Mulia – Hina – Mulia

“Maaf ya, rumahku berantakan” atau “Wah, jangan ke rumahku deh, seperti
kapal pecah”. Mungkin itu kalimat yang keluar dari mulut kita ketika ada orang hendak
berkunjung. Mungkin juga kita tidak mengucapkan kalimat itu, tetapi dengan segera kita
membersihkan dan merapikan semuanya sebelum tamu datang. Atau mungkin tidak ada masalah sama
sekali bagi kita, karena rumah kita senantiasa bersih dan rapi. Bagaimanakah sikap yang
seharusnya? Tetapi yang pasti, kita tidak ingin memperlihatkan sisi yang kotor kepada tamu
kita.

Menampilkan sisi yang baik dan indah dari diri kita dan menutupi sisi yang kurang baik dan
kurang indah dari diri kita, adalah sesuatu yang lumrah. Kita meletakkan makanan sedap
dipandang di atas meja, dan bukan tempat sampah. Kita memakai make up untuk membuat
mata terlihat lebih menawan, bukan semakin seram. Kita memakai baju yang necis ke tempat
kerja, bukan asal saja seperti ke pasar. Kita bahkan menutupi kelemahan kita dengan
menggosip kelemahan orang lain. Yang jelek dan kotor, dihina dan disembunyikan,
sedangkan yang indah dan bersih, dimuliakan dan dipamerkan.

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia, tetapi juga menjadi ciptaan yang paling
hina. Tidak ada ciptaan yang sedemikian mirip Pencipta, karena hanya manusia yang adalah
gambar dan rupa Allah. Tetapi juga tidak ada ciptaan yang menutupi ketelanjangan dirinya
seperti manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Manusia berdosa dirundung
ketidakberdayaan akan kuasa dosa, seperti kejahatan, sakit penyakit, bahkan kematian. Tuhan
Yesus menangis ketika mengetahui kematian Lazarus, Dia pun berbelaskasihan kepada
banyak orang sakit. Tetapi Dia tidak menghapuskan segala air mata, kejahatan, kesakitan,
bahkan kematian di dunia ini, ketika Dia melawat kita.

Dia menyelesaikan urusan Bapa-Nya di dunia dengan menjadi Juruselamat dan Anak Domba
yang tidak bercacat cela, Sang Korban Paskah. Dengan demikian, urusan kita dengan Allah
Bapa didamaikan. Dibuktikan dengan terbelahnya tirai berat yang membatasi dan
memisahkan Ruang Mahasuci di Bait Suci. Manusia yang semula diciptakan mulia, lalu di
dalam kebebasannya menjadi hina, di dalam anugerah telah dijadikan mulia kembali oleh
peristiwa kayu salib Tuhan Yesus.

Tetapi permasalahannya, adakah kita setia dan menjaga kekudusan hidup selama kita
menunggu waktunya tiba? Marilah kita menyelidiki hati kita sendiri di hadapan Tuhan setiap
hari, bertobat, dan belajar mengasihi orang lain, sehingga mereka melihat perbuatan kita yang
baik dan memuliakan Bapa di sorga.