Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Iman Kristen & Pekerjaan

“AKU DISELAMATKAN, MAKA AKU HIDUP: Menemukan eksistensi di dalam Kristus”

20 Maret 2026 | Akira Riofuku 8 min read

PENDAHULUAN

Dewasa ini, di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat, manusia tetap terus bertanya mengenai keberadaan diri dan tujuan hidupnya. Berbagai upaya dilakukan untuk menemukan identitas dan makna hidup tetapi tetap ada kekosongan hati yang tidak terhindarkan. Manusia gagal menemukan sesuatu di dalam dunia ciptaan yang dapat mengisi kekosongan hatinya.

Kekosongan hati berasal dari ketidakmampuan manusia mendefinisikan eksistensinya sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Blaise Pascal,

“Manusia mencoba mengisi kekosongan ini dengan segala sesuatu yang mengelilinginya, namun gagal, mencari pertolongan dalam hal-hal yang tak ada, yang tak dapat ia temukan pada mereka yang hadir, tetapi semua tak mampu mendapatkannya. Jurang tak terbatas ini hanya dapat diisi dengan suatu objek yang tak terbatas dan tak berubah, yaitu, Tuhan sendiri.”

Pencarian akan keberadaan dan makna hidup yang berpusat pada diri tidak mampu mengisi kekosongan hati dan hanya membuat manusia kehilangan pusat kehidupan sejati.

Melalui telaah filosofis dan melihat pandangan Alkitab yang dilakukan secara singkat terhadap modernitas, tulisan ini berupaya mengurai relasi antara keberadaan diri, makna hidup, dan kekosongan hati, serta menunjukkan bahwa jawabannya hanya ditemukan dalam anugerah keselamatan yang Allah berikan melalui Kristus. Tesis utamanya adalah “Aku diselamatkan, maka aku hidup”, yang menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya tentang perubahan moral tetapi juga keberadaan diri secara ontologis.

KRISIS EKSISTENSI MANUSIA

Filsafat modern memulai konsep eksistensi dengan menempatkan manusia sebagai pusat realitas. René Descartes, seorang filsuf modern, terkenal dengan teorinya “Cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada).” Baginya keberadaan manusia dibuktikan melalui kesadaran akan dirinya sendiri yang sedang meragukan segala sesuatu. Identitas dan makna hidup berpusat pada diri sendiri. Efeknya, manusia menjadi pengatur makna, bukan penerima makna.

Rasio manusia akhirnya menjadi penentu nilai, moralitas, dan makna hidup. Tetapi, meskipun menjadi ukuran bagi segala sesuatu, ternyata manusia justru kehilangan makna hidupnya. Ketika manusia modern menyingkirkan Allah dari tempatnya, mereka justru malah mengalami krisis metafisik yaitu kehilangan makna dan dasar keberadaan dirinya.

Pada modernitas, rasio menjadi absolut dan berujung pada kehilangan makna hidup serta kecenderungan nihilistik. Jauh sebelum era tersebut, di taman Eden (Kej. 3), manusia mencoba menjadi seperti Allah. Usaha tersebut hanya membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Permasalahan utamanya yaitu manusia terpisah dari Allah.

Dengan demikian, krisis manusia adalah krisis teologis. Manusia menyingkirkan Allah dari pusat realitas dan menggantinya dengan diri sendiri. Ia menolak menjadi ciptaan namun tidak mampu menjadi pencipta. Upaya manusia mencari makna melalui kekuasaan, pencapaian, pengetahuan, bahkan spiritualitas tetap gagal, karena makna hidup bersifat transenden. Tanpa sumber yang absolut dan transenden, makna hidup menjadi rapuh, relatif, dan sementara. Inilah titik dimulainya kekosongan hati–suatu kekosongan eksistensial yang terjadi ketika manusia sadar bahwa hal-hal duniawi tidak mampu menopang keberadaannya.

EKSISTENSI DIRI BUKAN DARI KESADARAN

Dasar eksistensi modernitas berangkat dari kesadaran “aku berpikir,” sementara pemahaman Alkitab adalah antitesisnya. Alkitab memberikan pemahaman yang lebih mendasar, yaitu eksistensi kita semata-mata karena apa yang telah Allah kerjakan bagi kita, yaitu aku diselamatkan, maka aku hidup. Manusia tidak pernah menjadi sumber eksistensinya sendiri.

