Menjadi seperti Anak Kecil

Satu kali ketika sedang berada di ruang tunggu bandara, bocah kecil (bocil) kami memilih duduk di deretan kursi sebelah kami duduk, kursi prioritas (priority seat). Seperti kita ketahui, kursi prioritas adalah untuk penyandang disabilitas, orang tua, ibu hamil, atau ibu dengan bayi. Kami berusaha melarangnya. Akhirnya papanya berhasil meyakinkannya untuk pindah, setelah menceritakan arti gambar-gambar di kursi tersebut dan kegunaannya. Lega! Eh, belum! Tidak lama kemudian, datanglah pasangan muda yang menduduki kursi prioritas tersebut! Disusul seorang pria lain yang ikut duduk di situ. Sesuai dugaan, bocil pun bertanya kepada papanya. Apakah pasangan muda itu ada yang buta, sudah tua, dan seterusnya. Apa jawaban Saudara terhadap pertanyaan ini?

Kita tentunya tidak setuju dengan konsep pendidikan anak ala Jean-Jacques Rousseau yang mengatakan bahwa setiap anak yang lahir pada dasarnya adalah baik, namun dirusak oleh masyarakat. Iman Kristen menolak hal ini. Kejatuhan Adam yang menjadi wakil kita semua, telah membuat natur manusia tercemar oleh dosa, sehingga tidak ada manusia yang tidak berdosa (Rm. 3:23). Akibatnya, sadar atau tidak, mudah sekali diri ini berbuat salah dan menjadi contoh buruk bagi sekitarnya. Lihat saja cerita di atas. Cerita tersebut tidak mendukung pendapat Rousseau, tetapi justru mendukung prinsip Alkitab karena menunjukkan pemberontakan kita semua. Cobalah Saudara merenungkannya!

Lalu apa kaitannya dengan menjadi seperti anak kecil? Bocil kami, secara alami duduk di kursi yang dilarang untuk mereka yang dikategorikan “sehat”. Awalnya dia bersikukuh untuk tetap duduk di situ. Lewat penjelasan dan pengajaran mengenai tempat duduk prioritas, bocil kami mau menerima alasannya dan pindah ke tempat duduk yang seharusnya, tempat kami (orang tuanya) duduk. Bandingkan dengan orang-orang dewasa yang kemudian datang dan duduk di sana. Mereka mestinya dapat membaca pesan gambar-gambar tersebut dan menyadari bahwa mereka tidak seharusnya duduk di sana. Reaksi mereka? Beda kan, ya, dengan respons bocil kami.

Banyak hal yang setiap harinya bisa kita pelajari dari sekeliling kita, khususnya dari para bocil. Secara umum, mereka lebih mudah mendengar dan mau diajar. Tentu saja perlu kita sesuaikan dengan perkembangan umur mereka. Anak-anak kecil lebih mau menaati otoritas dan lebih mudah diajar (teachable). Tuhan Yesus sendiri berkata, jika kita tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kita tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sebagai anak-anak Bapa sorgawi, apakah kita memiliki hati yang mau belajar dan diajar? Apalagi Roh Kudus sudah dicurahkan ke dalam hidup anak-anak-Nya. Bukankah kehadiran Roh-Nya sepatutnya mendorong kita makin hari makin mudah diajar dan terus mau belajar (Yeh. 11:19; 36:26)? Mari kita menilik hati kita masing-masing! Soli Deo gloria.

Vik. Maya Sianturi Huang

Wakil Koordinator Bidang Pendidikan Sekolah Kristen Calvin

PS. Kiranya artikel ini mendorong kita untuk mendukung acara BCN 2022 (http://bcn.stemi.id).