Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Kehidupan Kristen
Saint Luke paints Mary the Virgin

Peperangan Kosmik di dalam Injil Lukas

24 April 2026 | Pieter Stefano 8 min read

Ketika kita membaca Alkitab, kita pasti tidak akan asing lagi dengan peperangan, terutama ketika membaca kitab-kitab Perjanjian Lama, mulai dari Keluaran, yaitu ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, sampai dengan Maleakhi. Sepertinya bangsa Israel tidak pernah berhenti berperang, terutama pada masa sebelum masuk Tanah Perjanjian sampai dengan zaman raja-raja Israel sebelum pembuangan. Kingdom of God atau Kerajaan Allah adalah tema keseluruhan dari Alkitab, sehingga kita harus melihat bahwa peperangan itu selalu ada dari awal Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Wahyu, bahkan peperangan itu terus berlanjut sampai dengan saat ini dengan bentuk peperangan yang berbeda (tentu masih ada negara yang berperang saat ini). Orang Kristen zaman sekarang ini jarang merasa berada di dalam peperangan yang tadi disebutkan, yaitu peperangan rohani. Kehidupan Kristen sering kalah karena tidak sadar sedang berada di dalam peperangan rohani. Maka dari itu, kita sebagai orang Kristen harus mengerti bahwa kehidupan Kristen sejak awal adalah peperangan yang tidak ada henti sampai pada akhirnya, yaitu ketika Tuhan kita Yesus Kristus datang kedua kalinya.

Salah satu bentuk peperangan yang akan dibahas di sini adalah cosmic war atau peperangan kosmik, yang terjadi sejak awal Kitab Kejadian, yaitu setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Kejadian 3:15, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya;keturunannya akan meremukkan kepalamu,dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Bahwa akan ada peperangan terus menerus antara keturunan perempuan dan keturunan ular. Narasi ini terus berjalan di dalam sepanjang Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru, tetapi artikel ini akan memfokuskan hanya di dalam Injil Lukas saja, di mana keturunan ular, yaitu Iblis, berusaha menggagalkan kemenangan keturunan perempuan, yaitu Sang Mesias. Iblis berupaya mengagalkan rencana penebusan Sang Mesias, tetapi kita akan melihat bagaimana Tuhan bekerja di dalam setiap peristiwa ini.

Mari kita melihat peristiwa-peristiwa di dalam Kitab Lukas, bagaimana Iblis bisa memakainya untuk menggagalkan rencana penebusan, dan kita akan melihat bagaimana respons yang terjadi di dalam setiap peristiwa.

Perawan Maria mengandung dari Roh Kudus (Luk. 1:26-38)

Malaikat Allah, yaitu Gabriel, disuruh untuk pergi ke Nazaret di Galilea untuk bertemu dengan seorang perawan yang bernama Maria. Maria sudah bertunangan dengan seseorang bernama Yusuf dari keluarga Daud. Untuk melihat bahaya yang mungkin terjadi, kita harus melihat konteks pernikahan orang Yahudi. Pernikahan orang Yahudi terdiri dari dua langkah; yang pertama adalah adanya pertunangan formal yang disertai dengan kontrak dan juga membayar mahar, lalu setahun kemudian mereka baru menikah (NIV Application Commentary Luke, Darrell Book, 57). Maka, sebenarnya mereka seperti sudah menikah secara status, mereka harus menjaga kesetiaan dan tidak boleh berzinah. Namun, di dalam periode satu tahun ini, sang perempuan masih harus tinggal bersama orang tuanya. Apa yang menjadi masalah? Kita harus juga melihat hukum negara di dalam hukum perkawinan yang tertulis di dalam Ulangan 22:20-24, di mana dikatakan bahwa jika perempuan yang sudah bertunangan tidak didapati tanda keperawanannya, maka perempuan itu bisa dibawa ke depan rumah ayahnya dan orang sekotanya harus melempari dia dengan batu. Gambaran akan hal ini mungkin bisa kita lihat di dalam Kitab Matius yang memperlihatkan Yusuf karena baik hatinya mau menceraikan Maria dengan diam-diam dan tidak menuduh Maria kepada orang tuanya. Namun, kalau kita melihat Kitab Lukas, Maria sudah bersiap akan hal ini. Dia mengetahui risiko yang mungkin terjadi pada dirinya. Bagaimana jika Yusuf menuduh Maria dan melaporkan kepada orang tuanya, bagaimana jika orang tuanya tahu, bagaimana kalau para pemuka agama yang memegang ketat hukum Yahudi tahu? Bukan hanya dirinya dan keluarganya yang dipermalukan, tetapi kehilangan nyawa juga mungkin terjadi. Dengan mengetahui semua risiko itu, malaikat Gabriel memberitahu bahwa Anak yang dilahirkannya harus dinamai Yesus, akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang Maha Tinggi. Tuhan Allah akan memberikan takhta Daud kepada-Nya. Malaikat juga mengatakan bahwa Roh Kudus akan turun ke atas Maria dan bahwa Anak yang dilahirkannya itu kudus dan akan disebut Anak Allah. Kita bisa belajar respons Maria di dalam ayat 38: Kata Maria, “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Ia percaya Tuhan akan memimpin dan menyertai. Kita bersyukur akakn respons Maria ini, sehingga Juruselamat kita Tuhan Yesus bisa lahir dan datang ke dunia. Mungkin konflik ini bisa terlihat lebih jelas kalau dilihat dari sisi Yusuf seperti di dalam Kitab Matius, bahwa jika Yusuf menuduh Maria sudah tidak perawan, Maria akan dibunuh dan anak dalam kandungannya juga tidak bisa dilahirkan.

