Desain bagi Keindahan Bumi: Kontribusi Pemahaman tentang Ciptaan, Manusia, dan Langit dan Bumi yang Baru

T.J. Gorringe memulai bukunya A Theology of the Built Environment: Justice, Empowerment, Redemption[1] dengan kalimat singkat ini: “Menjadi Manusia adalah Menempati”. Apakah yang dimaksud dengan perkataan ini? T. J. Gorringe menyadari bahwa keberadaan manusia dan kesadaran eksistensial seorang manusia hanya mungkin terjadi dalam kerangka dimensi ruang dan waktu. Pemahaman ruang dan tempat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kapasitas seorang manusia merespons dan memahami realitas. Perbedaan antara pemahaman ruang dan tempat sering kali kurang dipahami. Secara umum, ruang lebih dikonotasikan dengan sesuatu yang bersifat impersonal, suatu dimensi geometris dan kapasitas. Sedangkan tempat dianggap lebih memiliki signifikansi makna dan nilai yang turut mendefinisikan identitas seorang manusia.

Desain sebagai ilmu yang lahir dari kapasitas proses kreasi manusia berpijak di atas keseluruhan bumi. Bumi adalah ruang lingkup dan tempat di mana segala respons manusia terhadap realitas dihasilkan. Tidak mungkin ada proses kreasi yang dapat sepenuhnya melepaskan diri dari bumi, sejauh apa pun imajinasi dari suatu karya fiksi ilmiah, batasan ruang lingkup realitas yang dapat dimaknai manusia tetap memiliki referensi terhadap bumi ini. Memahami bumi sebagai tempat, bukan sekadar kapasitas geometris yang impersonal, merupakan titik awal membangun percakapan tentang desain bagi keindahan bumi.

Apakah ada korelasi antara theologi, proses kreasi disiplin ilmu desain, dan ekologi? Thomas Aquinas, salah satu raksasa pemikir dalam sejarah kekristenan, pernah mengatakan bahwa kesalahan memahami dunia ciptaan menghantar pada kesalahan memahami Allah. Pada saat yang sama, melalui kebutuhan untuk merenungkan pentingnya proses kreasi desain untuk keindahan bumi, kita dapat pula mengatakan bahwa kesalahan memahami theologi juga dapat menghasilkan kesalahan memahami dunia ciptaan.

Ludwig Feuerbach, dalam bukunya The Essence of Christianity, mengkritisi kekristenan sebagai salah satu penyebab kerusakan bumi. Feuerbach menarik kesimpulan adanya korelasi antara pemahaman theologis tertentu dan hilangnya kepentingan ekologis dalam kebudayaan. Steven Bouma-Prediger dalam bukunya For the Beauty of the Earth[2]menyimpulkan argumentasi Feuerbach sebagai berikut: 

“Selama manusia menjalankan perintah untuk memenuhi bumi, maka serangan manusia terhadap planet ini tidak akan berakhir. Agama mengasumsikan bahwa segala pengorbanan yang harus terjadi untuk mengakomodasi manusia harus dilakukan oleh spesies apa pun selain manusia itu sendiri. Dengan ‘menciptakan Allah’ menurut gambar dan rupa manusia, agama dunia Barat telah mengadopsi mitologi antroposentris yang memisahkan Allah dari dunia ciptaan, jiwa dari tubuh, manusia dari bumi. Dualisme ini telah menghalangi kita untuk berelasi dengan alam dan diri kita sendiri.”

Steven Bouma-Prediger menelusuri argumentasi berbagai pihak yang mengeklaim bahwa agama pada umumnya, dan theologi kekristenan secara khusus, merupakan penyebab degradasi ekologis. Bagaimana dia menjawab argumentasi ini? Penelusuran yang mendalam oleh Steven Bouma-Prediger akan mempertanyakan kejelasan dari argumentasi ini, bagaimana sebagian besar dari argumentasi ini tidak dapat membangun contoh aktif di mana secara konsisten, suatu pemahaman theologis tertentu digunakan secara aktif untuk membantah pentingnya kelangsungan ekologis. Kritik yang lebih proporsional untuk ditujukan kepada kekristenan adalah bagaimana berbagai tradisi interpretasi theologis secara langsung ataupun tidak menciptakan kecenderungan untuk mengesampingkan diskursus mengenai kelangsungan ekologis. Kecenderungan ini telah selama berabad-abad mematikan kesadaran korelasi theologis yang sesungguhnya begitu kuat antara kelangsungan ekologis dan permulaan dan akhir dunia ciptaan.

