Untuk segala sesuatu yang berada, ada mulanya. Sejarah manusia dimulai dengan perkataan,
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” maka segala sesuatu menjadi ada.
Keberadaan sesuatu dari tidak ada menjadi ada umumnya dirayakan manusia sebagai
celebration. Kelahiran seorang bayi dirayakan, kelahiran sebuah negara dirayakan,
pernikahan dirayakan. Namun akhir dari suatu keberadaan pun diperingati, kematian seorang
manusia diperingati, bahkan perceraian pun diingat, dan akhir dari sejarah manusia dimulai
dengan perkataan Yesus Kristus “Ya, Aku datang segera!”
Tidak ada akhir yang benar-benar akhir. Akhir dari sesuatu adalah permulaan dari sesuatu
yang baru. Akhir dari suatu pernikahan merupakan awal dari status yang berbeda. Akhir dari
kematian di dunia sementara merupakan awal dari kehidupan di dunia kekal. Kita merayakan
dan memperingati kejadian yang memiliki arti dalam hidup kita. Setiap tahun kita merayakan
hari ulang tahun, hari kita menjadi berada di dalam dunia. Pada saat itu biasanya kita menilai
masa lalu dengan kriteria apa yang sudah kita capai dan memimpikan masa depan dengan
kriteria yang ingin kita peroleh.
Happy birthday, selamat ulang tahun, bernuansa bahagia. Tidak ada yang mengucapkan
Sad birthday, turut berduka untuk ulang tahun. Jika seseorang hidupnya penuh dengan kesulitan
dan kesedihan, mungkin dia tidak akan antusias merayakan ulang tahunnya, bahkan mungkin
juga dia tidak mengingini kelahirannya. Penderitaan mungkin membuat hidup tidak berselera,
namun kesuksesan pun dapat membuat hidup tidak puas. Ulang tahun menjadi berselera jika
hidup diisi dengan hal-hal yang berarti, yang memiliki nilai tak terbatas dan kekal.
Sejarah manusia dimulai oleh Allah Bapa dan diakhiri oleh Allah Anak yang akan memulai
sesuatu yang baru. Marilah hidup hari lepas hari dengan pimpinan Allah Roh Kudus yang
memberikan nilai kekekalan dalam hidup kita, sehingga setiap hari menjadi Happy Birthday.