Apa yang terlintas dalam pikiran pembaca ketika mendengar kata “upah”?
Kala masih remaja ada ajaran kakek saya, pendeta gereja Pantekosta, yang sulit saya terima. Ajaran itu disenandungkan dalam syair lagu yang bunyinya, “Kerja buat Tuhan selalu manise. Biar zonder (tanpa) gaji selalu manise.” Serta satu lagi ajaran yang serupa yaitu “upahmu besar di sorga.” Terus selama hidup di bumi ini, mau makan apa?
Kita semua tahu jawaban pertanyaan ini, bukan? Ya, makan nasi, roti, ubi, singkong atau pasta. Masak makan rumput? Padahal padi, jagung, dan gandum termasuk jenis rumput. Bahkan ada beberapa jenis rumput liar yang bisa dimakan dan bernutrisi. Jadi, tetap bisa makan rumput juga, kan?
Dalam hidup yang sementara ini, kita sering berpikir bak bunga rumput. Mungkin karena kemuliaan manusia mirip seperti itu. Kita terlalu cepat puas (baca: cepat puas) dengan hal-hal yang sementara. Padahal Tuhan menjanjikan sesuatu yang melebihi yang fana, upah atau boleh juga disebut sebagai ganjaran (reward) yang tidak hanya melampaui waktu, tapi juga jauh lebih bermutu.
Seperti kata C.S. Lewis, kita terlalu gampang puas. Orang tua menjanjikan pantai berpasir putih yang lembut dan bersih, tapi anak (baca: kita) puas dengan bermain lumpur. Lebih jauh lagi, C.S. Lewis dalam Weight of Glory menyatakan bahwa ada 2 macam ganjaran atau upah yang bisa kita dapatkan. Yang pertama adalah upah alami yang memiliki hubungan natural dengan hal-hal yang pembaca lakukan untuk mendapatkannya. Tapi ada upah yang kedua, yang bisa dikatakan sebagai upah supra-alami. Upah kedua ini tidak memiliki hubungan alami dengan hal-hal yang kita lakukan untuk memperolehnya. Contohnya? Kata Lewis, uang bukanlah ganjaran alami untuk cinta. Itu matre. Seorang jenderal yang berperang untuk mendapat kemenangan bukanlah tentara bayaran, karena kemenangan adalah ganjaran yang diinginkan dari pertempuran – bukan gelar kebangsawanan misalnya.
Dorothy Sayers dalam esainya berjudul Why Work mengatakan bahwa imbalan yang dapat diberikan sebuah pekerjaan adalah kepuasan melihat kebaikan dan kesempurnaan pekerjaan itu. Ini adalah sesuatu yang melampaui materi. Mirip-mirip dengan apa yang diutarakan oleh Lewis di atas.
Ketika Yusuf melayani sebagai budak di rumah Potifar, ia berusaha mengerjakan semua tugasnya dengan baik sampai-sampai membuat Potifar sadar bahwa Tuhan menyertai Yusuf! Lalu apa yang Yusuf dapatkan sebagai ganjarannya? Kepercayaan yang lebih besar. Artinya? Silakan pembaca pikirkan jawabannya karena Alkitab sudah menyediakannya.
Terakhir mari kita lihat perumpamaan hamba dan tuan di Lukas 17:7-10. Apakah upah seorang hamba yang telah berjerih lelah melayani tuannya? Sebuah pengakuan! Pengakuan apa? “Kami sudah melakukan kewajiban kami, meski kami adalah hamba-hamba tak berguna.” Cobalah merenungkan pernyataan ini. Ada 2 hal yang disiratkan di situ yang menunjukkan proper attitude dan sekaligus upah seorang hamba yang baik.
Kiranya Tuhan menolong kita semua untuk dapat berkata, “Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.” (Mazmur 123:2)
Soli Deo Gloria
Vic. Maya Sianturi Huang
Wakil Koordinator Bidang Pendidikan Sekolah Kristen Calvin
