Setiap pagi ketika bangun dari tidur, apa yang kita dambakan? Kita mungkin memulai hari kita dengan bersyukur atas pagi yang indah, kesehatan yang kita miliki, kita mengucap syukur masih bisa beraktifitas, masih ada keluarga yang mendukung, ada teman-teman di sekeliling kita, baik di sekolah, kampus, atau kantor, yang menanti kita untuk bercengkrama, berbagi suka-duka, atau sekadar kongkow bersama. Ada begitu banyak hal yang bisa membuat kita bersyukur setiap kali kita diberikan kesempatan membuka mata di pagi hari. Namun, jika kembali ke pertanyaan awal tadi, yaitu apa yang kita dambakan, mungkin butuh beberapa waktu untuk memikirkannya. Merujuk kepada KBBI, kata mendambakan (akar kata: damba) berarti sangat ingin, rindu, bukan sekadar keinginan saja. Ada sebuah keinginan yang sangat kuat. Jadi, pertanyaan mengenai apa yang kita dambakan setiap kali kita bangun di pagi hari bukanlah suatu pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri beberapa kisah besar dan membahas mengapa mendambakan perlu ada di dalam diri kita dan apa yang semestinya menjadi kedambaan kita sebagai orang Kristen.
The Great Awakening yang pertama, sekitar tahun 1730-1740an, adalah suatu kisah besar di dalam sejarah Amerika dan Eropa. Dua tokoh besar yang muncul adalah George Whitefield di Inggris dan Jonathan Edwards di Amerika Utara. George Whitefield (1714-1770) mulai berkhotbah di area terbuka justru setelah dia mendapatkan penolakan berkhotbah di dalam gereja dari penatua gereja-gereja setempat. Penolakan yang demikian tidak membuat Whitefield mundur apalagi merasa rendah diri. Desakan di dalam dirinya untuk berkhotbah dan memanggil orang banyak kepada pertobatan dan konversi lebih kuat dari penolakan yang diterimanya. Whitefield tercatat berkhotbah kepada massa yang besar, bahkan sampai 30.000 orang yang mendengarkannya di dalam satu kali khotbah, yang ketika itu belum ada sound system atau teknologi pengeras suara. Whitefield dikenal dengan cara berkhotbah yang ekspresif dan emosi yang hidup. Setelah banyak melakukan khotbah kebangunan di Inggris, Skotlandia, dan sekitarnya, dia pergi ke Amerika pada tahun 1739 untuk melakukan hal yang sama.
Di belahan dunia yang lain, Amerika, yang pada waktu itu masih merupakan koloni Inggris, dibangkitkan seorang revivalist yaitu Jonathan Edwards (1703-1758) yang gaya berkhotbahnya tidak terlalu ekspresif seperti George Whitefield. Dia cenderung menulis teks khotbah dengan baik lalu membacakannya di dalam gereja. Dia tidak pernah berkhotbah di area terbuka, hanya di dalam gereja atau dalam pertemuan publik di dalam ruangan. Edwards tidak menggunakan banyak gerakan teatrikal, namun intonasinya dalam membaca naskah khotbah begitu baik dan mendalam, sehingga salah satu khotbahnya yang terkenal “Sinners in the Hands of an Angry God” dapat membuat orang yang mendengarnya pada saat itu di Enfield, Connecticut merasakan gambaran kengerian berhadapan dengan Allah yang murka.
Kisah revival seperti itu tidak hanya baru muncul pada abad ke-18 saja. Tuhan sudah memunculkannya pada awal abad pertama. Sepuluh hari setelah Yesus terangkat ke surga, terjadi sebuah revival yang pertama dan besar di dalam sejarah kekristenan. Waktu itu tercatat 3.000 orang yang mendengarkan khotbah Petrus kemudian memberi diri mereka untuk dibaptis (Kis. 2: 41). Bagaimana bisa? Pentakosta hanya berselang lima puluh hari dari kebangkitan Yesus, sedangkan berita tentang Yesus bangkit masih simpang siur. Para imam dan tua-tua Yahudi menyuruh serdadu-serdadu yang menjaga makam Yesus untuk bersaksi bahwa murid-murid telah mencuri jasad Yesus (Mat. 28:11-15). Di sisi lain, dalam rentang waktu 40 hari menuju kenaikan, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dengan total jiwa yang melihat Yesus bangkit berjumlah sekitar 500 orang (1Kor. 15:6). Sedangkan pada hari Pentakosta, jumlah murid-murid yang menantikan di ruang atas berjumlah 120 orang. Bagaimana mungkin dalam waktu yang hanya berselang sepuluh hari dapat terjadi lonjakan orang menjadi Kristen begitu besar? Ya, sangat mungkin. Karena hal itu telah terjadi di dalam sejarah dan bukan kisah fiksi belaka atau cerita heroik semata.
