Apa yang kamu cintai? Apa yang membuat hatimu rasanya sakit? Apa yang berharga
bagimu? Apa yang tidak akan kamu lewatkan walaupun kondisimu kelihatannya tidak
memungkinkan? Apa yang kamu “bela-belain” walaupun takut, letih, dan sebagainya?
Kita adalah manusia yang sangat mencintai diri. Diri adalah pusat dari segala sesuatu, bahkan
acap kali perbuatan baik yang kita lakukan adalah karena diri kita hendak dicap sebagai
“orang baik”. Kita akan marah jika dicap “orang yang kurang baik”. Segala sesuatu kita
lakukan, segala sesuatu hendak kita peroleh sebanyak-banyaknya, adalah untuk diri. Ketika
kita memberi adalah juga untuk diri, memberi dalam batasan di mana saya masih mau
memberi. Kita adalah tuan atas seluruh hidup kita sendiri.
Apa yang seharusnya kita cintai? Apa yang seharusnya membuat hati rasanya sakit? Apa
yang berharga bagi kita? Apa yang tidak akan kita lewatkan walaupun kondisi sepertinya
tidak memungkinkan? Apa yang kita ‘bela-belain’ walaupun takut, letih, dan sebagainya?
Di mana hartamu berada, di situlah hatimu berada. Kita sudah tahu isi Alkitab, kita sudah
hafal berbagai perumpamaan tentang Kerajaan Sorga yang Tuhan Yesus berikan. Seperti
orang muda yang kaya, orang yang menemukan harta terpendam, perihal menyimpan harta di
sorga. Apakah hati kita rela melepaskan, memberikan, menjual semua milik kita untuk
mengikut Tuhan sepenuh hati, untuk mengumpulkan harta di sorga bukan di bumi? Apakah
kita rela kehilangan ‘semua yang sementara’ demi memperoleh ‘semua yang kekal’? Apakah
kita rela ‘put aside ourself in order to love my neighbour as He commands us to do’?
Tuhan sudah mempersiapkan ‘treasure’ bagi kita dan sudah siap untuk memberikannya kepada
kita, hanya apakah kita mau datang dengan tangan kosong dan memintanya? Ia pasti akan
memberikannya, sudah lama Ia menunggu, kapankah kita sadar, kapankah kita datang? Ia
sudah siap dengan berbagai kado “true peace, true friendship, true love, true life,
true hero, true strength, true courage, true knowledge, and true satisfaction”.
Marilah kita segera datang dan tidak menunda-nunda lagi.