Untuk memahami bagaimana proses kreasi manusia memiliki implikasi theologis terhadap penatalayanan dunia ciptaan, maka proses kreasi tidak mungkin dilepaskan dari pemahaman tentang penciptaan, kejatuhan, penebusan, dan penggenapan akhir dari dunia ciptaan tersebut. Keindahan dan pemeliharaan bumi tidak terpisahkan dari memahami keberadaan manusia sebagai penatalayan dunia ciptaan. Proses kreasi, sebagai salah satu kapasitas tertinggi manusia untuk memaknai, menilai, dan merespons realitas perlu dipahami sebagai kapasitas yang diberikan agar manusia menatalayani dunia ciptaan. Sebelum kita menggali lebih jauh proses kreasi desain sebagai kapasitas tugas penatalayanan, mari menyimak hasil temuan Steven Bouma-Prediger terkait bias interpretasi theologis yang sering kali muncul dalam gugatan para kritik kekristenan. Di sini kita akan melihat refleksi theologis apa saja yang dapat menjawab kecenderungan kebutaan ekologis yang sudah berlangsung.

Refleksi theologis pertama yang diperlukan adalah untuk merespons kecenderungan dualisme yang hidup dalam tradisi. Dari berbagai bias yang ada, kecenderungan dualisme antara roh dan materi atau jiwa dan tubuh disebut sebagai salah satu alasan mengapa terjadi suatu diskontinuitas antara spiritualitas dan materi, agama dan alam, penyembahan dan pekerjaan, dan seterusnya. 

Bias dualistis dalam kekristenan ini kemudian dikaitkan dengan pemahaman theologis yang tidak lengkap mengenai perintah Allah bagi manusia untuk menaklukkan alam. Lynn White Jr. dalam tulisannya The Historical Roots of Our Ecological Crisis membangun argumentasi bahwa pandangan kekristenan mengenai keilahian dan kemanusiaan yang berada di atas alam merupakan asumsi dasar di balik sains dan teknologi kebudayaan Barat yang kemudian membenarkan eksploitasi dan kerusakan ekologis. Pandangan Lynn White Jr. merupakan tesis yang kemudian diterima
dan menjadi salah satu dasar dari sebagian besar buku teks atau antologi filsafat lingkungan hidup, theologi, dan etika yang dikenal saat ini.

Bias kedua yang perlu direspons dalam lingkungan Kristen sendiri adalah bias eskatologis. Pandangan theologis populer kekristenan terhadap masa depan bumi pada akhir dari seluruh ciptaan dapat menghilangkan konsekuensi dan keharusan akan pemeliharaan bumi. Eskatologi Dispensasionalisme secara tidak langsung menegasi keberlangsungan dunia ciptaan dan mereduksi relevansi dari bumi masa kini dalam masa yang akan datang. Roderick Nash dalam bukunya tentang sejarah etika lingkungan mengkritik apa yang ia sebut sebagai penekanan kekristenan akan otherworldliness, di mana dunia ciptaan yang sementara ditempati lebih ditekankan sebagai kesementaraan yang rusak dan berakhir dengan kemusnahan. Korelasi tidak langsung antara dualisme sorga yang imateriel dan dunia materiel, theologi anihilasi dan konsekuensi logis eskalasi kerusakan menuju akhir tidak dapat dipungkiri melemahkan kepekaan dan minat sebagian orang Kristen terhadap keberlanjutan ekologis.

David Orr, seorang tokoh lingkungan hidup dalam bukunya Ecological Literacy: Education and the Transition to a Postmodern World[3] dengan pedas mengatakan bahwa krisis antara umat manusia dan habitatnya, isu keberlanjutan, adalah syarat dan kondisi terhadap punah tidaknya umat manusia. Namun pendidikan dalam segala lapisan masih mendidik seolah-olah tidak ada krisis apa pun dalam dunia. Kondisi yang dikeluhkan David Orr ini sudah banyak berubah sejak bukunya dituliskan. Namun, dalam percakapan tentang pendidikan Kristen dan gereja, sejauh mana kita pernah berhenti sejenak dan merenungkan berbagai asumsi dasar dominan yang melandasi diskursus ekologis dan keberlanjutan dunia masa kini? Isu keberlanjutan dan ekologi kini hadir dalam hampir semua forum global. Apa yang menjadi asumsi dasar dari seorang Kristen ketika ia dan komunitasnya bergumul mengenai isu keberlanjutan bumi ini? Apakah ia akan terpaksa mengiyakan berbagai tuduhan terhadap kekristenan yang sudah disebutkan di atas? Sanggupkah ia merayakan kesinambungan theologis dari tugas penatalayanan di titik ciptaan, menyadari konsekuensi kejatuhan, menghidupi penebusan, dan mengharapkan langit dan bumi yang baru pada titik eskatologis? 

