Ganjil Genap

A: Tol lancar begini, kok mobil itu jalannya lambat?
B: Oh, itu karena gangen, Coy. Hari ini tanggal ganjil, mobil dia pelat genap. Jadi dia pelan-
pelan sambil tunggu jam 10.00 supaya bisa keluar di daerah gangen.
A: Pantes, sekarang jam 09.57, dia harus atur biar pas keluar udah jam 10 lewat. Kalau gak
atur timing, dia bisa keliling Jakarta deh. Btw, jam di mobil kita bener kan?
B: Tuh lihat, ada dua mobil yang ketangkep, polisinya nunjuk-nunjuk ke rambu
peringatan gangen. Kalau udah ketemu polisi: Is there forgiveness? No, there is fine.
Abis
Rp 500 ribu deh.

Sejak diberlakukannya sistem ganjil genap (2018), masyarakat Jakarta yang bepergian
dengan mobil pribadi menjadi lebih peka terhadap hari, tanggal, dan jam. Apalagi jika pernah
melihat mobil yang tertangkap polisi karena nekat menerobos atau membuat pelat palsu
masuk daerah ganjil genap.

Bagaimana dengan timing hidup kita? Ketika hidup kita tamat di dunia dan kita berhadapan
dengan Allah, maka: Is there forgiveness? No, there is hell. Pengampunan dan kesempatan
untuk bertobat sudah diberikan selama kita hidup. Sama seperti cerita orang kaya di alam
maut yang memohon agar Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air untuk
menyejukkan lidahnya, namun tidak diberikan. Bahkan jika orang kaya itu diizinkan kembali
dari alam maut untuk memperingatkan saudara-saudaranya, mereka tidak akan diyakinkan.
(Luk. 16:24, 30-31) Kita tidak pernah melihat apa yang terjadi setelah orang mati, kita juga
tidak tahu pasti bagaimana Tuhan menghukum orang berdosa. Zaman dulu, orang
mengaitkan hukuman Tuhan dengan penyakit kusta, cacat fisik, ataupun mandul. Zaman
sekarang, hal tersebut dianggap wajar terjadi. Maka dari itu, moto zaman sekarang adalah
live now, tomorrow no more.

Bagaimana kita harus mengatur timing hidup kita? Ketika Yosua, yang masih muda,
mau dipakai Tuhan untuk membawa bangsa Israel masuk ke Tanah Kanaan, Tuhan
mengingatkannya untuk merenungkan Taurat siang dan malam, supaya ia bertindak hati-hati
sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalanannya akan
berhasil dan ia akan beruntung (Yos. 1:8). Tuhan Yesus akan menghakimi semua orang, dan
tidak ada satu pun kesalahan kita akan luput dari-Nya (Kis. 10:42, Rm. 2:16, Kol. 3:25).
Setan akan mendakwa kita (Why. 12:10), tetapi Tuhan Yesus akan membela kita (1Yoh.2:1-
2) dan menyelamatkan kita (Ibr. 7:25).

Kita tidak mau dikenai sanksi Rp 500 ribu atau kurungan dua bulan, maka kita akan sangat
berhati-hati di daerah gangen. Demikian juga kita harus berhati-hati di dunia ini, karena
kita tentu tidak mau dikurung selamanya dalam api neraka. Marilah kita menghargai anugerah
Tuhan Yesus yang telah menyucikan kita dengan bertekad untuk hidup suci di tahun yang
baru ini.