Namun, apakah kisah-kisah di atas hanya sebatas kisah bersejarah saja yang telah berlalu? Apakah mungkin kisah tersebut dapat terjadi juga pada zaman kita saat ini? Apakah kita boleh mendambakan kisah besar seperti itu muncul di masa yang serba digital ini di mana pertemuan fisik sudah kalah dengan pertemanan di media sosial? Kita dapat menghitung berapa sedikitnya dan siapa saja yang kita temui secara fisik. Tetapi ribuan teman di dunia maya atau followers yang tidak terhitung jumlahnya tidak mampu kita kenali satu persatu atau bahkan kita tidak tahu apakah jumlah tersebut adalah nyata atau banyak fake account. Sebagai catatan, penulis tidak sedang mengatakan bahwa peristiwa turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta akan dapat terulang kembali. Penulis mengerti dengan jelas bahwa hal itu terjadi hanya sekali untuk selamanya, yang penulis maksudkan adalah peristiwa revival, di mana Tuhan menggerakkan hati umat-Nya kembali kepada-Nya. Tuhan bekerja di dalam setiap orang yang dikehendaki-Nya di waktu yang relatif bersamaan dan menyatukan mereka menjadi suatu perkumpulan orang-orang kudus.
Mari kita menelusuri cerita di dalam Kisah Para Rasul dan kemudian menarik prinsip untuk konteks kita saat ini. Pertama, kita menemukan bahwa bahwa revival adalah kehendak Tuhan. Kisah Para Rasul 1:8 dengan jelas mengatakan bahwa kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Pernyataan Tuhan menghendaki kita untuk menjadi saksi-Nya juga ditemukan di dalam Amanat Agung (Mat. 28:19-20). Ini adalah dasar utama dari revival. Tuhanlah yang menghendaki pemberitaan Injil kepada banyak orang. Tuhan yang menuntut murid-murid-Nya mengabarkan berita ini sampai ke pelosok daerah. Mendambakan kebangunan besar adalah kehendak Tuhan dan juga panggilan kita sebagai orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kita dapat mendasari keinginan kita kepada kesempatan berbagian melihat Tuhan menggenapi kehendak-Nya di masa ini. Jadi, kedambaan kita bukanlah hasil dari kumpulan keinginan-keinginan kita sendiri, tetapi dari pengetahuan dan respons kita akan apa yang Tuhan kehendaki.
Kedua, kita menemukan di dalam ayat yang sama bahwa kedambaan kita adalah pekerjaan Roh Kudus. Tuhan yang menghendaki kita berbagian di dalam Amanat Agung juga memberikan kuasa melalui Roh Kudus agar kita dapat bersaksi tentang Yesus. Di dalam kebangunan besar, pekerjaan dari Roh Kudus juga sangat besar. Roh Kudus yang membangkitkan orang untuk mau melayani, Dia yang memberikan bijaksana dan kuasa kepada pengkhotbah untuk dapat menyampaikan firman dengan penuh kuasa, Dia juga yang bekerja di dalam hati pendengar untuk dapat mendengar dan merespons panggilan Injil. Tanpa pekerjaan Roh Kudus, bagaimana 3.000 orang dapat bergerak, berkumpul dan mendekati para rasul dan murid-murid, dan mendengarkan Petrus berkotbah? Atau bagaimana 30.000 orang mau datang berkumpul di area terbuka mendengarkan George Whitefield atau ratusan orang dapat menangis di tengah-tengah khotbah Jonathan Edwards? Kedambaan kita akan adanya kebangunan yang besar juga merupakan pekerjaan Roh Kudus.
Ketiga, respons dari orang yang mendapat kebangunan rohani setelah mendengar khotbah Petrus adalah memuji Tuhan (Kis. 2:47, 10:46). Tujuan dari kebangunan besar adalah membawa kembali arah hati manusia kepada yang seharusnya, yaitu memuji Tuhan. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia tidak lagi mencari Tuhan yang sejati, apalagi memuji dan memuliakan Tuhan. Kebangunan besar adalah upaya Allah untuk menarik manusia dari seteru Allah menjadi penerima belas kasihan-Nya.
Dari ketiga hal di atas, Roma 11:36 menyimpulkan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Ketika kita mendambakan kebangunan besar, kiranya ayat inilah yang menjadi prinsip yang kita pegang di dalam hati kita, apa yang mendasari, mengapa kita mendambakannya, dan bagaimana kita mendambakannya. Ketika kita berbagian di dalam pekerjaan Tuhan yang besar, kita akan makin didorong oleh rasa syukur yang besar untuk memuliakan Tuhan.
Tuhan telah melakukan hal besar di dalam sejarah untuk membawa umat pilihan-Nya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, serta hidup kudus di hadapan Tuhan. Tuhan telah membangkitkan orang-orang di berbagai zaman untuk mengambil bagian di dalam pekerjaan Tuhan. Bagaimana dengan kita di zaman ini? Apakah Tuhan juga menggerakkan hati kita untuk berbagian dalam pengabaran Injil-Nya? Adakah engkau dan saya mendambakan kebangunan besar terjadi di zaman kita? Mungkin kita berpikir, “Ah, mana mungkin ada pertemuan massa yang besar di zaman digital ini?” Orang-orang sudah nyaman dengan dunia mayanya sendiri. Jika kita berpikir demikian, kisah di atas hanya kita anggap sebagai sejarah yang telah lalu. Allah kita bukan Allah yang hanya berkuasa di masa lalu. Dia juga berkuasa di masa kini dan masa yang akan datang. Kiranya kita boleh terus memiliki hati dan memupuknya dengan mendambakan akan kebangunan besar terjadi di masa ini. Soli Deo gloria.
Saut Parulian
Mahasiswa STTRII