Orang Kristen perlu merenungkan berbagai asumsi dasar yang beredar di balik mengapa keberlanjutan bumi dan dunia ciptaan ini menjadi begitu penting. Apakah asumsi dominan saat ini tentang kepentingan alamiah melawan kepunahan, merupakan dasar paling kuat yang dapat dibangun? Jikalau asumsi dasar kepunahan tersebut seakan-akan menemukan kesepadanan dalam suatu penjelasan metafisik tertentu, apakah kesepadanan argumentasi ini dapat memengaruhi kesadaran dan respons aktif kita untuk memperbaiki keadaan? Berbagai kritik mengenai kecenderungan negatif tradisi kekristenan terhadap keberlanjutan alam
pada umumnya menyalahkan asumsi theologis yang bersifat metafisik, sekaligus mempersoalkan konsekuensi tafsir penguasaan manusia di titik penciptaan dan langit dan bumi yang baru di titik eskatologis. Meskipun kritik yang diajukan tersebut mereduksi kompleksitas anti-ekologi kebudayaan Barat sebagai kesalahan theologis kekristenan, kritik tersebut menunjukkan korelasi antara wawasan pandang dan respons manusia, komunitasnya, dan arah kebudayaan terhadap ide mengenai keberlanjutan bumi. Artinya, kritik ini dapat dikatakan separuh benar. Jika wawasan pandang seorang Kristen dan komunitas Kristen benar-benar berpijak pada Kitab Suci, maka pemahaman theologis terhadap manusia di titik penciptaan dan akhir dunia ciptaan di titik eskatologis tentu berdampak kepada pemahamannya akan keberlangsungan dunia ciptaan. Mari kita mencoba melihat sekilas bagaimana pemahaman theologis tentang titik penciptaan dan titik eskatologis menjadi begitu menentukan dalam merespons isu ekologis dan keberlanjutan bumi.

Norman Wirzba dalam bukunya The Paradise of God: Renewing Religion in the Ecological Age[4] dan From Nature to Creation: A Christian Vision for Understanding and Loving Our World[5] memberikan penjelasan yang indah mengenai asumsi dasar seorang Kristen dalam merespons keberlanjutan bumi. Pembedaan orientasi yang dikemukakan oleh Wirzba berfokus pada pemahaman akan visi awal dari shalom Allah. Salah satu kekurangan dalam diskusi theologis orang Kristen tentang penciptaan adalah bahwa doktrin tentang penciptaan pada umumnya menekankan aspek asal-usul dunia ciptaan, namun sedikit sekali menyinggung signifikansi moral dan kultural manusia terhadap tatanan, tujuan, dan karakteristik dunia ciptaan. Ketika fokus hanya menekankan aspek asal-usul, maka posisi manusia sebagai imago Dei yang diberi kapasitas menatalayani dunia ciptaan kehilangan baik signifikansi moral maupun kultural terhadap bagaimana keberlangsungan, pengelolaan, dan pemberdayaan dunia ciptaan ini. Kejatuhan dalam dosa semakin menjauhkan posisi kultur yang dihasilkan manusia dari prinsip penatalayanan dan pemberdayaan yang diterima pada mulanya. Ketika kapasitas kreasi yang tadinya diberikan sebagai kelengkapan menjalankan penatalayanan rusak oleh dosa, peradaban yang dihasilkan senantiasa memiliki elemen mengingkari tatanan, tujuan, dan karakteristik ciptaan yang dikehendaki Allah. Jikalau demikian, apa yang terjadi pada titik penebusan? Proses pemulihan shalom dimulai, bukan hanya dalam relasi antara Allah dan manusia, namun juga antara manusia dan sesamanya, dan manusia dengan dunia ciptaan yang sejak semula menjadi tanggung jawab penatalayanannya.

