Mazmur 35

TUHAN itu Besar dan Dia Menginginkan Keselamatan Hamba-Nya! Tuhan adalah Tuhan
yang adil. Dia menyelamatkan orang yang lemah, sengsara, dan miskin (ay. 10). Sering kali
di dalam kehidupan ini, orang menjadi sengsara karena ada orang yang lebih kuat
daripadanya menindas dia. Entahkah itu di dalam pergumulan rumah tangga, kantor, sekolah,
ataupun kehidupan bermasyarakat. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak
bisa berbuat apa-apa selain mohon belas kasihan Allah. Mereka adalah orang-orang tulus
ikhlas yang berjiwa siap menolong sesamanya ketika sakit, turut berdukacita dengan orang
yang sedang menderita. Tetapi balasan apakah yang mereka terima? Saksi-saksi kekerasan
menuntut mereka yang bukan-bukan, kejahatan, penipuan, ditertawakan, dinista, diolok-olok,
dikerumuni (ay. 11-16).

Dan kita mengetahui hal ini terjadi kepada seorang yang gagah perkasa yaitu Daud. Dia
mengalami pergumulan ini dan dia menjadi orang yang lemah, sengsara, dan miskin; sangat
kontras dengan kisah kepahlawanannya. Apa yang kita alami di dalam dunia ini tidak terlepas
dari apa yang menjadi rajutan pemeliharaan Tuhan atas kisah kehidupan kita. Bagaimana
sikap kita apabila menghadapi tantangan seperti ini? Kita belajar dari Daud untuk berdoa
mengingat karakter Tuhan bahwa Tuhan itu bukanlah Tuhan yang tertidur dan tidak adil (ay.
23-24). Justru Tuhan yang akan membela perkara kita. TUHAN itu besar dan Dia
menginginkan keselamatan hamba-Nya. Sekali lagi, TUHAN itu besar dan Dia menginginkan
keselamatan hamba-Nya (ay. 27). Bukankah ayat ini indah? Kita boleh menambahkan satu
butir lagi di dalam daftar perbendaharaan Kehendak Allah kita yang boleh kita doakan dan
akan dijawab oleh-Nya.

Dan selanjutnya, apabila kita tidak dalam posisi serupa atau sudah dilepaskan dari
pergumulan tersebut, apa yang menjadi respons kita dan tanggung jawab kita? Kita dapat
berespons dengan memuji Tuhan, bersyukur dan memiliki perasaan tanggung jawab untuk
menolong sesama yang juga membutuhkan. Tim Keller menggunakan istilah Keadilan yang
Murah Hati
karena kecenderungan orang yang suka memisahkan antara keadilan dan kasih.
Kalau saya memberikan uang saya kepada orang miskin, itu adalah belas kasihan dan kasih.
Tetapi Ayub menyatakan bahwa jika saya tidak murah hati dalam menggunakan uang saya,
saya bersalah kepada Allah. Karena itu, bukanlah pilihan kita untuk tidak berbagi kepada
yang miskin dan adalah tidak adil menurut definisinya apabila kita tidak berbagi dengan
mereka. Semoga Tuhan melimpahi kita dengan damai-Nya senantiasa seumur hidup kita.
Amin.