Kerinduan dan Kesungguhan Berdoa

Gereja adalah tempat untuk menumbuh-rawatkan kerinduan dan kesungguhan untuk berdoa.
Orang percaya mula-mula berdoa supaya diberikan keberanian memberitakan firman Allah di
tengah-tengah ancaman (Kis. 4:23-31). Apa yang berkelebatan di dalam pikiran kita ketika
kita berdoa? Allah yang berdaulat dan/atau ancaman yang berbahaya. 

Beberapa poin berikut ini mungkin ada di pikiran kita:
– Allah yang berdaulat mengizinkan ancaman berbahaya datang, dan itu pastilah merupakan
kehendak-Nya bagi saya untuk tidak mengatakan firman-Nya.
– Ancaman berbahaya ini sangat dekat dan melingkupi kita, jadi adalah lumrah kalau saya
diam. Bahkan, Allah tidak terlibat di sini, ada di luar ancaman ini, sehingga pikiran kita
menjadi tumpul dan hati kita menjadi gelap.

Marilah kita bersama-sama belajar untuk berdoa: Kita haruslah ditransformasi oleh
pembaruan pikiran kita melalui doa sebagai alat anugerah. Doa adalah saluran yang diberikan
Allah agar kita ditransformasi. Kiranya pikiran kita senantiasa diisi oleh firman Allah dan
dipimpin oleh Roh Kudus untuk mengingat Kedaulatan Allah di dalam segala keadaan.

Apa yang menjadi sikap hati kita, kebiasaan akal budi kita, dan pemilihan kata-kata kita
di tengah-tengah keluarga, sahabat, kantor, sekolah, gereja, masyarakat kita? Marilah kita
membangkitkan, mengarahkan, dan menghangatkan hati kita untuk berdoa. Marilah kita
merawat-kembangkan, membakar, dan menumbuhkan kegiatan kita dengan semangat menyala-nyala
dengan doa. Marilah kita mencenderungkan, menyukacitakan, dan menggerakkan hati kita dengan
limpah untuk berdoa.