Ibadah Sehari-Hari

Di dalam renungan mingguan PILLAR yang lalu dalam rangka tahun baru Cina, kita mengingat hari
Paskah sebagai tahun baru bangsa Israel. Paskah merupakan peringatan ditebusnya bangsa Israel
keluar dari perbudakan Mesir oleh TUHAN Allah agar mereka dapat beribadah kepada-Nya.

Karena itu, sesudah orang Israel keluar dari Mesir, TUHAN memberikan berbagai macam aturan
untuk menyelenggarakan ibadah melalui Musa yang melihat pola ibadah dari surga tersebut. Para
pembaca yang pernah merenungkan lima kitab pertama (pentateukh) di Alkitab pasti mengenal
kemah pertemuan, tabut perjanjian, mezbah ukupan, kandil, meja roti sajian, bejana pembasuhan,
dan mezbah korban bakaran.

Saya ingin mengajak para pembaca PILLAR untuk merefleksikan sikap ibadah kita di hadapan
TUHAN dari Keluaran 29:38-46 mengenai korban pagi dan petang. Orang Israel diminta untuk
mempersembahkan korban bakaran yang tetap tiap-tiap hari, tetap turun-temurun, dan berbau
harum di hadapan TUHAN di kemah pertemuan. Sebab di sana TUHAN akan bertemu dan berfirman
kepada orang Israel, dan orang Israel akan dikuduskan oleh kemuliaan-Nya. Sudahkah ibadah saat
teduh kita harum dan tetap tiap-tiap hari di hadapan TUHAN dan hati kita senantiasa terarah kepada
TUHAN dari terbit matahari sampai pada masuknya? Apakah ibadah keluarga kita harum dan tetap
turun-temurun di hadapan TUHAN dan pasangan, anak-anak, saudara, orang tua kita senantiasa
berada dalam rahmat hadirat TUHAN?

Kiranya Tuhan Yesus yang mengasihi manusia dan tinggal berdiam di antara kita, yang bersemayam
dalam hati kita dengan Roh-Nya, boleh menguduskan kita. Dan dari sana kita dapat menguduskan
Kristus di dalam hati kita sebagai Tuhan supaya kita dapat melihat Allah dan kita jangan mati!
Sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita! (Baca artikel PILLAR edisi Februari 2013: Gereja Tuhan,
untuk refleksi lebih lanjut)