Paskah adalah perayaan terpenting umat percaya, karena di situlah dasar pengharapan kita terletak. Maka, mempersiapkan diri menyambut Paskah tentunya dibutuhkan. Salah satu hal yang perlu kita lakukan dalam masa Prapaskah (Lent) ini adalah menjenguk kembali ke dalam bagian hati kita yang terdalam. Ada apa di sana?
Calvin mengatakan, dalam karya monumentalnya Institutes of the Christian Religion, bahwa hati manusia dapat dikatakan sebagai pabrik berhala yang tidak henti-hentinya memproduksi. Seberapa jauh kita ngeh akan hal ini? Karena hal itu akan mempengaruhi rutinitas kita untuk menilik ke dalam hati, lalu mendorong kita untuk tekun meminta pertolongan Roh-Nya menyingkirkan koleksi berhala-berhala yang merongrong diri kita itu.
Di dalam mitologi Yunani, ada pemimpin dewa, lalu ada 3 dewa besar yang ternyata brothers dan kemudian 12 dewa-dewi utama. Meminjam cerita tersebut, mungkinkah kita dapat membuat semacam analogi bahwa di hati kita juga ada berhala yang lebih utama? Apakah “pembenaran diri” dapat dinobatkan sebagai berhala utama? Kisah-kisah kejatuhan manusia dan tokoh-tokoh beriman di Alkitab dapat menunjukkan hal itu. Kisah kejatuhan manusia pertama, Adam, sampai perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk. 18:9-14) dapat menjadi rujukan yang cukup jelas akan berhala pembenaran diri.
Mengapa pembenaran atau pembelaan diri bisa menjadi berhala utama dalam diri kita? Jawabannya sederhana. Kita selalu punya alasan atas setiap kesalahan. Alasan-alasan itu menyatakan apa sih sebenarnya? Self-righteousness. Pembelaan diri karena selalu merasa benar. Di dalam alasan-alasan kita membela diri, sebetulnya dapat ditemukan berhala yang lebih spesifik. Misalnya, saat Tuhan mengajukan dua pertanyaan pada Adam setelah kejatuhannya dalam dosa (Kej. 3:11), Adam langsung mengeluarkan berhala ignorance (tidak menjawab pertanyaan pertama), berhala pilih-pilih pertanyaan, berhala playing victim (menyalahkan orang lain dan Tuhan), berhala melemparkan tanggung jawab, dan berhala lari dari kenyataan. Paling tidak itu yang dapat saya temukan. Lalu siapa pemimpin berhala-berhala itu? Berhala pembenaran diri.
Sebetulnya, capek gak sih menjalani hidup dengan terus berusaha membela diri? Bukankah ini menjadi semacam lingkaran setan yang makin sulit untuk dipatahkan? Seberapa frustrasi Saudara melihat kondisi hati yang seperti ini? Kabar baiknya adalah makin kita frustrasi mestinya kita makin menginginkan kuasa kebangkitan Yesus Kristus untuk melepaskan kita.
Yesus Kristus tidak pernah membela diri karena Dia adalah wujud dari Kebenaran. Yesus Kristus bahkan rela dijadikan bersalah dan berdosa, agar kebenaran diri-Nya bisa diimputasikan ke dalam hati kita. Di dalam Kristus, kita tidak perlu membela diri dan membenarkan diri. Yesus dan Roh-Nya sudah melakukannya untuk kita. Inilah yang memberikan shalom dalam hati kita dan sukacita dalam menjalani masa-masa yang sulit, termasuk ketika kita melakukan kesalahan.
Kiranya di momen persiapan perayaan Paskah ini kita meminta agar makin sadar akan karya pembenaran Kristus, sehingga kita makin rela untuk membuang segala berhala.
Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala (1Yoh. 5:21).
SDG
Vik. Maya Sianturi Huang
Wakil Koordinator Bidang Pendidikan Sekolah Kristen Calvin
