Februari 2018

Salam setia pembaca PILLAR,

Artikel “Faithfulness in Ministry” dibuka dengan sebuah pernyataan “Kaum muda sering kali dilihat sebagai bagian penting dari
sebuah masyarakat. Mereka dianggap berpotensi karena mereka adalah generasi penerus dari para pendahulu mereka.” Sedangkan artikel “Siapakah Pemuda Reformed Injili” seakan2 memberikan pertanyaan lanjutannya. Artikel “Which Instrument Should I Use?” menyatakan bahwa setiap instrumen memiliki karakternya masing-masing. Demikian juga setiap artikel dalam edisi ini seolah-olah ingin menawarkan jawaban yang beraneka-ragam terhadap pertanyaan tersebut. Resensi buku “Living in the Gap between Promise and Reality” seakan lebih ingin menjawabnya dengan menyodorkan pergumulan hidup dan iman Abraham. Kita sebenarnya tidak layak dipanggil menjadi pemuda Reformed Injili, namun darah Kristus yang adalah “Satu atas Semua”melayakkannya. Maukah kita sekarang berjuang untuk membesarkan nama-Nya?