Wow! Subscribers, friends, followers elu di media sosial buanyak banget.
Kamu pasti senang, apalagi kamu jadi viral, kamu benar-benar exist, hebat!
Di dalam Taman Eden, Tuhan menerima Adam dan Hawa, Adam menerima Hawa, dan Hawa
menerima Adam. Penerimaan itu hilang ketika Allah meminta pertanggungan jawab Adam,
ketika Adam menyalahkan Hawa, ketika Hawa menyalahkan ular. Sejak mereka diusir dari
Taman Eden, manusia terus mencari penerimaan di mana-mana. Bahkan sampai kebenaran
pun rela dikorbankan demi mendapat kebersamaan, yaitu “We”.
Mungkin kita kurang menyadari bahwa sering kali perbuatan kita didorong oleh perasaan
ingin diterima oleh orang lain. Ketika apa yang kita lakukan mendapat pujian, secara
otomatis kita akan merasa senang terhadap diri kita sendiri, dan akan terpicu untuk semakin
melakukan perbuatan tadi. Sebaliknya, ketika orang lain tidak setuju dengan apa yang kita
lakukan, secara otomatis kita akan kecewa terhadap diri sendiri, dan enggan melakukan
perbuatan tadi. Mengapa perbuatan kita ditentukan oleh penerimaan orang lain? Karena kita
adalah manusia yang pada naturnya membutuhkan penerimaan.
Kita semua sesungguhnya membutuhkan penerimaan yang jauh lebih besar dari yang kita
bisa kejar selama ini. Kita haus akan penerimaan Allah, Yang Menciptakan kita, Yang
Menciptakan langit dan bumi dan segala isinya. Dan herannya, Dia tidak memberikan kita
syarat apa pun demi memperoleh penerimaan-Nya. Tidak seperti sesama kita yang
mensyaratkan banyak hal, bahkan segalanya, sebelum kita diterima menjadi bagian dari
kelompok mereka.
Di dalam beberapa karya Max Lucado, yaitu “You are Special”, “You are Mine”,
“If Only I had a Green Nose”, “The Tallest of Smalls”, “Just the Way You Are”,
dapat disimpulkan bahwa tokoh utama dalam tiap-tiap cerita itu merindukan penerimaan dari orang
lain. Ia ingin sama seperti orang lain yang memiliki kualifikasi yang lebih baik dari dirinya. Tapi
kesimpulan dari karya-karya tersebut adalah, ia bernilai karena Yang Menciptakannya
menerima dia apa adanya. Itulah nilai sesungguhnya dari eksistensinya.
Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? (Gal. 1:10), the LORD will be your
confidence (Ams. 3:26). Apakah Allah (jika mungkin) akan subscribe, follow, like semua
yang kita post di vlog, blog, facebook, instagram, twitter? Marilah kita menerima diri kita
dan sesama kita apa adanya, karena Yang Menciptakan kita semua, menerima kita semua apa
adanya.