“Huek… gak enak,” kata seorang anak setelah meminum susu di gelasnya. O, ternyata susunya
tercampur air, jadi rasanya tidak enak. Susu cair jika tercampur air rasanya menjadi tidak enak.
Bagaimana menuangkan susu ke dalam gelas yang penuh air? Jika dipaksakan pasti akan tumpah
terbuang, walaupun ada susu yang bertukar dengan air, rasanya tidak enak. Jika dikeluarkan
setengah gelas lalu dimasukkan susu sampai penuh, rasanya pun tetap tidak enak. Semua air harus
dikeluarkan, lalu diisi susu, barulah susu itu nikmat untuk diminum.
Begitu juga dengan hati manusia. Hati manusia penuh dengan dosa. Bagaimana ‘susu’ firman Tuhan
masuk ke dalamnya jika dosa yang ada di dalam hatinya belum dibuang? Kita tidak bisa berdoa minta
pertolongan Tuhan jika hati kita penuh dengan kekuatiran, ketakutan, kebencian, kepahitan, dan
sebagainya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mau menyimpan setengah gelas air kepahitan,
kekuatiran, dan sebagainya, dan menerima setengah gelas firman Tuhan. Kita harus mengosongkan
air keakuan dalam hati kita dan dengan rendah hati menunggu Tuhan mencurahkan susu keilahian-
Nya ke dalam hati kita, sehingga kita melakukan kehendak-Nya dengan perasaan bermakna, bukan
demi memuaskan nafsu kita dengan sia-sia.
Tuhan Yesus sudah menang atas dosa sehingga kutukan dosa yang menguasai kita terlepas. Jika
kita menerima Yesus Kristus masuk ke dalam hati kita, maka saat itu juga kita dilepaskan dari ikatan
dosa. Oleh sebab itu, Rasul Paulus dalam suratnya kepada gereja di Korintus, Efesus, Filipi, selalu
memulai dengan sapaan ‘saints’. Semua orang yang sudah menerima Kristus di dalam hatinya
adalah orang kudus. Bukan karena apa yang diperbuatnya yang mengakibatkan ia disebut sebagai
orang kudus, bukan apa yang dikerjakannya yang menghasilkan kekudusan bagi dirinya, tetapi
apa yang diperbuat oleh Tuhan Yesus di kayu salib dan apa yang dikerjakan oleh Allah Bapa yang
membangkitkan Tuhan Yesus. Dalam kemuliaan menyatakan kemenangan terbesar yang pernah
ada. Kemenangan Prince of Peace atas prince of the world, kemenangan dunia spiritual, kemenangan
abadi.
Tetapi mengapa di dalam surat bagi orang-orang kudus, masih ada teguran, nasihat, penghiburan,
dan doa-doa bagi mereka? Karena hidup yang lama, yang penuh dengan dosa, keakuan,
kebijaksanaan dunia perlu disingkapkan, dibongkar, dinyatakan sebagai sampah (seperti
pernyataan Rasul Paulus), dan dibuang. Hidup yang baru (adanya kelahiran baru) harus diisi dengan
semakin eratnya relasi dan pengenalan akan Allah yang benar. Setiap dosa sampai yang terkecil
harus disingkapkan dan dipertobatkan, sampai air keakuan habis dibuang sebagai sampah dan
susu kemuliaan Tuhan memenuhi gelas hati kita sehingga kita menjadi mempelai wanita yang
memperkenan Sang Mempelai Pria itu. Alangkah luar biasanya seorang manusia berdosa dapat
memperkenan Tuhan yang Maha Kudus. Bukan apa yang bisa dan mampu kita kerjakan, tetapi apa
yang mau kita buang. Kiranya hati kita menjadi bejana tanah liat yang penuh berisi kemuliaan harta
sorgawi bukan kefanaan harta duniawi.