Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Rest for Our Soul

Masalah identitas diri dan bagaimana berelasi dengan orang lain senantiasa menjadi tema tiap generasi yang diangkat menjadi film. Dunia mengagumi cinta dan kehebatan. Ketika menonton film, mungkin kita mengidentikkan diri dengan tokoh di film itu atau ingin menjadi seperti (worship) tokoh itu (like others). Manusia adalah makhluk penyembah dan akan menjadi seperti yang disembahnya dan menemukan rest saat dia menjadi dirinya sendiri yang seharusnya.

Kita hanya dapat menyembah satu tuan. Kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon. Kita adalah gambar dan rupanya Allah. Ketika berelasi dengan orang lain, kita seharusnya memiliki pikiran dan perasaan yang ada di dalam Yesus Kristus (like Christ). Hidup kita adalah untuk belajar kepada Yesus dan memikul kuk yang Ia pasang, karena Dia gentle and humble in heart, dan kita akan mendapat rest for our souls. Nyawa manusia jauh lebih berharga dibandingkan semua isi dunia. (Mat. 6:24, Kej. 1:26, Flp. 2:5, Mat. 11:29, Mat. 16:26)

Rest for our souls bukan berarti rest in peace in our tombs, melainkan rest in our everyday life. Kita tidak perlu mengejar hidup like others, tetapi kita harus mengejar hidup like Christ. Siapakah yang sesungguhnya kita sembah? Kekayaan, Me, atau Allah Pencipta langit dan bumi dan segala isinya? Alangkah ruginya jika kita menyembah ciptaan. Bagaimana kita melihat diri kita sendiri dan apa yang penting bagi kita? Apakah kita sering marah ketika kita dirugikan secara materi atau perasaan? Bagaimana kita melihat orang lain dan berelasi dengan mereka? Apakah kita lebih sering bersikap arrogant dan memakai force agar mereka melakukan apa yang kita mau? Apakah kita mengejar kesuksesan hidup in our hands atau menyerahkannya in His hands? Apakah kita merasakan rest and ready every moment jika itu menjadi hari terakhir kita?

Hidup kita kadang seperti berada di dalam perahu, di dalam kegelapan, dan di dalam badai mengamuk. Seberapa jago kita mengendalikan perahu, seberapa cepat kita membuang air dari dalam perahu, seberapa canggih teknologi yang kita miliki, itu semua tidak ada gunanya jika badai tidak berhenti. Betapa mengerikannya jika we are alone. Betapa leganya jika Dia yang pernah menghardik badai mengerikan menjadi teduh sekali (Mar. 4:35-41) is with us (Immanuel).

Mengakhiri tahun 2019, marilah kita merenungkan kembali hidup yang telah kita jalani. Mengawali tahun 2020, marilah kita membulatkan tekad untuk hidup like Christ, belajar pada-Nya dan memikul kuk-Nya.

Yana Valentina

Januari 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk kondisi pandemi COVID-19 yang sudah makin melandai. Berdoa kiranya setiap orang Kristen mengambil kesempatan untuk dapat memberitakan Injil dan membawa jiwa-jiwa kepada Kristus terutama di dalam momen Jumat Agung dan Paskah di bulan ini. Bersyukur untuk ibadah fisik yang sudah dilaksanakan oleh banyak gereja dan bersyukur untuk kesempatan beribadah, bersekutu, dan saling menguatkan di dalam kehadiran fisik dari setiap jemaat.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Bagus

Selengkapnya...

senang dengan penjelasan yang di atas dan memberkati. yang pada intinya pacaran dalam kekristenan adalah berfokus...

Selengkapnya...

Maaf u 99 domba itu Tuhan Yesus tidak mengatakan mereka tidak hilang., melainkan tidak memerlukan pertobatan yang...

Selengkapnya...

terimakasih, bagi saya sangat memberkati karena orang percaya hidup dalam peperangan rohani. karena itu Allah terus...

Selengkapnya...

Bagaimana jika Saat di Rafidim. bgs Israel tidak bersungut-sungut. Melainkan sabar dan kehausan tsb apakah mungkin...

Selengkapnya...

© 2010, 2022 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