Natal: Adakah Tempat Bagi-Nya?

Di tengah-tengah carut-marutnya kehidupan, baik di kota besar atau desa kecil, apakah hati
kita turut carut-marut? Alkitab berkata semua manusia berdosa. Lidah mereka merayu-rayu
dan kerongkongan mereka itu kuburan menganga. Apakah Tuhan dan firman-Nya di dalam
Kitab Suci berbohong? Sesungguhnya jika kita mengaku kita tidak ada dosa, kita menjadikan
Dia pendusta. Memang kita adalah pendosa, tetapi apakah benar gambaran firman Tuhan
bahwa bibir kita berbisa dan mulut kita penuh sumpah serapah?

Di Bethlehem, tidak ada tempat bagi Yesus dan keluarga-Nya. Bisa jadi kerabat Yusuf yang
pulang kampung tidak mau menampungnya karena “anak haram” yang bernama Sang Kudus
itu. Pertanyaan berikutnya: Adakah tempat bagi Yesus di keluarga kita, jika kita berada di
Bethlehem ketika bayi-bayi dibunuh karena Yesus? Bukankah Natal adalah berita sukacita
untuk dunia? Di hari Natal ada berita sukacita dan nyanyian, di hari Natal juga ada dukacita
dan ratapan. Jika kita menjadi salah satu keluarga di kampung Yesus, akankah ada tempat
bagi-Nya di hati kita? Apakah hati kita akan carut-marut dan kehilangan pengharapan? Atau
apakah hati kita akan beriman bersandar kepada Tuhan seperti Yokhebed yang melindungi
Musa dengan segala risikonya dan belajar bergantung pada kedaulatan-Nya? …

Sesungguhnya, kita hanyalah orang berdosa yang harus terus-menerus bergantung kepada
Tuhan agar bisa mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan kita.

May Lord have mercy upon us.