Maria harus pergi ke Betlehem ketika sudah mengandung (Luk. 2:1-5)

Maria di dalam kondisi yang sudah hamil beberapa bulan harus menempuh perjalanan jauh ke Betlehem. Pada masa itu, perjalanan sering kali dilakukan dengan berjalan kaki atau mungkin dengan keledai. Jarak yang mereka harus tempuh menurut Baker Exegetical Commentary of the New Testament adalah sekitar 90 mil atau 144 km. Jika menaiki keledai, perlu waktu 30-45 jam. Jika berjalan kaki 3 km per jam, maka perlu 48 jam. Terlebih dengan kondisi Maria sedang hamil, perjalanan tidak akan secepat itu dan kemungkinan perlu berhari-hari. Ini adalah perjalanan yang berat, sehingga mungkin sekali menyebabkan keguguran atau masalah lain.

Dua hal ini adalah gambaran kejadian yang mungkin terjadi untuk menggagalkan kelahiran Tuhan Yesus. Jika kita melihat Kitab Matius, maka ada satu tambahan, yaitu kejadian pembunuhan anak-anak di Betlehem yang berumur di bawah 2 tahun dan mengakibatkan Yusuf dan Maria menyingkir ke Mesir.

Sekarang kita akan melihat bagaimana Yesus dicobai dan juga hal-hal yang terjadi di mana Iblis berusaha menggagalkan misi yang harus dikerjakan oleh Tuhan Yesus.

Pencobaan di Padang Gurun (Luk. 4:1-13)

Iblis berusaha mencobai Yesus tiga kali dengan motif menantang apakah Yesus sungguh Anak Allah yang berkuasa, sehingga dalam tantangan Iblis yang pertama dan kedua dikatakan, “Jika Engkau Anak Allah…” Hal ini dilakukan Iblis untuk menantang Yesus agar Dia tidak tunduk kepada Bapa dan memberontak kepada Bapa-Nya. Jika di dalam hal ini Yesus gagal, maka tidak mungkin Yesus bisa menjalankan hal yang lebih berat, yaitu mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib. Pencobaan yang dilakukan kepada Yesus ada tiga hal dan semua adalah paralel dengan bangsa Israel. Yesus berpuasa 40 hari melambangkan orang Israel di padang gurun selama 40 tahun. Pencobaan pertama adalah tentang mengubah batu menjadi roti, dan kita melihat respons Yesus di ayat 4. Ini paralel dengan Ulangan 8:3, yaitu ketika Tuhan memelihara orang Israel di padang gurun dengan roti manna. Pencobaan kedua adalah tentang ajakan untuk menyembah setan dan tidak tunduk kepada Bapa, dengan janji segala kuasa dan kemuliaan akan diberikan kepada Yesus. Sekali lagi Yesus membalasnya dengan mengutip dari Ulangan 6:13, yaitu harus menyembah kepada Allah saja, tidak boleh kepada yang lain. Kita juga harus sadar bahwa Iblis tidak pernah diberikan segala kuasa dan kemuliaan, sehingga dia tidak bisa memberikannya kepada kita. Iblis adalah bapa segala dusta, sehingga segala hal yang Iblis tawarkan hanyalah tipu daya. Yang ketiga, Iblis tidak lagi memakai frase “jika Engkau Anak Allah”. Kali ini Iblis mengutip dari Mazmur 91:11-12. Kita harus berhati-hati bahwa Iblis pun mungkin memiliki pengetahuan tentang Alkitab, tetapi Yesus tahu bahwa Iblis mencoba menguji tentang penjagaan Bapa. Maka Yesus sekali lagi mengutip dari Ulangan 6:16, yang mengatakan: “Jangan mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Mara.” Ini merujuk pada peristiwa orang Israel bersungut-sungut ketika tidak ada air yang bisa diminum. Tiga kali orang Israel dicobai dan gagal dan tiga kali juga Tuhan Yesus dicobai dan tidak gagal. Kalau Yesus sekali pun saja gagal dan tidak percaya akan pemeliharaan Bapa-Nya, maka Kristus tidak mungkin bisa menanggung hal yang lebih berat lagi, yaitu mati di kayu salib. Namun Kristus menang atas godaan Iblis dan terus setia mengerjakan tugas dari Bapa-Nya.

