Kepergian seseorang yang dicintai menimbulkan perasaan sedih. Kepergian seseorang yang tidak
disukai menimbulkan perasaan senang. Kepergian seseorang yang tidak memiliki relasi yang
signifikan tidak menimbulkan perasaan apapun, baik sedih ataupun senang. Kepergian sesaat dari
seseorang yang dicintai menimbulkan perasaan berharap akan kepulangannya. Kepergian sesaat
dari seseorang yang tidak disukai menimbulkan perasaan takut akan kepulangannya. Kepergian
selamanya (karena kematian) dari seseorang yang dicintai menimbulkan perasaan sedih yang
perih. Kepergian selamanya (karena kematian) dari seseorang yang tidak disukai
menimbulkan perasaan senang yang aman.
“… ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka
sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat sukacita.” (Luk.
24:51-52) Tuhan Yesus meninggalkan murid-murid-Nya di dunia sedangkan Ia sendiri terangkat
(pergi) ke sorga. Kenapa murid-murid sangat bersukacita? Bukankah mereka ditinggal pergi, bahkan
sampai mereka mati pun, Tuhan Yesus belum datang kembali dengan cara yang sama seperti mereka
melihat Dia naik ke sorga (seperti yang dinyatakan para malaikat)?
Ingatkah Anda akan kisah dua orang murid yang sedang berjalan ke Emaus? Kisah dimulai dengan
muka yang muram tetapi diakhiri dengan hati yang berkobar-kobar. Ada apa dalam perjalanan
mereka? Mereka mengerti seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-
nabi! Tuhan Yesus sendiri yang memberikan kuliah intensif itu. Murid-murid mengerti seluruh isi
Perjanjian Lama, bahwa Mesias yang dijanjikan Tuhan Allah telah digenapi. Selanjutnya Tuhan Yesus
menjanjikan: “Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku” (Luk. 24:49) dan “…
ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:20b)
Tuhan Yesus pergi ke sorga, tetapi Ia mengirim Roh Kudus kepada kita, Roh-Nya menyertai kita
sampai akhir hidup kita, bahkan sampai akhir hidup semua orang yang percaya kepada-Nya, terlebih
lagi sampai tidak ada akhirnya. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari penyertaan Tuhan
bahkan kematian sekalipun!
Di dalam tubuh yang kelihatan Dia pergi agar di dalam roh-Nya Dia dapat datang menyertai
kita untuk selamanya. Oleh karena itulah murid-murid sangat bersukacita. Dia pergi namun
sesungguhnya Dia tidak pergi.