Sesudah merenungkan tentang Paskah selama tiga bulan pertama dalam kaitannya dengan tahun baru
di Januari, tahun baru Imlek di Februari, dan Jumat Agung di Maret, dan diikuti oleh Buah Sulung
sebagai kelanjutan dari Paskah di April (https://www.buletinpillar.org/renungan/the-festivals), saya
mengajak pembaca Pillar sekalian untuk memikirkan tentang hari Pentakosta di bulan Mei ini.
Di dalam Imamat 23, kita dapat menemukan berbagai macam hari raya bangsa Israel, di antaranya
adalah:
1. Roti Tidak Beragi (Passover) – Imamat 23:4-8
2. Buah Sulung (Firstfruits) – Imamat 23:9-14
3. Tujuh Minggu (Weeks) – Imamat 23:15-22
Kemudian kamu harus menghitung, mulai dari hari sesudah sabat itu, yaitu waktu kamu membawa
berkas persembahan unjukan, harus ada genap tujuh minggu sampai pada hari sesudah sabat yang
ketujuh kamu harus hitung lima puluh hari; lalu kamu harus mempersembahkan korban sajian yang
baru kepada TUHAN. Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-
habis sampai ke tepinya dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu, semuanya
itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.” (Imamat
23:15-16, 22)
Tujuh minggu harus kauhitung: pada waktu orang mulai menyabit gandum yang belum dituai, haruslah
engkau mulai menghitung tujuh minggu itu. Kemudian haruslah engkau merayakan hari raya Tujuh
Minggu bagi TUHAN, Allahmu, sekedar persembahan sukarela yang akan kauberikan, sesuai dengan
berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Haruslah engkau bersukaria di hadapan
TUHAN, Allahmu, engkau ini dan anakmu laki-laki serta anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan
hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di dalam tempatmu, dan orang asing, anak yatim dan
janda, yang di tengah-tengahmu, di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-
Nya diam di sana. Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di Mesir, dan haruslah engkau
melakukan ketetapan ini dengan setia. (Ulangan 16:9-12)
Hari Jumat Agung adalah puncak dari Passover dan Paskah adalah puncak dari Firstfruits di dalam
kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Hari Raya Buah Sulung dan Tujuh Minggu menjadi
satu kesatuan penuaian di mana Tujuh Minggu dihitung dari waktu orang mulai menyabit gandum
yang belum dituai pertama kali, yaitu ketika hari Buah Sulung dirayakan dengan memberikan berkas
persembahan unjukan.
Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka menjadi
milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. (1 Korintus 15:23).
Bulan lalu dalam renungan “The Festivals“, kita telah melihat bahwa Kristus sebagai buah sulung dari
hasil tuaian dan menjadi persembahan pertama dan terutama di Hari Raya Buah Sulung lebih dahulu
dari persembahan lain yg mengikutinya sesudah 7 minggu (50 hari). Dan kita melihat pada hari
Pentakosta 2000 tahun yg lalu, ada 3.000 orang bertobat sebagai penuaian Tujuh Minggu mengikuti
Kristus melalui pemberitaan Injil oleh Petrus. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa Tuhan begitu
mengasihi kita yang jahat dan berdosa ini karena Dia menebus kita menjadi serupa dengan gambaran
Anak-Nya. Hari Raya Buah Sulung dan Hari Raya Tujuh Minggu sebagai satu kesatuan membawa
kita diangkat menjadi anak Allah dengan kualitas yang sama sebagai buah sulung bagi TUHAN. Kita
tidak menjadi buah kelas dua atau buah-buah sisa, tetapi atas kehendak-Nya sendiri oleh firman-Nya
kita dijadikan anak sulung di antara semua ciptaan (Yakobus 1:18). Kita ditebus di antara manusia
sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba (Wahyu 14:4).
Akankah kita bersikap pelit menjadi orang Kristen yang menghabiskan semua berkat bagi diri
kita sendiri dengan tidak mengabarkan Injil? Sudahkah kita mencari orang asing dan miskin di
hadapan Allah dan membagikan berkat sukacita dan Roti Hidup melalui Injil Kristus? Sudahkah
kita merayakan sukacita Pentakosta ini bersama-sama keluarga kita (anak laki-laki dan perempuan),
mereka yang tinggal bersama-sama dalam keluarga kita (hamba laki-laki dan perempuan), rekan-
rekan persekutuan di gereja kita (orang-orang Lewi di tempatmu)? Dan sudahkah kita bersukacita
dan melakukan yang perlu bagi dan dengan orang-orang yang paling hina di masyarakat dengan
mengingat bahwa kita melakukannya untuk Tuhan Yesus (orang asing, janda, dan anak yatim)?
Kiranya kita terus mengingat, bahwa kita dahulu pun budak di bawah belenggu dosa, kutukan Taurat,
cengkeraman Iblis, dan bayang-bayang kematian. Dan haruslah kita melakukan ketetapan ini dengan
setia.
Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di Mesir, dan haruslah engkau melakukan
ketetapan ini dengan setia. (Ulangan 16:9-12)
Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena
paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. (2 Korintus 9:7).
Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! Amin.