Taman Getsemani (Luk. 22:39-46)

Di dalam bagian ini, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk berdoa agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Ini adalah doa terakhir dan momen sebelum Yesus ditangkap. Di dalam segala keletihan pelayanan, Yesus selalu berdoa kepada Bapa-Nya (Luk.6:12). Yesus tetap berdoa kepada Bapa-Nya terutama di dalam momen terakhir ini karena cawan yang begitu berat. Malaikat menampakkan diri dan memberikan kekuatan. Yesus sangat susah, tetapi Dia mengatakan, “Janganlah kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak Bapa yang jadi.” Ini menunjukkan kerelaan di dalam menjalankan kehendak Bapa. Yesus tidak gagal di dalam hal ini, tidak jatuh ke dalam pencobaan, karena Ia terus berdoa dan percaya kepada Bapa sehingga rencana kekal Bapa bisa terjadi, sedangkan murid-murid-Nya yang tidak berdoa pada waktu itu jatuh ke dalam pencobaan. Mereka semua tidak lama lagi menyangkal Yesus.

Tantangan dari orang ketika Yesus disalib untuk menyelamatkan diri-Nya (Luk. 23:33-43)

Mari kita lihat ayat 35, 37, dan 39. Mereka menghina dan menantang Tuhan Yesus untuk menyelamatkan diri-Nya. Hinaan dan tantangan yang pertama adalah untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias, orang yang dipilih Allah. Tantangan yang kedua adalah tentang Yesus sebagai Raja orang Yahudi. Tantangan yang ketiga sekali lagi menantang apakah Yesus adalah Mesias. Yesus ditantang tiga kali untuk menyelamatkan diri-Nya, tetapi Yesus tahu bahwa Dia harus mati untuk bisa menyelamatkan orang yang percaya kepada-Nya. Bisa dilihat bahwa Iblis menggoda orang-orang yang menghina Tuhan Yesus dan mereka jatuh. Namun Yesus di dalam ketiga tantangan ini diam saja dan tidak merespons orang-orang itu, karena Yesus tahu bahwa inilah yang harus Ia kerjakan. Yesus setelah itu mati dan pada hari ketiga Dia bangkit membuktikan Dia menang atas kematian, dosa, dan juga maut, sehingga Iblis dikalahkan di dalam peperangan kosmik ini, seperti yang dikatakan di dalam Kejadian 3:15. Iblis sudah dikalahkan dan kuasa Iblis jauh berkurang saat ini, tetapi ketika Yesus datang untuk yang kedua kalinya, Iblis akan dikalahkan secara final. Di dalam waktu penantian ini, kiranya kita bisa belajar dari peristiwa-peristiwa yang ada untuk selalu mempercayakan hidup kita kepada pemeliharaan Tuhan. Jangan kita sekali pun percaya kepada Iblis yang berusaha menipu dengan menawarkan yang terlihat menarik padahal semua itu adalah dusta. Kiranya kita bisa belajar dari Yesus untuk melawan Iblis dengan memakai kebenaran, yaitu firman Tuhan, melawan Iblis seperti Yesus di padang gurun dan juga berdoa senantiasa kepada Bapa untuk memberi kita kekuatan untuk melawan godaan Iblis.

Pieter Stefano
Mahasiswa STTRII

Tag: Iblis, Lukas, Maria, Peperangan, Rohani, yesus

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII