Dahulu, saya selalu menganggap diri sebagai pengikut Kristus yang sangat setia. Hal ini terutama saya buktikan dengan taat kepada orang tua, mengingat ajaran dalam keluarga Kristen yang mengibaratkan orang tua sebagai representasi Tuhan yang terlihat. Lebih lanjut, saya juga sangat menekankan pentingnya melakukan kebaikan kepada sesama sebagai manifestasi kasih yang seyogianya terpancar dari kehidupan seorang pengikut Yesus.
Mungkin setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk menunjukkan dirinya sebagai pengikut Kristus yang baik. Ada yang melakukannya dengan berbuat baik kepada sesama, memberikan persepuluhan, atau bahkan berdonasi untuk pelayanan Tuhan di luar kemampuan finansialnya.
Praktik-praktik di atas memang bisa menunjukkan bahwa seseorang adalah pengikut Yesus. Namun, apa sesungguhnya yang Yesus sendiri katakan tentang hal mengikut Dia? Melalui artikel ini, saya ingin mengajak Saudara merenungkan bagaimana sesungguhnya menjadi pengikut Yesus.
Dalam Lukas 9:57-62, kita melihat berbagai respons terhadap panggilan Yesus. Salah satunya adalah seseorang yang berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu kepada keluargaku.” Namun, Yesus dengan tegas menjawab, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini. Sering kali, keputusan atau pengakuan dari keluarga memang terasa begitu penting saat kita ingin mengambil sebuah keputusan hidup yang besar. Namun, Yesus ingin mengajarkan kepada kita pentingnya keputusan pribadi. Keterikatan kita pada masa lalu, atau bahkan pada hal-hal yang terlihat baik, seringkali menghambat pertumbuhan sebagai orang Kristen, terutama dalam menjadi pengikut yang setia. Lihatlah orang yang berpamitan dalam kisah itu; tindakannya tampak sangat baik. Bahkan, jika disamakan dengan konteks kita sekarang, ia mungkin adalah anak yang berbakti kepada orang tua. Namun, Yesus justru menegur hal tersebut. Ini menunjukkan bahwa ada prioritas yang lebih tinggi ketika berbicara tentang mengikut Dia.
Mengikut Yesus bukan berarti kita harus menghilangkan kasih kita terhadap masa lalu, apalagi kepada orang-orang terkasih. Namun, prioritas utama kita adalah Kristus itu sendiri. Kesediaan untuk mengikut Yesus bukanlah tentang seberapa besar kita mencintai apa yang kita miliki, melainkan tentang keberanian untuk melepaskan diri dari hal-hal tersebut.
Masa lalu tidak hanya berbicara tentang kepemilikan atau orang-orang yang kita kasihi, tetapi juga setiap pengalaman yang merusak totalitas kesetiaan kita. Yesus ingin kita selalu melihat ke depan, menuju sumber kehidupan sejati bagi orang percaya: yaitu diri-Nya sendiri. Yesus sama sekali tidak melarang kita untuk mengasihi keluarga, bahkan orang tua; justru, Ia mengajarkan kita untuk rela melepaskan ikatan atau halangan dari keluarga agar kita bisa melihat ke depan, sebab kita akan memikul “kuk”, yaitu salib.
Menjadi pengikut Yesus berarti kita harus bersedia dibentuk seperti tanah yang dibajak saat hendak ditanami padi. Kita harus berani diubahkan, bahkan jika bahu terasa begitu berat, seperti petani yang memegang traktor untuk membajak agar tetap lurus. Demikian pula, sebagai pengikut Yesus, kita harus rela merasakan penderitaan. Namun, di balik penderitaan itu, ada kekuatan yang menguatkan: yaitu Yesus yang telah memberikan jaminan keselamatan bagi kita.
Grecia Agustina Purba
Mahasiswa STTRII
