,

Pengudusan Kita

1 Nyanyian. Mazmur Daud.

2  Hatiku siap, ya Allah,
aku mau menyanyi, aku mau bermazmur.
Bangunlah, hai jiwaku,
3 bangunlah, hai gambus dan kecapi,
aku mau membangunkan fajar.
4 Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan,
dan aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;
5 sebab kasih-Mu besar mengatasi langit,
dan setia-Mu sampai ke awan-awan.
6 Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah,
dan biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi.

7  Supaya terluput orang-orang yang Kaucintai,
selamatkanlah dengan tangan kanan-Mu dan jawablah aku!
8 Allah telah berfirman di tempat kudus-Nya:
“Aku hendak beria-ria, Aku hendak membagi-bagikan Sikhem,
dan lembah Sukot hendak Kuukur.
9 Gilead punya-Ku, Manasye punya-Ku,
Efraim ialah pelindung kepala-Ku,
Yehuda ialah tongkat kerajaan-Ku,
10 Moab ialah tempat pembasuhan-Ku,
kepada Edom Aku melemparkan kasut-Ku,
dan karena Filistea Aku bersorak-sorai.”

11 Siapakah yang akan membawa aku ke kota yang berkubu?
Siapakah yang menuntun aku ke Edom?
12 Bukankah Engkau, ya Allah, yang telah membuang kami,
dan yang tidak maju, ya Allah, bersama-sama bala tentara kami?
13 Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan,
sebab sia-sia penyelamatan dari manusia.
14 Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa,
sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.

Raja Daud di dalam Mazmur 108 ini menunjukkan teladan orang yang hatinya senantiasa
bersyukur dan berdoa. Raja Daud bersyukur atas apa? Bersyukur (ay. 7-10) karena Tuhan
sudah berjanji melalui firman-Nya bahwa Dia akan beria-ria karena kita milik kepunyaan-
Nya. Bersyukur bahwa Dia juga akan beria-ria menghancurkan musuh-musuh kita yang
menjadi tempat cuci-cuci dan tempat sandal sepatu-Nya.

Kemudian, raja Daud berdoa untuk apa? Berdoa (ay. 11-14) supaya Allah menolong kita dari
musuh-musuh kita. Mengapa? Karena Allah sudah berjanji akan beria-ria tetapi Allah sendiri
yang membuang mereka. Bukankah di dalam kehidupan kita, cerita-cerita kehidupan seperti
ini kerap terjadi? Suami istri cekcok, anak-anak tidak taat, pekerjaan berantakan, hidup suam-
suam dan tidak kuat memegang firman Tuhan dengan teguh dan berdoa. Firman Allah dan
janji-Nya itu jelas tetapi pergumulan kita juga tidak kalah jelasnya hendak menghancurkan
kita. Kita lemah, tidak berdaya, dan basal. Di tengah-tengah keadaan yang menjepit seperti
ini, Daud tetap bersyukur senantiasa.

Bagaimana Daud tetap bersyukur (ay. 1-6)? Daud menetapkan hatinya sebelum fajar
menyingsing dan bahkan dia membangunkan fajar. Hatinya tetap teguh dan tidak goyah
kepada janji Tuhan yang besar dan ajaib itu. Suaranya tetap kuat dan tidak berkurang ketika
dia berseru memuliakan Tuhannya. Dengan segenap jiwanya dia memuji Tuhan dan
mengundang hari itu agar menyingsing supaya fajar itu juga bisa bangun dan memuji Tuhan
bersama-sama dengan dia.

Inilah artinya hati yang berketetapan. Inilah hati yang mengundang segenap jiwa dan alam
untuk turut memuji Tuhan di tengah himpitan keadaan. Anak harus sekolah, biaya hidup
meningkat, dan di dalam pekerjaan seperti tidak ada kekuatan bersaksi. Lalu bagaimana?

Saatnya kita merenungkan Tuhan yang ditinggikan mengatasi langit dan kemuliaan-Nya
mengatasi bumi (ay. 6 – puncak dari syukur dan doa Daud). Ketika Dia ditinggikan di atas
kayu salib, itulah saatnya kemuliaan-Nya mengatasi bumi. Saliblah jalan menuju surga.
Saliblah kekuatan yang merobek langit. Saliblah kemuliaan yang melindungi kita dari murka
Allah yang akan datang. Saat Dia menjadi tempat cuci kaki kita, tempat sandal dan sepatu
kita, itulah saatnya kita dibersihkan oleh-Nya. Kita mungkin sungkan sekali untuk
dibersihkan oleh Tuhan apalagi Tuhan menjadi pencuci kaki kita, tetapi itulah jalan menuju
kepada-Nya. Itulah jalan yang Tuhan inginkan juga kepada Petrus. Maukah kita menjadi
murid-Nya yang rendah hati? Maukah kita datang kepada-Nya dan dibersihkan oleh-Nya?

Datanglah kepada-Nya dan lihatlah Tuhan Yesus, kita akan dibersihkan oleh-Nya.
Dibersihkanlah kita oleh-Nya, kita akan dapat bersyukur dengan hati yang siap seperti Daud.
Bersyukurlah kita kepada-Nya,
&nbsp&nbsp&nbsp&nbsp&nbsp kita akan melihat diri-Nya ditinggikan mengatasi langit, dan,
&nbsp&nbsp&nbsp&nbsp&nbsp kita akan melihat kemuliaan-Nya mengatasi bumi.

Amin.