,

Dress to Kill or Dress to Live?

Pangan, sandang, papan adalah kebutuhan dasar. Pemerintah di belahan dunia mana pun secara umum akan berusaha menyediakan tiga kebutuhan dasar tersebut bagi warganya. Menariknya, kejatuhan manusia dalam dosa adalah karena “salah makan” yang berakibat kehilangan pakaian kemuliaan dan diusir dari tempat tinggal yang sangat nyaman, mengelana di luar Firdaus. Sebenarnya tiga kebutuhan dasar ini pertama-tama memang disediakan oleh Allah Sang Pencipta. Pemenuhan yang sejatinya dari tiga kebutuhan tersebut hanya didapat melalui kasih karunia Allah.

Untuk edisi kali ini, saya ingin mengajak pembaca yang budiman memikirkan mengenai sandang alias pakaian. Di era industri dan konsumsi serta pencitraan ini, merefleksikan tentang pakaian pasti merupakan hal yang seru (paling tidak menurut saya). Paling tidak dunia fashion mengenal istilah dress to kill.

Pakaian dapat menyatakan identitas seseorang. Identitas profesi misalnya. Seorang guru tidak akan berpakaian seperti model atau artis. Sebaliknya seorang model tidak akan berpakaian seperti seorang rohaniwan. Identitas status sosial – pemilihan model, warna, dan bahan menunjukkan status sosial seseorang. Pakaian juga dapat menyatakan sebuah peristiwa atau situasi yang ada. Para tamu undangan pernikahan sebaiknya tidak memakai pakaian yang menandingi kecemerlangan kedua mempelai. Menghadiri ibadah di gereja sebaiknya berpakaian yang cukup tertutup dan rapi agar tidak mengalihkan perhatian jemaat. Pakaian menghadiri acara kedukaan juga berbeda, dan seterusnya. Pakaian juga bisa digunakan untuk membuat pernyataan. Memakai pakaian yang ketat dan sexy untuk menunjukkan bahwa tubuhnya masih singset meski sudah separuh baya, dan seterusnya, dan seterusnya. Singkatnya, pakaian bukan sekadar penutup tubuh.

Di dalam Kitab Suci, pakaian bahkan dapat menentukan hidup mati seseorang. Bacalah perumpamaan Tuhan Yesus mengenai pakaian pesta di dalam Injil Matius 22. Di dalam kisah yang lebih awal – Kejadian pasal 3 – jika Tuhan tidak mengenakan pakaian kulit binatang – yang dikorbankan untuk diambil kulitnya – niscaya Adam dan Hawa tak dapat melanjutkan hidup mereka.

Lebih jauh lagi, Rasul Paulus di dalam surat Efesus pasal 4 menjelaskan tanda-tanda seseorang yang telah mengenakan pakaian kehidupan, pakaian kebenaran dan kekudusan. Seperti telah dijelaskan di atas, gaya berpakaian seseorang menyatakan identitasnya. Mungkin seperti pakaian militer yang memakai atribut-atribut tertentu, demikian pula pakaian kehidupan orang percaya (Ef. 4:24-32).

Setiap kali kita berpakaian, apa yang muncul dalam benak kita? Pernahkah kita meminta kepada Tuhan agar setiap hari kita berpakaian, setiap kali kita diingatkan untuk berdandan dalam kebenaran dan kekudusan Tuhan? Kiranya Tuhan menolong kita.

Ev. Maya Sianturi Huang
Kepala SMAK Calvin