J. Richard Middleton dalam bukunya A New Heaven and a New Earth: Reclaiming Biblical Eschatology[6] menolong kita merenungkan bagaimana titik eskatologis langit dan bumi yang baru membedakan alasan kontribusi keberlanjutan ekologis seorang Kristen. Tesis Middleton dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana: jikalau Allah Tritunggal berencana untuk menebus manusia, mengapa Allah yang sama kemudian membuang seluruh alam ciptaan, yang dirancang-Nya sejak semula sebagai tempat di mana manusia itu ditempatkan dan ditugaskan? Middleton menelusuri bagaimana fokus terhadap eskatologi di abad ke-20 menyingkap kebingungan yang terjadi, dan sumber-sumber di luar Kitab Suci yang turut berkontribusi mencampuradukkan konsep melampaui dunia ciptaan dengan afirmasi Kitab Suci terhadap kehidupan di atas bumi, dalam dunia ciptaan.

Baik penelusuran Wirzba terhadap pemahaman tentang dunia ciptaan dalam rencana Allah, maupun penelusuran pemahaman eskatologis oleh Middleton memiliki implikasi penting bagi setiap wujud manifestasi kapasitas manusia untuk menghasilkan peradaban. Dalam pemahaman eskatologis yang menyadari kecenderungan anti-ekologis dualistis dan anihilasi dispensasionalisme, pengharapan akan langit dan bumi yang baru tidak menghapuskan keberlanjutan proses kreasi manusia dalam memelihara keindahan dunia ciptaan. Pertanyaan mengenai panggilan setiap manusia yang telah ditebus tidak dibatasi dalam ranah soteriologis saja, namun harus juga mencakup setiap dimensi kultural yang dihasilkannya.

Secara lebih spesifik menyentuh panggilan praktis profesi dan disiplin ilmu, di manakah sumbangsih praktisi disiplin ilmu desain, arsitektur, atau tata kota dalam diskursus ini? Apa yang menjadi keunikan pendekatan yang ingin ditelusuri, sehingga titik temu antara argumentasi theologis, kapasitas proses kreasi menatalayani ciptaan, dan ekologi dapat dikembangkan? 

Ini berarti bahwa asumsi dasar maupun orientasi desain berkelanjutan oleh setiap orang Kristen yang terpanggil di ranah ini adalah konsekuensi dari mandat budaya yang dipercayai secara theologis. Setiap proses kreasi yang merespons realitas dan menghasilkan kebudayaan akan selalu tercakup dalam pertanggungjawaban peran umat manusia sebagai penatalayan seluruh bumi. Kapasitas proses kreasi di tengah dunia ciptaan yang penuh kerusakan ini justru menjadi bagian dari pengharapan eskatologis, tugas pemulihan keindahan yang terus-menerus dipelihara dan disempurnakan hingga akhir. Bukan hanya demikian, pesimisme akan tidak perlunya peran aktif manusia terhadap keberlangsungan bumi digantikan dengan optimisme dan pengharapan akan mulianya merespons panggilan tersebut pada titik eskatologis. Sanggupkah orang Kristen yang dipanggil sebagai praktisi desain, arsitektur, dan lingkungan hidup merespons tantangan ini? Desain, arsitektur, dan tata kota sebagai contoh ranah keilmuan yang begitu bergelut dalam kesadaran “menjadi manusia adalah menempati” perlu memulihkan keindahan doksologis berkelanjutan sebagaimana yang telah dan tetap dimandatkan. Memaknai panggilan manusia yang sudah ditebus sebagai penatalayan akan bumi, lingkungan, dan alam di mana ia ditempatkan.

Elya Kurniawan Wibowo
Redaksi Editorial PILLAR

Endnotes:

[1] Gorringe, T. J., A Theology of the Built Environment: Justice, Empowerment, Redemption.

[2] Bouma-Prediger, Steven, For the Beauty of the Earth: A Christian Vision for Creation Care.

[3] Orr, David, Ecological Literacy: Education and the Transition to a Postmodern World.

[4] Wirzba, Norman, The Paradise of God: Renewing Religion in the Ecological Age.

[5] Wirzba, Norman, From Nature to Creation: A Christian Vision for Understanding and Loving Our World.

[6] Middleton, J. Richard, A New Heaven and a New Earth: Reclaiming Biblical Eschatology.