Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Renungan

Jangan Menghakimi Supaya Kamu Tidak Dihakimi

13 Januari 2026 | Sepdirman Harefe 3 min read

Dalam setiap hubungan, konflik dan ketidakcocokan sering kali tak terhindarkan. Sayangnya, ini kerap berujung pada saling menyalahkan dan menghakimi. Kita sering merasa paling benar dan enggan disalahkan, sehingga cenderung menghakimi orang lain seolah-olah kitalah yang paling sempurna. Padahal, tanpa kita sadari, kita hanya fokus pada kesalahan orang lain tanpa mau mengoreksi diri sendiri.

Fenomena ini bahkan sering terjadi pada hamba-hamba Tuhan. Mereka mudah menegur dan menghakimi jemaat, padahal perilakunya sendiri belum mencerminkan seorang hamba Tuhan sejati. Agar kita tidak salah paham mengenai penghakiman yang seharusnya, mari kita renungkan ajaran Yesus dalam Injil Matius 7:1-5.

Yesus memulai khotbah-Nya di bukit dengan perkataan, “Jangan menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Melalui perkataan ini, Yesus ingin menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk menghakimi atau menyalahkan orang lain. Nasihat ini tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang suka menghakimi sesamanya, tetapi juga kepada murid-murid-Nya.

Namun, bukan berarti Yesus meniadakan penghakiman sama sekali. Dalam Injil Yohanes 7:24, Yesus berkata, “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Ini berarti Yesus mendorong kita untuk menilai dengan adil, tidak hanya berdasarkan apa yang terlihat di luar. Ayat ini menekankan bahayanya menghakimi orang lain berdasarkan penampilan luar atau kesan pertama, tanpa mempertimbangkan situasi sebenarnya.

Yesus mengingatkan kita untuk menghakimi dengan adil, yaitu dengan mempertimbangkan semua faktor tanpa memihak. Mari kita lihat contohnya:

  • Jika kita melihat teman mengenakan pakaian lusuh atau kumuh, kita mungkin berpikir ia tidak peduli dengan penampilannya. Padahal, bisa jadi ia sedang kesulitan keuangan atau memiliki masalah pribadi yang membuatnya tidak sempat memperhatikan penampilannya.
  • Contoh lain, kita melihat tetangga dengan perilaku yang berbeda dari kita. Kita mungkin berpikir ia tidak sopan atau tidak ramah. Namun, bisa jadi ia sedang kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru atau memiliki perbedaan budaya.

Kita diingatkan untuk selalu berusaha menghakimi dengan adil, tidak berdasarkan penampilan luar atau kesan pertama. Kita harus mempertimbangkan semua faktor dan tidak memihak, agar dapat membuat penilaian yang lebih akurat dan tepat terhadap sesama. Dengan demikian, kita bisa memperlakukan orang lain dengan lebih baik dan membangun hubungan yang lebih positif.

Dalam Matius 7:5, Yesus berbicara tentang “selumbar di mata saudaramu” atau “serpihan kayu di mata saudaramu,” yang mengacu pada kemunafikan seseorang. Ini menggambarkan orang yang mudah melihat kesalahan kecil orang lain (selumbar), namun mengabaikan kesalahan besar pada dirinya sendiri (balok).

Yesus mengingatkan bahwa kita harus memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu sebelum mencoba memperbaiki orang lain. Misalnya, seseorang yang suka mengkritik orang lain karena terlambat ibadah, padahal dirinya sendiri sering tidak tepat waktu. Atau seseorang yang mengkritik orang lain karena berbicara kasar, padahal ia sendiri sering menggunakan kata-kata yang tidak sopan.

Kita diingatkan untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri sendiri sebelum menilai atau mengkritik orang lain. Dengan demikian, kita akan melihat dengan lebih jelas dan adil dalam menilai orang lain, serta membantu mereka. Seperti yang Yesus katakan, “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Soli Deo Gloria

Sepdirman Harefe
Mahasiswa STTRII Konsentrasi Misiologi

Tag: dihakimi, fisik, mengasihi, menghakimi, menghargai, Tuhan Yesus

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII