Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Berjalan Bersama Tuhan: Melewati Pencobaan Puji-Pujian Sia-Sia (4)

Sesudah berbulan-bulan melewati pandemi dan merenung di tempat kita masing-masing, ada delapan artikel mengenai pandemi. Sesudah itu, pada artikel ke-9 dan seterusnya, kita memasuki seri Ars Moriendi: seni mempersiapkan orang menghadapi kematian:
9. Mengenal Tuhan: Injil dan Kuasa Pengampunan-Nya[9]
10. Berjalan Bersama Tuhan: Melewati Pencobaan Iman[10]
11. Berjalan Bersama Tuhan: Melewati Pencobaan Keputusasaan[11]
12. Berjalan Bersama Tuhan: Melewati Pencobaan Ketidaksabaran[12]

Di seri yang kesembilan, kita belajar mengenai Seni untuk Menghadapi Kematian dan kematian memiliki maksud yang baik dan memberikan penghiburan kepada orang-orang yang terpanggil mengasihi Dia. Pada seri yang kesepuluh hingga yang keempatbelas, kita akan kita belajar mengenai, “Berjalan Bersama Tuhan: Melewati Pencobaan.” Pencobaan terhadap Iman, Keputusasaan, Ketidaksabaran, Pujian Sia-Sia, dan Ketamakan.

Ars Moriendi (atau Seni untuk Mati) adalah dua teks Latin sekitar tahun 1415 dan 1450 yang memberikan nasihat mengenai protokol dan prosedur untuk suatu kematian yang baik, menjelaskan bagaimana untuk “meninggal secara baik” sesuai dengan firman Kristen dari zaman Abad Pertengahan akhir. Karya seni ini ditulis di dalam konteks sejarah yang mengalami horor kematian dari Black Death dan konsekuensi gejolak-gejolak sosial yang menyertainya.

Di dalam bagian yang keempat, sesudah pencobaan Iblis terhadap Iman, Keputusasaan, Ketidaksabaran, ada pencobaan Puji-Pujian Sia-Sia:
Iblis mencobai orang yang sakit melalui rasa puas diri pada dirinya sendiri, yaitu keangkuhan rohani. Ini merupakan suatu kebahayaan atau ancaman bagi orang-orang yang beribadah, beragama, atau tidak bercacat. Karena dia tidak dapat mencobai manusia untuk menyimpang dari iman baik dengan keputusasaan atau ketidaksabaran, maka dia menyerang melalui rasa puas dirinya, dan memberikan pikiran kepada manusia, “O, betapa kokohnya kamu di dalam iman, betapa kuatnya di dalam pengharapan, dan betapa tabahnya kamu menolak kelemahanmu. O, betapa banyaknya hal baik yang telah kamu lakukan, sampai kamu haruslah dipuji, karena kamu tidak seperti orang lain yang melakukan banyak sekali kesalahan, tetapi meskipun demikian mereka telah memasuki kerajaan sorga hanya dengan mengerang kesakitan. Oleh karena itu, kerajaan sorga tidak dapat menolak kamu karena kamu telah bertanding secara benar. Oleh karena itu, terimalah mahkota yang telah disediakan bagimu dan kamu akan mendapatkan kursi yang lebih baik dari yang lain.” Melalui hal-hal seperti inilah Iblis bekerja keras menimbulkan kesombongan dalam hati manusia atau rasa puas diri di dalam dirinya.

Hal-hal seperti ini haruslah dihindari, pertama-tama karena manusia dijadikan mirip si jahat. Melalui kesombongan sajalah Iblis itu ada dari yang tadinya malaikat. Kedua, karena melalui hal inilah manusia menghujat, karena sesuatu yang baik yang dia miliki berasal dari Allah, namun dia anggap sebagai dari dirinya sendiri atau terlalu berani mengira itu dari dirinya sendiri. Ketiga, karena dia akan menjadi sangat berpuas diri dan hasilnya dia akan terkutuk. Agustinus berkata, “Manusia jatuh apabila dia membenarkan diri sendiri dan telah terlalu berani mengira dirinya benar.” Gregory berkata, “Dengan mengingat apa yang telah dia lakukan dan mengangkat tinggi dirinya, dia telah jatuh di hadapan guru kerendahan hati.”

Karena kita tahu dari firman Allah,
“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yak. 4:6)
“Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.” (Mzm. 25:9)
“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk. 14:11)
“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Flp. 2:8)
“Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.” (Zef. 2:3)

Demikianlah Allah mengasihani, membimbing, memberikan hikmat, meninggikan, menjadi teladan dalam kerendahan hati. Dan di masa-masa sulit menghadapi hari TUHAN dan kemurkaan-Nya, kerendahan hati adalah sikap yang tepat, karena mungkin kita akan terlindung dari murka yang dahsyat yang akan datang. Soli Deo gloria. Amin.

Endnotes:
[9] http://www.buletinpillar.org/renungan/mengenal-tuhan-injil-dan-kuasa-pengampunan-nya-1 (Agustus 2020)
[10] http://www.buletinpillar.org/renungan/berjalan-bersama-tuhan-melewati-pencobaan-1 (September 2020)
[11] http://www.buletinpillar.org/renungan/berjalan-bersama-tuhan-melewati-pencobaan-2 (November 2020)
[12] http://www.buletinpillar.org/renungan/berjalan-bersama-tuhan-melewati-pencobaan-3 (Januari 2021)

Lukas Yuan Utomo

Februari 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk BCN 2021 dan NRETC 2021 yang telah dilaksanakan. Bersyukur untuk puluhan ribu anak-anak dan remaja yang mengikuti kedua acara ini. Berdoa kiranya Roh Kudus menyertai mereka dalam pertumbuhan iman mereka, memberikan pengertian akan signifikansi Gereja di dalam dunia ini, dan menyadari besarnya anugerah yang diberikan Tuhan melalui Gereja di dalam dunia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