Semua orang besar atau kecil, memiliki naluri untuk menguasai sesamanya. Tuhan memang
memberikan hak istimewa kepada manusia untuk berkuasa atas alam, tetapi kuasa ini
diperluas oleh manusia untuk menguasai sesamanya manusia, bahkan manusia hendak
menguasai Allah. Tuhan memberikan 10 Perintah, tetapi manusia menjadikannya “10 Milyar
Perintahku”. Segala sesuatu harus mengikuti “kebenaran” yang aku ciptakan, bahkan Tuhan
pun harus sesuai dengan ide yang aku tetapkan bagaimana Tuhan itu seharusnya. Semua
orang menentukan kebenarannya sendiri dan menganggap kebenarannya adalah kebenaran
mutlak.
Semua kebenaran adalah milik Allah (All truth is God’s truth). Allah adalah Kebenaran
(I am the way, the truth, and the life). Kehendak Allah (God’s will) yang harus jadi
di dalam dunia ini karena bumi dan segala isinya diciptakan oleh Allah (This is my Father’s
world). Tetapi kita menjadikan dunia ini adalah duniaku (my world), kehendakku (my
will) yang harus jadi, aku akan murka ketika kehendakku tidak ditaati (my truth). Singkat
kata, kita berlaku seakan-akan kita adalah “tuhan” (I am god).
Berhentilah dan perhatikanlah bagaimana kita menghidupi hidup kita. Kita bukan Tuhan,
bukan kehendak kita yang jadi di muka bumi ini, bumi ini bukan milik kita. Kita ditempatkan
di sini oleh Tuhan, untuk menjadi gambar dan rupa Dia, yang seharusnya memancarkan
kemuliaan Dia yang kekal, bukan mengusahakan kemuliaan diri yang palsu. Berhati-hatilah
jangan sampai kita terlena ketika Tuhan diam. Waspadalah jangan sampai hidup kita berkata
“Di manakah engkau, ya Tuhan? Engkau tidak melihat dan tidak tahu apa yang terjadi di
sini.” Waspadalah, Tuhan mengetahui apa yang kita lakukan di kamar yang terkunci. Dia
tahu apa yang kita katakan bahkan ketika mulut kita tidak bergerak. Apakah 10 Milyar
Perintahku tidak bertentangan dengan 10 Perintah Allah? Apakah kebenaran yang aku
jalankan adalah kebenaran Allah? Jangan sampai murka Tuhan yang dahsyat menanti kita di
pengujung hidup ini.
Marilah kita seperti Daud yang berdoa, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, uji
aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di
jalan yang kekal” (Mzm. 139:24).