Masa muda sering diidentikkan dengan masa di mana kita bisa melakukan segala sesuatu
yang kita like. Kita bukan lagi anak kecil yang berada di bawah otoritas orang tua
secara ketat. Masa muda adalah masa ketika kita merasa bebas dan mampu untuk menunjukkan
siapa diri kita. Masa penuh kreatifitas yang tidak bisa ditahan oleh peraturan, masa yang lebih
baru dari zaman yang sudah lewat, masa yang sesungguhnya yang paling kritis dari semua
masa kehidupan. Apa yang kita like itulah pemicu terbesar segala tindakan kita, bukan
apa yang kita think right. Emosi kita adalah seperti ombak yang besar, yang menghancurkan
segala pertahanan sekuat apa pun. Pikiran yang seharusnya mengontrol keinginan, cenderung
tidak berdaya, ketika keinginan itu sudah menjadi kecintaan. Tidak ada yang dapat menguasai
desire, terlebih jika desire bertemu dengan kesempatan. Itulah bahaya besar masa
muda, yang disadari para orang tua yang sudah melewatinya. Namun mereka tidak berdaya menyadarkan
anak-anak muda, karena anak muda berada di “zaman now” yang jelas lebih keren daripada
“zaman old”.
Jika masa muda kita diisi dengan desire yang baik dan benar, maka kita akan
menikmati masa-masa selanjutnya dengan kepuasan. Tetapi jika kita isi dengan desire hati
kita yang berdosa, maka masa-masa selanjutnya akan dipenuhi dengan penyesalan. Masa muda
bukanlah masa di mana kita bisa mengatakan dengan sesungguh-sungguhnya, “I know what I
like. I know what I want”. Masa muda adalah masa untuk menerima didikan dari orang-orang
bijaksana, masa di mana tanah liat masih basah, masih bisa dibentuk menjadi sesuatu yang
indah dan berguna. Jangan tunggu sampat masa tua, ketika tanah liat itu sudah menjadi kering
dan keras, tidak bisa dibentuk lagi, dan besar kemungkinan menjadi sesuatu yang tidak
berguna.
Oleh karena itu, kitab Amsal, kitab bagi anak muda,
mengatakan,
“… telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, … hikmat
akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu, kebijaksanaan akan memelihara
engkau, kepandaian akan menjaga engkau, supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang
mengucapkan tipu muslihat. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata”.
(Ams. 2:2, 10, 11, 12, dan 3:17)
Kiranya kita mencenderungkan desire hati kita kepada hikmat dan memperoleh kesenangan
jiwa yang memelihara kita, untuk selama-lamanya bahagia dan sejahtera. Apakah yang bisa
kita like lebih dari itu?