Alkitab menjelaskan bahwa setelah jatuh dalam dosa, kerohanian kita telah mati. Oleh sebab itu, tidaklah mungkin bagi kita yang telah mati secara rohani dapat sadar akan hidup. Ia beranugerah memberikan kehidupan. Kita tidak ditentukan oleh pikiran atau kesadaran kita akan sesuatu, melainkan ditentukan oleh Allah.

Menyadari hal di atas tidak semudah membalikkan telapak tangan. John Calvin dalam Institutes (I.1.2) mengatakan bahwa pengenalan akan diri yang sejati hanya dapat kita peroleh setelah kita memandang wajah Allah dan selanjutnya memeriksa diri kita sendiri. Ia menegaskan bahwa pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan akan diri saling berkaitan dengan erat (Institutes I.1.1). Artinya, kita tidak dapat mengenal diri tanpa mengenal Allah, dan saat mengenal Allah maka kita mengenal diri.

ONTOLOGI EKSISTENSI SEJATI

Ketika manusia memisahkan diri dari Allah, ia kehilangan identitasnya. Secara jasmani masih hidup, tetapi secara rohani ia telah mati. Seorang filsuf bernama Martin Heidegger dalam bukunya Being and Time menyatakan manusia sebagai being–toward–death, yaitu makhluk yang keberadaannya terarah pada kematian. Baginya, kehidupan manusia adalah pencarian makna dalam keterbatasan. Kematian datang secara tiba-tiba kepada siapa saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Kematian adalah sesuatu yang pasti bagi manusia. Di tengah ironi ini, Injil justru menyatakan dengan lantang, melampaui pemikiran manusia, hidup kekal yang dianugerahkan Allah melalui karya-Nya yang agung.

Kehidupan kekal tidak dimulai setelah kematian jasmani, tetapi sudah dimulai saat ini. Eksistensi manusia menemukan dasar dan kepenuhannya saat diselamatkan. Bukan berarti sebelumnya manusia tidak ada, melainkan arah dan tujuan keberadaannya dipulihkan dalam Kristus. Kita diselamatkan bukan oleh hasil usaha kita, bukan karena perbuatan baik ataupun jasa-jasa kita, tetapi karena kita dikasihi oleh-Nya. Kasih Allah menyelamatkan kita, maka kita beroleh kehidupan kekal. Paulus dalam Galatia 2:20 menyatakan bahwa “… aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.…” Eksistensi kita diperbaharui dalam persatuan dengan Kristus (union with Christ).

Manusia yang diselamatkan, statusnya diubah menjadi manusia yang baru (2Kor. 5:17-21). Keselamatan bukan semata-mata perubahan moral, tetapi pembaruan keberadaan manusia pada relasi, arah, dan dasar hidupnya di hadapan Allah. Dalam rekonsiliasinya dengan Allah, manusia lama mati dan manusia baru hidup di dalam Kristus. Setelah kejatuhan di taman Eden, manusia menjadi musuh Allah tetapi oleh karya Kristus diperdamaikan dengan Allah. Kita yang diperdamaikan dengan Allah menjadi memiliki persatuan dengan Allah melalui Kristus (union with Christ) yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Union with Christ merupakan dasar eksistensi rohani manusia.

Pusat eksistensi adalah Kristus itu sendiri, Ia menjadi dasar keberadaan kita (Kol. 1:17; Yoh. 1:1-4). Manusia baru mendefinisikan dirinya di dalam Kristus. Maka ungkapan “aku diselamatkan, maka aku hidup” berarti pernyataan ontologis, di mana eksistensi diri adalah partisipasi dalam keberadaan Kristus. Dalam Kristus kita menemukan identitas sejati; itu adalah anugerah, bukan hasil usaha kita (Ef. 2:8).

PERGUMULAN HIDUP MANUSIA BARU

Keselamatan membuat kita menjadi manusia yang baru, yaitu hidup di hadapan Allah (coram Deo). Hidup menjadi tidak sembarangan. Kita tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri tetapi bagi Allah. Baik pikiran maupun kehendak tidak boleh menguasai segala tindakan tetapi harus dikuasai oleh Allah. Jika eksistensi menjawab pertanyaan mengapa manusia ada, maka makna hidup menjawab untuk apa manusia hidup setelah diperdamaikan dengan Allah. Inilah makna hidup kita, yaitu menjadi milik-Nya, umat yang telah ditebus oleh-Nya harus hidup bagi Dia dan mati bagi Dia. Hidup coram Deo memberikan arah baru menuju keserupaan dengan Kristus.

