I-Thou

Apa yang memberikan kepuasan tertinggi bagimu? Bagi yang suka nonton bola, mungkin
menonton semua pertandingan bola seru yang ada; bagi yang suka barang-barang, mungkin
mengoleksi semua barang yang diinginkannya; bagi yang suka bicara, mungkin ngobrol
sepanjang hari dengan siapa pun dan di mana pun. Kepuasan akan diperoleh ketika realitas
menjadi sama dengan pengharapan, atau ketika realitas melampaui pengharapan. Tetapi
hidup lebih sering membuktikan bahwa realitas kurang dari pengharapan. Kita sering
mendengar orang dewasa mengatakan, “Taruhlah mimpimu setinggi langit”. Tetapi Alkitab
mengatakan, “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut
kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa sehingga kamu menguasai diri
menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” (Rm. 12:3)

Martin Buber, seorang theolog dan filsuf Jerman, mengatakan bahwa hidup manusia
menemukan arti dalam relasi. Manusia berelasi dengan dunia dengan mode I-It (Saya-Itu)
dan I-Thou (Saya-Engkau). I-It adalah relasi antara subjek dengan objek, dengan
kontrol dan utilitas. I-Thou adalah relasi antara subjek dengan subjek, dengan hubungan mutualisme.
Di dalam I-It hanya ada monolog, sedangkan di dalam I-Thou ada dialog. Makna hidup manusia
hanya dapat dipuaskan di dalam relasi I-Thou, dan secara sempurna oleh Tuhan yang adalah
Thou yang ultimat.

Dengan demikian momen-momen di mana kita dapat duduk tenang untuk mendengar firman
Tuhan, membaca Alkitab, berlutut untuk berdoa, merenungkan kasih Tuhan, memuji Dia
dengan nyanyian, memberikan persembahan dengan sukacita dan rela hati, memberi kepada
orang lain di mana kita sebagai saluran anugerah Tuhan bagi orang itu, melakukan hal-hal
kecil sekali pun yang memperkenan hati Tuhan, membawa orang lain untuk mengenal dan
mengalami kasih Tuhan, menikmati relasi dengan Tuhan bahkan di saat-saat yang biasa,
menjaga pikiran, emosi, keinginan agar tetap suci, mensyukuri karya-Nya dalam dunia ini,
adalah hal-hal yang sebenarnya memuaskan dan membuat hidup kita bermakna.

Kiranya relasi I-Thou dengan Tuhan setiap hari, menyadarkan kita akan sinar kemuliaan-Nya
yang tidak dapat ditandingi oleh keindahan semu yang dunia tawarkan.