God, Us, and AI

Dalam sebuah percakapan saat makan malam bersama keluarga seiman, kelompok the Outback, kami sempat berbincang tentang hal-hal yang terkait dengan AI (Artificial Intelligence). Salah satu topik yang dibahas adalah side effect perkembangan AI ke depannya. Sekarang ini saja, para pengembang AI sudah menemukan loop hole. Ada kisah mengenai dua AI yang dicoba untuk saling berkomunikasi. Namun di tengah pembicaraan itu, tiba-tiba kedua AI menggunakan bahasa mesin yang belum dikenal si pembuatnya, sehingga kabel listriknya AI dicopot untuk mengantisipasi hal-hal di luar kendali. Belum lagi masalah aspek hukum dunia virtual yang sampai hari ini masih belum bisa mengikuti perkembangan teknologi yang ada.

Terkait loop hole tadi, para peneliti dan pembuat AI masih belum memiliki jawaban, khususnya mengenai penyimpangan yang ditemukan dalam AI dan kemungkinan AI tidak dapat dikendalikan. Orang Kristen yang terpanggil memasuki dunia AI selayaknya tergelitik untuk ikut memberikan sumbangsih, paling tidak berkontribusi secara sosiologi dan filosofi. Kita sendiri sebagai orang percaya ada perlu ikut merenungkan masalah ini.

Bagi saya, perkembangan AI ini menarik untuk dilihat dari perspektif iman Kristen. Sebagai orang percaya, kita perlu membiasakan diri untuk merefleksikan hal-hal yang terjadi di sekitar kita, konteks kita. 

Perkembangan AI ini tentu terkait dengan natur manusia sebagai gambar Allah yang mendorong manusia untuk terus berkarya karena hal itu juga adalah mandat Ilahi. Sebagaimana Allah mencipta, manusia juga. Saat Allah menciptakan manusia segambar dengan diri-Nya, berarti Allah sudah mengantisipasi risikonya. Namun, Dia tetap menciptakan manusia, bahkan sudah menyediakan rencana bagi segala kerusakan yang akan dibuat manusia karena pemberontakan mereka. Pernahkah Saudara memperhatikan dan merenungkan hal ini?

Tuhan yang sempurna (sembari Saudara dapat mengingat semua atribut Allah), Mahakuasa, dan berdaulat penuh itu, menjadikan kita baik adanya. Tanpa loop hole. Kejatuhan manusia dalam dosa, bukan loop hole. Itu adalah konsekuensi logis penciptaan manusia menurut gambar Allah. Lantas bagaimana dengan AI yang diciptakan manusia? Manusia sudah jatuh dalam dosa, maka logisnya akan ada loop hole dalam AI buatan mereka, dan itu sudah terbukti. Jika AI bisa diprogram untuk memetakan dan meniru pola tingkah laku manusia, apakah tidak mungkin AI juga akan melakukan hal yang sama terhadap keberdosaan penciptanya? Lalu, apakah manusia mempunyai solusinya? Apakah manusia bisa berdaulat penuh atas ciptaannya? 

Mari kita merenungkan apa dan bagaimana respons kita terhadap perkembangan zaman ini! 

Kiranya Tuhan memberikan kita hikmat.

Vik. Maya Sianturi Huang

Wakil Koordinator Bidang Pendidikan Sekolah Kristen Calvin