Pencarian dasar keberadaan dan makna hidup di luar Allah akan berakhir pada kekosongan hati. Allah memperbaharui status manusia melalui karya penebusan yang dikerjakan oleh Kristus dan diaplikasikan oleh Roh Kudus. Hanya di dalam Dia manusia memiliki kemungkinan untuk mengenal diri dengan benar.

Manusia baru harus menyadari bahwa seluruh hidupnya merupakan ibadah di hadapan Allah. Tidak ada dikotomi sakral (rohani) atau profan (duniawi) dalam kehidupan kita. Ketika paradigma modern mengalami kekosongan, manusia baru justru mengalami kehadiran Allah yang aktif dalam kehidupannya. Maka, iman Kristen akan berperan aktif di tengah dunia. Panggilan kita adalah mengerjakan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah (soli Deo gloria). Kita dipanggil untuk menjadi alat kasih-Nya dalam dunia.

Manusia baru hidup dalam pengharapan, eksistensinya bersifat eskatologis. Dasar pengharapannya adalah firman Allah yang pasti. Meskipun telah diselamatkan, manusia terus hidup dalam pergumulan dan belum dimuliakan. Karenanya, manusia baru masih dapat merasakan kekosongan dalam proses pengudusannya. Kita mengenal hal ini sebagai “already and not yet”–secara status sudah diselamatkan tetapi belum dalam kepenuhannya. Maka dalam kehidupan saat ini, penderitaan, ujian, dan kematian bukanlah tanda kita kehilangan eksistensi melainkan sebuah tanda menuju kemenangan total. Dalam salib Kristus, kita menemukan bahwa Allah menjadi manusia yang setia sampai mati untuk menebus kita. Mahkota diperoleh melalui salib, sehingga manusia baru bergerak dinamis menuju kemenangan untuk kemuliaan Allah.

KESIMPULAN

Ketika konsep keberadaan diri, makna hidup, dan kekosongan hati bertemu dalam satu titik, maka ini menegaskan bahwa eksistensi manusia merupakan anugerah dari Allah. Kekosongan hati muncul ketika manusia mencari makna hidup dalam diri dan dengan usahanya sendiri. Sejak kejatuhan di taman Eden, manusia mengalami kematian rohani dan berseteru dengan Allah. Dosa telah merusak struktur keberadaan kita. Oleh sebab itu, keselamatan bukanlah sesuatu yang ditambahkan pada kita tetapi sebuah penciptaan kembali. Manusia lama kita telah mati dan manusia baru telah datang. Kematian rohani dibangkitkan oleh Allah. Dalam Kristus, kita tidak lagi tersesat dalam dunia nihilisme tetapi berada dalam persatuan dengan-Nya. Tesis “aku diselamatkan, maka aku hidup” menjadi antitesis terhadap modernitas. Manusia baru tidak menuju kebinasaan kekal tetapi memperoleh kehidupan yang sejati. Sehingga dalam dunia yang rusak kita tidak lagi mencari makna, karena dalam Kristus kita telah memiliki makna di hadapan Allah. Di dalam Dia kita, tidak hanya diselamatkan dari dosa, melainkan diselamatkan juga dari absurditas. 

Soli Deo Gloria.

Akira Riofuku
Jemaat GRII Pusat

DAFTAR PUSTAKA
Calvin, John. Institutio Christianae Religionis: Ajaran-Ajaran Agama Kristen (Institutes of the Christian Religion), Jilid 1; Penerjemah Arvin Saputra, Philip Manurung, dan Irwan Tjulianto. Surabaya: Momentum Christian Literature, 2023.
Descartes, René. Diskursus dan Metode; Penerjemah, Ahmad Faridi Ma’ruf. Yogyakarta: IRCiSoD, 2015.
Heidegger, Martin. Being And Time; A Translation Of Sein Und Zeit, Joan Stambaugh. New York: State University Of New York Press, 1996.
Indonesia, Lembaga Alkitab. Alkitab Terjemahan Baru Edisi Kedua (TB2). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2023.
Pascal, Blaise. Pensees and Other Writings; Translated by Honor Levi. New York: Oxford University Press Inc., 1995.

Tag: Coram Deo, Eksistensi Manusia, keselamatan

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII