Memandang Wajah Tuhan

Belum jam 7 pagi hari ini, langit abu-abu meliputi daerah sepanjang mata memandang. Daun-
daun yang basah dengan butir-butir hujan terlihat indah karena ada sinar matahari yang
menembus butiran air sehingga terlihat berkilau. Sinar kuning matahari menembus celah di
antara awan dan langit abu-abu bulan Januari. Semalam telah turun hujan deras disertai angin
kencang, dan masih tersisa rintik-rintik di pagi hari ketika orang-orang sudah mulai sibuk
beraktivitas.

Saya teringat pada khotbah Pdt. Stephen Tong pada Kebaktian Tahun Baru, dan bertekad
menjadikannya resolusi pribadi untuk tahun 2019. Beliau telah membahas tema “Iman”
selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di akhir tahun 2018. Beliau mengatakan
bahwa iman adalah arah rohani, iman adalah penglihatan rohani, iman adalah pegangan
rohani, dan iman adalah peristirahatan rohani. Terdengar sederhana untuk dihafal namun jika
ditelusuri bagaimana beliau sampai bisa mengatakan demikian, saya berkesimpulan itu
adalah hasil dari proses pengertian dan pengalaman pribadinya bersama Tuhan selama
puluhan tahun menjadi hamba-Nya. Sesungguhnya keyword yang dapat saya ambil dari
khotbahnya bukanlah hal baru yang belum pernah saya dengar, tetapi kali ini hal tersebut
terdengar lebih keras sehingga lebih menempel di benak saya, yaitu “Memandang wajah
Tuhan”. Beliau mengatakan bahwa siang dan malam beliau selalu mencari kehendak Tuhan.
Hmmm….. kok itu terdengar baru dan asing bagi saya? Apakah karena profesi beliau
sebagai pendeta, maka sudah tentu itu menjadi urusan dia, siang dan malam? Tetapi bukankah
semua orang adalah hamba Allah, walaupun bekerja di bidang apa saja?

Pagi itu saya melanjutkan bacaan Alkitab harian saya pada kitab Yeremia. Tema yang sedang
dibicarakan adalah Allah marah kepada bangsa Israel yang tidak mau mendengarkan
perkataan-Nya. Kali ini Tuhan memperlihatkan keluarga Rekhab kepada bangsa Israel.
Mereka bukan orang Israel, bapa leluhur mereka adalah Yonadab bin Rekhab. Mereka
mengungsi ke Yerusalem karena takut pada Nebukadnezar, raja Babel. Yonadab memberikan
perintah agar mereka jangan minum anggur, jangan mendirikan rumah, jangan menabur
benih, jangan membuat kebun anggur. Mereka harus tinggal di kemah-kemah sebagai orang
asing, dan keturunannya menaati perintah ini.

“Sungguh, keturunan Yonadab bin Rekhab menepati perintah yang diberikan bapa leluhurnya
kepada mereka, tetapi bangsa ini tidak mau mendengarkan Aku!” (Yer. 35:16). Tuhan
mengancam mendatangkan malapetaka kepada segenap penduduk Yerusalem, sebaliknya
memberikan hak istimewa kepada kaum Rekhab “Keturunan Yonadab bin Rekhab takkan
terputus melayani Aku sepanjang masa” (Yer. 35:19). Hal ini terbukti bahwa kaum Rekhab
turut memperbaiki Bait Allah setelah pembuangan dari Babel. “Pintu gerbang Sampah
diperbaiki oleh Malkia bin Rekhab, penguasa wilayah Bet-Kerem. Ia membangunnya
kembali dan memasang pintu-pintunya dengan pengancing-pengancing dan palang-
palangnya” (Neh. 3:14).

Tuhan memberikan wajah-Nya kepada kaum Rekhab, tetapi menyembunyikan wajah-Nya
dari kaum Israel. Bagaimana dengan kita? Apakah kita senantiasa memandang wajah Tuhan
sehingga sinar ilahi menyinari wajah kita? Seperti sinar matahari yang menembus langit abu-
abu dan menyinari daun-daun yang basah oleh butir-butir air hujan sehingga terlihat indah
berkilau? Suara siapakah yang kita dengar tahun ini? Kepada siapakah kita sesungguhnya
beriman? Marilah kita terus belajar “Memandang Wajah Tuhan”. Amin.