devosi berlebihan, yakni untuk dimintakan doa seakan-akan para patung kudus berkuasa, Calvin menentang dan menulis karya-karyanya untuk menentang otoritas yang menyesatkan ini. Dia melihat bahwa kekristenan telah jatuh berat ke dalam penyembahan berhala yang brutal. Dari tulisannya, dia menegaskan kembali bahwa Kristuslah satu-satunya Kepala atas Gereja, dan Dia tidak akan memberikan tempat bagi yang lain untuk menjadi kepala, seperti Paus, ataupun untuk menjadi mediator kepada Allah Bapa, seperti relik orang-orang kudus.

Dari sejarah ini kita belajar bahwa ketika satu kepala dibangkitkan untuk memiliki kekuatan yang besar, terutama di dalam gereja, dia berpotensi besar untuk membawa penyesatan. Sebagai manusia, kita harus mengerti bahwa kekuasaan perlu dibagi agar sang pemegang kekuasaan tidak benar-benar korup. Kita harus mewariskan pola pemerintahan politik gereja, yang telah dilakukan oleh para rasul. Pada artikel selanjutnya, akan dijelaskan tentang apa yang Calvin tulis untuk menentang otoritas mutlak ini.

Mario A.J. Sirait
Pemuda GRII Pusat


[1] Clement of Rome, Clement 1: Letter to the Corinthians.

[2] Cross, Frank Leslie; Livingstone, Elizabeth A. (2005). “Great Schism”. The Oxford Dictionary of the Christian Church. Oxford: University Press.

[3] Institutes of the Christian Religion IV.1.2

[4]Calvin, John. “Commentary on Ephesians 4”. “Calvin’s Commentary on the Bible”. https://www.studylight.org/commentaries/eng/cal/ephesians-4.html. 1840-57.

Tag: Infalibilitas, Otoritatif, Pemerintahan gereja, Primasi

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII