,

Kehinaan Kristus

Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya.
Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang.
Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu
ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan,
sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah. (Ibr. 13:13-16)

Sering kali di dalam kehidupan ini, kita terbiasa mengejar nama baik, kekayaan, dan
kemuliaan seperti yang dituliskan dalam kitab Amsal. Itu baik. Tetapi sesungguhnya, inti dari
kitab Amsal adalah hikmat dan hikmat yang sejati adalah Kristus sendiri. Kebodohan di
dalam Kristus lebih berhikmat dari hikmat dunia, karena Kristuslah Sang Hikmat itu sendiri.

Di dalam mengejar hikmat sejati yaitu Kristus sendiri, bagaimana kita belajar menanggung
kehinaan Kristus? Ketika kita belajar bahwa Kristus mengampuni dosa kita, menanggung
kesalahan dan hukuman dosa kita, bahkan menanggung kehinaan kita, apakah kita berhenti
sampai di situ saja? Justification by faith itu adalah fondasi yang baik, dibenarkan oleh
iman, tetapi apakah kita tidak bertumbuh untuk menjadi serupa Kristus? Ketika kita berbicara
union with Christ, seluruh dosa dan hukuman dosa dan kehinaan kita ditanggung oleh Kristus,
tetapi pada saat yang sama kita juga belajar menderita bagi Dia dan menanggung kehinaan-
Nya. Kita tidak bisa seperti istri Ayub yang hanya ingin yang enak tetapi tidak ingin
mengikuti penderitaan Kristus dan kehinaan-Nya.

Kehinaan Kristus di sini digambarkan sebagai kehidupan pengembara di luar perkemahan,
kehidupan najis yang diasingkan keluar dari komunitas, dan yang menjadi korban di luar
kemah, kehidupan musafir yang menantikan kota yang akan datang. Orang-orang seperti ini
adalah warga kerajaan Allah yang senantiasa memiliki paspor salib, senantiasa berbuat baik
sebagai watak karakter bangsanya, memberi bantuan sebagai mata uang kerajaan-Nya, yaitu:
korban yang berkenan kepada-Nya. Dari sana orang akan mengenal Kerajaan Sorga dan Raja
Damainya, Tuhan Yesus Kristus dan memuliakan Bapa yang di sorga. Di sinilah kita belajar
sama seperti warga sorga yang memuliakan Bapa di surga. Apakah kita sedang belajar
bertumbuh menjadi warga Kerajaan Sorga? Soli Deo gloria.