Depresi

Siapakah yang belum pernah depresi? Mengapa seseorang bisa depresi? Mungkin karena dia
melihat segala sesuatu dari sudut pandang dia sendiri. Tetapi itu adalah sifat alami manusia.
Manusia menjadi penilai dan penentu segala sesuatu termasuk sesamanya bahkan dirinya
sendiri. Jika hal ini ditarik menjadi ekstrem, memang dapat mengakibatkan depresi, karena
manusia bukanlah Tuhan yang menguasai segala sesuatu. Walaupun manusia terlihat
“menguasai alam”, tetapi sesungguhnya manusia tidak dapat menguasai alam. Apakah yang
dapat menyelamatkan manusia dari dirinya sendiri?

Dalam setiap aspek, kita menyadari adanya kerusakan di mana-mana, baik yang kelihatan
maupun tidak kelihatan. Namun demikian, kita juga masih menyadari adanya keindahan
terselubung di dalamnya. Gugurnya bunga-bunga dari pohon dan memenuhi tanah di
bawahnya, masih memperlihatkan keindahan. Mendungnya langit karena awan gelap masih
mencerminkan kemegahan. Manusia berdosa, yang terus menjadi sasaran dakwaan iblis,
adalah ciptaan Tuhan yang tetap mencerminkan gambar Allah. Iblis menghina kita, tetapi
bagi Allah, kita adalah biji mata-Nya. Dia sudah menuliskan nama kita di telapak tangan-
Nya. Di dalam setiap kerusakan masih ada topangan-Nya.

Janganlah kita berhenti di Jumat Agung, tetapi berjalanlah di Minggu Paskah. Janganlah kita
terus mati di dalam dosa-dosa kita, tetapi hiduplah di dalam kemenangan Kristus. Tinggalkan
dosa dan sengatnya, berjalanlah di dalam pimpinan Roh Kudus. Kita adalah orang-orang
yang diberkati Allah. Janganlah terus menikmati depresimu, tetapi nikmatilah Allah dan
muliakanlah Dia. Jangan biarkan diri yang menjadi penilai dan penentu, tetapi serahkanlah itu
kepada Allah, yang berhak menjadi penilai dan penentu segala sesuatu.

Jadi, di manakah depresi? Tinggalkanlah depresi, bangkitlah di dalam kebangkitan Kristus,
dan terimalah Roh Kudus, yang menjadi hadiah terbesar Kristus bagi kita. Berjalanlah
bersama Roh Kudus setiap hari, langkah demi langkah, detik demi detik, dalam segala hal.
Pastilah kita akan menikmati Dia dan biarlah segala yang bernafas memuji Dia.

Yana Valentina
Redaksi Bahasa PILLAR