Renungan Yohanes 6:66-69
Yesus baru saja membuat ribuan orang berpaling. Ia berkata bahwa hanya mereka yang makan daging-Nya dan minum darah-Nya yang akan hidup. Ini bukan kata-kata yang mudah diterima. Ini pernyataan bahwa Dialah satu-satunya jalan keselamatan, dan bahwa tanpa menerima pengorbanan-Nya, tidak ada hidup. Maka Yohanes mencatat: “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.” (Yoh. 6:66).
Hari ini pun banyak orang mengikut Yesus dengan motivasi yang sama seperti kerumunan itu—selama Yesus memenuhi harapan mereka. Tetapi ketika firman-Nya mulai menuntut pertobatan, ketaatan, dan penyangkalan diri, mereka memilih pergi. Ketika Injil tidak lagi berbicara tentang ‘aku’, tetapi tentang salib, banyak orang merasa tersinggung. Ketika Tuhan tidak sesuai harapan, maka harapan itu pun dialihkan ke dunia.
Namun Yesus tidak mengejar mereka. Ia tidak berkata, “Tunggu, mari kita perjelas maksud-Nya agar lebih bisa diterima.” Tidak. Yesus menoleh kepada kedua belas murid-Nya dan berkata, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (ay. 67).
Itu pertanyaan yang menelanjangi hati kita. Yesus tidak sedang mencari pengikut massal. Ia sedang menguji kesetiaan: apakah engkau masih bertahan ketika kebenaran Kristus terasa berat? Ketika perintah-Nya tidak cocok dengan kenyamananmu? Ketika jalan-Nya sempit dan tak populer?
Dan Petrus menjawab, bukan dengan keyakinan karena keadaan terasa baik, tetapi dengan pengakuan karena tidak ada alternatif lain, “Tuhan, kepada siapa kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (ay. 68). Inilah iman yang sejati. Bukan iman yang bergantung pada keadaan yang sesuai keinginan, tetapi iman yang menggenggam kebenaran meskipun menyakitkan.
Petrus tidak berkata bahwa ia memahami seluruh pengajaran Yesus. Ia tidak berkata bahwa jalan ini mudah. Tetapi ia tahu satu hal: di luar Kristus, tidak ada pengharapan. Dunia menawarkan suara-suara yang menyenangkan, filsafat yang menenangkan, spiritualitas yang menghibur, tetapi semuanya kosong tanpa kehidupan sejati. Firman Kristus mungkin keras, tetapi di dalamnya ada hidup. Jalan Kristus mungkin sempit, tetapi menuju kekekalan.
Bukan sekadar pengakuan bahwa Kristus adalah Juruselamat, tetapi pengakuan bahwa tidak ada keselamatan di luar Dia. Bukan hanya menerima kenyamanan dari-Nya, tetapi bersedia menderita bersama-Nya. Kita tidak memegang Kristus karena kita kuat, tetapi karena kita tahu tidak ada yang lain yang sanggup menopang.
Sering kali dalam kehidupan, kita sampai di titik di mana Tuhan seolah-olah diam. Doa tidak segera dijawab. Masalah tak kunjung selesai. Dan kita bertanya-tanya, “Apakah aku harus tetap ikut Tuhan?” Tetapi justru di titik itulah kita ditantang menjawab, “Kalau bukan Dia, siapa lagi? Kalau bukan salib-Nya, apa yang bisa menebusku?”
Yesus tidak butuh pengikut yang ramai tetapi rapuh. Ia memanggil murid yang rela tinggal meski tak mengerti segalanya. Ia tidak mencari respons emosional sementara, tetapi iman yang bertahan sampai akhir. Dunia bisa mengambil banyak dari kita—kenyamanan, kesehatan, bahkan relasi—tetapi dunia tidak bisa mengambil Kristus dari kita. Dan jika kita masih memiliki Dia, kita masih memiliki segalanya.
Kiranya ketika Tuhan menanyakan hal yang sama pada kita, “Apakah kamu juga mau pergi?”, kita bisa menjawab seperti Petrus, bukan dengan keangkuhan, tetapi dengan keputusasaan yang suci, “Tuhan, kepada siapa kami akan pergi?” Dunia tak punya jawaban. Kristus punya hidup kekal.
Soli Deo Gloria.
Wulanda Agustika
Mahasiswi STTRII Konsentrasi Misiologi
