,

Bertahan di Dunia Orang Fasik

Mazmur 10
(1) Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-
waktu kesesakan?
(3) Karena orang fasik memuji-muji keinginan hatinya, dan orang yang loba mengutuki dan menista
TUHAN.
(12) Bangkitlah, TUHAN! Ya Allah, ulurkanlah tangan-Mu, janganlah lupakan orang-orang yang
tertindas.
(13) Mengapa orang fasik menista Allah, sambil berkata dalam hatinya: "Engkau tidak menuntut?"
(14) Engkau memang melihatnya, sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya
Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri; 
untuk anak yatim Engkau menjadi penolong.
(17) Keinginan orang-orang yang tertindas telah Kaudengarkan, ya TUHAN; Engkau menguatkan
hati mereka, Engkau memasang telinga-Mu,
(18) Untuk memberi keadilan kepada anak yatim dan orang yang terinjak; supaya tidak ada lagi
seorang manusia di bumi yang berani menakut-nakuti.

Di dalam kehidupan ini tidak ada yang sempurna. Kita melihat ketidakadilan dan
ketidaksalehan di mana-mana. Bahkan tanpa anugerah Tuhan, jika kita melihat ke dalam hati
kita, ketidakadilan dan ketidaksalehan itu ada. Bersyukur karena Tuhan telah melahirbarukan
hati kita sehingga kita dimampukan untuk berbuat saleh, adil, baik, berkenan, dan yang
sempurna. Semua orang sedalam-dalam hatinya mengerti apa itu saleh dan adil tetapi semua
orang juga tahu sedalam-dalam hatinya mereka tidak berdaya. Ada yang akhirnya menyerah
dan otomatis menjadi fasik (tidak saleh) dan lalim (tidak adil). Ada yang berusaha saleh dan
adil di dalam kehidupan lahiriahnya meskipun mereka tahu bahwa batin mereka pun tidak
100 persen bersih dari kefasikan dan kelaliman.

Biasanya di dalam masa kesesakan (ay. 1) ketika Allah terasa berdiri jauh-jauh maka batin
kita diuji: apakah kita menjadi fasik (ay. 3) atau tetap berjuang berjalan di dalam jalan orang
saleh. Orang di sekitar kita yang sudah menyerah kepada kenyataan dan menikmati
kefasikannya sendiri menjadi ancaman, gangguan, dan rongrongan bagi kesejahteraan dan
ketenangan hidup kita. Mereka tidak lagi takut kepada Tuhan dan bahkan ada yang terang-
terangan menista Tuhan (ay. 3, 13). Bagaimana kita sebagai Warga Kerajaan Allah dapat
bertahan hidup di dalam kerajaan dunia ini? Kita bersyukur karena ada Allah yang
memberikan diri-Nya dan janji-Nya. Hal ini boleh kita ingat bahwa:
1. Allah kita adalah Allah yang melihat, Dia melihat kesusahan dan sakit hati (ay. 14). 
2. Dia adalah penolong kita dan mengambil kita ke dalam tangan-Nya sendiri (ay. 14).
3. Dia mendengarkan keinginan yang tertindas, menguatkan hati kita, dan memberi keadilan
(ay. 17-18).

Dia melakukan ini semua sehingga pada akhirnya tidak ada lagi yang berani mengancam,
mengganggu, merongrong, atau menakut-nakuti kita lagi. Kita bisa beribadah dengan bebas
kepada Allah dan memberikan rasa takut dan hormat dan sembah sujud dan pujian hanya
kepada Allah saja. Allah yang melihat, menolong, mendengar, menguatkan, dan bertindak.
Segala kemuliaan bagi Allah!