Rest for Our Soul

Masalah identitas diri dan bagaimana berelasi dengan orang lain senantiasa menjadi tema tiap
generasi yang diangkat menjadi film. Dunia mengagumi cinta dan kehebatan. Ketika menonton
film, mungkin kita mengidentikkan diri dengan tokoh di film itu atau ingin menjadi seperti
(worship) tokoh itu (like others). Manusia adalah makhluk penyembah dan akan menjadi
seperti yang disembahnya dan menemukan rest saat dia menjadi dirinya sendiri yang seharusnya.

Kita hanya dapat menyembah satu tuan. Kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada
mamon. Kita adalah gambar dan rupanya Allah. Ketika berelasi dengan orang lain, kita
seharusnya memiliki pikiran dan perasaan yang ada di dalam Yesus Kristus (like Christ). Hidup
kita adalah untuk belajar kepada Yesus dan memikul kuk yang Ia pasang, karena Dia gentle and
humble in heart
, dan kita akan mendapat rest for our souls. Nyawa manusia jauh lebih berharga
dibandingkan semua isi dunia. (Mat. 6:24, Kej. 1:26, Flp. 2:5, Mat. 11:29, Mat. 16:26)

Rest for our souls bukan berarti rest in peace in our tombs, melainkan rest in
our everyday life.
Kita tidak perlu mengejar hidup like others, tetapi kita harus mengejar hidup
like Christ. Siapakah yang sesungguhnya kita sembah? Kekayaan, Me, atau Allah Pencipta
langit dan bumi dan segala isinya? Alangkah ruginya jika kita menyembah ciptaan. Bagaimana kita melihat diri
kita sendiri dan apa yang penting bagi kita? Apakah kita sering marah ketika kita dirugikan
secara materi atau perasaan? Bagaimana kita melihat orang lain dan berelasi dengan mereka?
Apakah kita lebih sering bersikap arrogant dan memakai force agar mereka melakukan apa
yang kita mau? Apakah kita mengejar kesuksesan hidup in our hands atau menyerahkannya in
His hands
? Apakah kita merasakan rest and ready every moment jika itu menjadi hari terakhir
kita?

Hidup kita kadang seperti berada di dalam perahu, di dalam kegelapan, dan di dalam badai
mengamuk. Seberapa jago kita mengendalikan perahu, seberapa cepat kita membuang air dari
dalam perahu, seberapa canggih teknologi yang kita miliki, itu semua tidak ada gunanya jika
badai tidak berhenti. Betapa mengerikannya jika we are alone. Betapa leganya jika Dia yang
pernah menghardik badai mengerikan menjadi teduh sekali (Mar. 4:35-41) is with us
(Immanuel).

Mengakhiri tahun 2019, marilah kita merenungkan kembali hidup yang telah kita jalani. Mengawali
tahun 2020, marilah kita membulatkan tekad untuk hidup like Christ, belajar pada-Nya dan
memikul kuk-Nya.