Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong. Roh
Allah melayang-layang di atas permukaan air. Sesudah itu, pada hari yang kedua, Allah
memisahkan air yang di atas bumi dan di bawah bumi dan menamainya cakrawala. Sesudah
itu, pada hari yang ketiga, Allah memisahkan air lagi dan mengumpulkannya pada suatu
tempat dan menamai kumpulan air itu laut dan yang kering itu darat.
Air menjadi sumber kehidupan manusia dan penyusun utama dari bumi ini. Kehidupan
manusia yang paling pokok seperti minum, menyiram tumbuhan, memasak, mencuci, dan
mandi semuanya menggunakan air. Tidak heran, sejak awal peradaban manusia mendewa-
dewakan air. Peradaban manusia hanya bisa berkembang jika ada air sehingga peradaban
manusia tertua berada di sekitar sungai besar. Sumeria di Mesopotamia berkembang oleh
Sungai Efrat dan Sungai Tigris, Mesir berkembang oleh Sungai Nil, Mohenjodaro dan
Harappa di India berkembang oleh Sungai Indus dan Sungai Gangga, China berkembang oleh
Sungai Yang Tze dan Sungai Huang Ho. Sungai besar di Amerika seperti Amazon, di Eropa
seperti Danube, dan di Jawa seperti Bengawan Solo juga memiliki kisah yang mengakar
dalam masyarakat setempat. Sungai besar dan akses ke samudera juga memungkinkan
berkembangnya pelabuhan besar untuk perdagangan yang memperkembangkan kota-
kota besar di dunia sebelum adanya minyak dan pesawat terbang. Tidak heran, kejayaan
sumbangsih air dan kelautan masih terlihat di beberapa pelabuhan besar dunia seperti New
York, Shanghai, Singapore, Hong Kong, dan lain-lain. Selain itu, kota pelabuhan air atau
yang dilalui oleh sungai jika ditata dengan baik akan memberikan keindahan tersendiri.
Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia memiliki Jakarta, Surabaya, Palembang, Makassar,
Manado, Ambon, Sorong, Batam, dan lain-lain, dan merupakan salah satu negara kepulauan
terbesar di dunia dan pernah dikenal sebagai kerajaan maritim yang ditakuti. Kekuatan kota
pelabuhan juga disertai tantangan tersendiri karena rawan kebanjiran jika tidak memiliki
pengelolaan yang bijaksana. Sampai sekarang miliaran rupiah di Jakarta masih dihanyutkan
oleh banjir tahunan yang meskipun hujan itu membawa langit biru tanpa polusi bagi ibukota.
Banjir, polusi, dan kemacetan merupakan tiga masalah utama yang dihadapi sebagian kota
berkembang, bukan hanya di Jakarta, tapi di seluruh dunia, karena ledakan penduduk dan
urbanisasi besar-besaran. Tanpa pendidikan pola pikir untuk keterbukaan dan perencanaan
kota yang matang (pengetahuan), rasa keadilan dan tanggung jawab (keadilan), serta jiwa
integritas dan disiplin masyarakat (kesucian) maka masalah ini tidak dapat dipecahkan.
Kebudayaan manusia tidak akan dihancurkan oleh air bah lagi dari Tuhan, tetapi jangan-
jangan kebudayaan manusia dihancurkan dari dalam, dari banjir yang ditimbulkan oleh
manusia itu sendiri. Bagaimanakah kualitas manusia Indonesia dapat ditingkatkan?
Kesulitan yang dihadapi para nabi di Perjanjian Lama pada waktu bencana itu tiba, bangsa
Israel mengira itu adalah masalah politik saja dan tidak melihat rencana Allah atas mereka.
Tidak melihat rencana dan intervensi Allah di dalam kehidupan umat perjanjian-Nya.
Bagaimana dengan kita? Biarlah kita semua mengingat pemulihan kemanusiaan kita di dalam
Kristus.
Biarlah sebagai masyarakat Indonesia, kita memupuk rasa takut akan Tuhan yang adalah
permulaan pengetahuan dan hikmat sehingga kita mengenal Allah Pencipta yang teratur.
Biarlah kita memupuk rasa keadilan dan tanggung jawab sebagai pengelola lingkungan yang
mendapat mandat dari Allah Tuan kita. Dan biarlah kita memelihara hati yang lurus dan suci
sehingga kita dapat melihat Allah kudus dan memancarkannya di dalam kehidupan kita.
Karena manusia dicipta dengan potensi pengetahuan, rasa keadilan, dan kesucian hati. Dan
pengetahuan, keadilan, serta kesucian itulah yang ada pada manusia baru oleh penggenapan
keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus di kayu salib dan karya Roh Kudus di dalam hidup
kita masing-masing. Amin.