“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah,karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan;dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”. (1Kor. 2:14)
Paulus dalam Surat 1 Korintus mengatakan bahwa manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah sebab bagi mereka itu adalah suatu kebodohan. Lebih daripada itu, manusia duniawi tidak dapat memahaminya, karena itu hanya dapat dinilai secara rohani. Paulus berbicara dalam Surat 1 Korintus tentang salib yang berlawanan dengan hikmat duniawi, sehingga orang-orang duniawi, atau, dengan kata lain, natural, tidak dapat memahaminya. Hanya jika Allah yang mengerjakan maka seseorang dapat mengerti, karena dengan demikian seseorang dapat menjadi manusia rohani dan dapat menilai hal-hal rohani.
Pelayanan kita, seperti penginjilan, seminar, ibadah dan lain sebagainya, adalah hal-hal rohani sebab tujuannya adalah untuk menggenapkan rencana keselamatan Tuhan bagi dunia, atau, dengan kata lain, berkaitan dengan keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan melalui salib, sehingga pelayanan kita mungkin akan disalah mengerti oleh mereka yang belum mengenal Tuhan. Sebagai contoh, bagi mereka yang belum mengenal Tuhan, pekerjaan kita melayani orang lain agar dapat menjadi orang Kristen adalah pekerjaan yang sia-sia, yang hanya dikerjakan oleh mereka yang fanatik terhadap agama. Ketika kita menghadapi kritik demikian terhadap pelayanan kita, sebagai orang Kristen, mungkin saja kita tidak tersinggung atau hanya tersinggung sedikit. Sebab kita mengerti bahwa manusia duniawi yang tidak memperoleh pekerjaan Roh Kudus tidak dapat menilai hal-hal rohani, bukan? Sehingga sangat wajar ketika orang yang kita layani memberikan penilaian yang salah terhadap pelayanan kita. Seringkali penilaian mereka tidak membawa kita kepada situasi ketidaksetujuan, sehingga kita tidak mencoba untuk mendebat mereka, tetapi dengan tetap sabar melayani mereka, sehingga kita dapat tetap melayani mereka tanpa rasa tersinggung, dengan harapan Tuhan bekerja dalam hati mereka. Namun, faktanya adalah seringkali penilaian dari sesama orang Kristen yang telah menjadi manusia rohani lebih sulit diterima. Seringkali penilaian mereka membawa kepada ketidaksetujuan, bukan? Bagaimana kita dapat menanggapi hal ini?
Ketika orang lain sebagai saudara seiman menilai pelayanan kita dan kita tidak setuju akan penilaian mereka, maka kita harus sadar satu hal. Mereka adalah manusia rohani yang dapat menilai hal-hal rohani sebab mereka telah menerima pekerjaan Roh Kudus. Kita harus sadar bahwa mereka capable dalam menilai pelayanan kita, dan kita tidak boleh menyikapi penilaian mereka dengan tidak baik. Pada saat yang sama, ketika kita tidak setuju akan pelayanan mereka, kita juga tidak boleh sembarangan mengeluarkan penilaian yang negatif terhadap mereka atau ungkapan yang tidak setuju akan apa yang mereka kerjakan. Sebab kita semua adalah umat Allah yang dapat menilai hal-hal rohani. Tentu saja kita mungkin salah sebagai manusia yang terbatas yang tidak mahatahu, tetapi, pada saat yang sama, kita harus sadar bahwa sumber pengenalan kita akan hal-hal rohani adalah Allah yang sama.
Dengan demikian, kita harus berhati-hati ketika menilai pelayanan orang Kristen lain, dengan kesadaran bahwa orang Kristen lain juga capable akan menilai hal-hal rohani. Bahkan pada momen-momen tertentu kita harus menunda penilaian kita dan melihat apa yang terjadi ke depannya. Pada saat yang sama, ketika pelayanan kita dinilai oleh orang Kristen lain, kita harus sadar bahwa mereka juga capable akan menilai hal-hal rohani, sehingga kita harus mendengarkan dan menghargai penilaian mereka, baik atau buruk. Kita harus memperhitungkan dengan baik penilaian mereka dan jika memang penilaian mereka benar dan disertai masukan, maka kita harus berubah dan bersyukur kepada Tuhan akan apa yang mereka telah kerjakan. Kita harus charitable dalam disagreement dengan orang-orang Kristen lain, mendengar dengan baik, mencoba mengerti dengan baik, dan merespons dengan baik terhadap penilaian orang lain. Dengan demikian, ketidaksetujuan dapat membawa kebaikan kepada gereja, di mana semua pihak dapat saling melengkapi dengan masukan dan pendapat mereka.
John Tarigan
Mahasiswa STTRII
