Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Kekuatan Karakter #3

Identitas di depan Tuhan

Pada edisi sebelumnya, kita sudah membahas mengenai kekuatan karakter sebagai identitas di hadapan Tuhan dari kisah 1001 malam, yaitu Aladin. Kita akan melanjutkan pembahasan mengenai Aladin.

Tetapi sebelum itu, mari kita sedikit me-review artikel-artikel yang sudah dibahas selama ini. Kita sudah mempelajari mengenai syarat pemimpin yang berkenan di hati Tuhan, yaitu pemimpin yang memiliki “Kebenaran, Keberanian, dan Kesetiaan”.
- www.buletinpillar.org/renungan/keberanian (Lion King)
- www.buletinpillar.org/renungan/kesetiaan - Setia dan Benar
- www.buletinpillar.org/renungan/kelemahlembutan-1 (Beauty and the Beast)
- www.buletinpillar.org/renungan/kelemahlembutan-ii (Beauty and the Beast)
- www.buletinpillar.org/renungan/kelemahlembutan-iii (Beauty and the Beast)
- www.buletinpillar.org/renungan/kasih-setia-mengalirkan-kepercayaan-dan-shalom-1 (Zootopia)
- www.buletinpillar.org/renungan/kasih-setia-mengalirkan-kepercayaan-dan-shalom-2 (Zootopia)
- www.buletinpillar.org/renungan/kekuatan-karakter-1 (Aladdin)
- www.buletinpillar.org/renungan/kekuatan-karakter-2 (Aladdin)

Pada edisi sebelumnya, kita sudah mempelajari mengenai Aladdin sebagai “a diamond in a rough” dan bagaimana kisah seorang pemuda yang menjadi bapa Israel–Yakub itu diuji imannya melalui pelarian dari kakaknya, meninggalkan sanak saudara, merantau, sampai kesakitan kehilangan istri dan anak tercinta selama puluhan tahun.

 

Karena itu, biarlah sebagai pemuda-pemudi, kita belajar untuk dibentuk karakternya yang boleh terus-menerus diuji, dengan menyadari bahwa pusat hidup kita yang memancarkan keluar karakter kita itu adalah iman. Di dalam iman inilah kita bertempur untuk diuji oleh api sampai akhirnya terbukti murni. Iman yang murni inilah yang memancar keluar menjadi karakter. Sedangkan iman itu dipelihara di dalam hati yang paling murni dan paling dalam, dengan komitmen hati yang paling mendasar (basic heart commitment). Karena itu, jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari sana terpancar kehidupan. Hati itu tempat iman berada yang memancarkan karakter keluar. Ini semua dijagai oleh firman yang senantiasa menumbuhkan iman. Karena itu, demikianlah para pemuda-pemudi perlu diuji selama puluhan tahun sebelum bertemu dengan Tuhan seperti Rasul Petrus di masa tuanya yang menuliskan suratnya yang berisi iman diuji oleh api lebih berharga dari emas.

Biarlah kita merendahkan diri di hadapan firman Tuhan yang menasihati kita bahwa pemuda itu cenderung jatuh ke dalam hawa nafsu. Karena itu, tidak heran apabila Rasul Paulus menasihati Timotius agar menjauhi nafsu orang muda (2Tim. 2:22). Kita juga boleh belajar dari Lemuel yang diingatkan oleh ibunya agar tidak jatuh ke dalam jerat perempuan atau anggur sehingga melupakan hukum. Untuk menjadi seorang raja, seseorang haruslah kuat agar dapat menjadi pelindung dan tidak melupakan hukum. Pelindung bagi rakyat terutama yang tertindas, miskin, dan membutuhkan. Demikianlah Aladin, seorang pemuda, yang masih harus terus diproses dari kemudaannya untuk menjadi lebih dewasa dan bijaksana di dalam Tuhan. Agar bisa melindungi rakyat banyak dan bukan hanya putri Jasmine saja karena putri Jasmine sudah tinggal di istana yang penuh dengan protokol yang aman.

Biarlah lagu berikut dari Pendiri GRII, Bapak Pdt. Dr. Stephen Tong yang suka mencari mutiara di dalam pasir, menemukan yang berharga meskipun sulit, untuk dipakai dalam kerajaan-Nya, dapat kita renungkan baik-baik.

Kidung Agung
Oh Tuhan tarikku cepat mengikut-Mu,
hatiku dengan-Mu berpadu.
Biar angin bertiup dan badai mengamuk
‘ku makin pancarkan harum-Mu
Tuhan, Kau terindah, yang puaskan hatiku,
Kau milikku dan ‘ku milik-Mu.
Biar ombak menderu, gelombang menempuh
‘kan kuiring Dikau selalu

Kiranya renungan singkat ini boleh menjadi berkat bagi kita semua. Makin badai mengamuk, makin harum pula karakternya. Mari kita senantiasa mengingat identitas kita di hadapan Tuhan yang berbelaskasihan dan mendisiplin agar memiliki kekuatan karakter yang menyatakan kekuatan tangan Tuhan yang menopang. Soli Deo gloria. Amin.

Lukas Yuan Utomo

November 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Seminar Reformasi dengan tema “What if No Reformation?” yang telah diadakan pada tanggal 30 Oktober 2021. Bersyukur untuk setiap firman yang telah dibagikan, kiranya melalui seminar ini setiap kita makin mengerti dan menghargai arti Reformasi yang telah dikerjakan oleh para reformator yang telah memengaruhi segala aspek kehidupan kita, dan kiranya Gereja Tuhan tetap dapat mereformasi diri untuk selalu kembali kepada pengertian akan firman Tuhan yang sejati. 

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