Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Sakit Jiwa

Mengapa banyak orang takut mati dan bukan takut tidak bisa mati? Zaman sekarang makin banyak orang yang hidup ditopang oleh mesin, tidak bisa mati dan tidak bisa hidup yang sesungguhnya. Mesin dan semua peralatan yang bekerja 24 jam sehari bisa membuat mereka tetap bernapas, tetapi mereka tidak dapat berinteraksi dengan siapa pun. Siapa yang mau hidup selama-lamanya namun dalam kondisi demikian? Banyak orang mencari umur panjang dan rela membayar apa saja demi tetap hidup. Pada zaman kerajaan kuno, cara untuk mematikan seseorang bisa cara cepat dan tidak mengakibatkan penderitaan seperti potong kepala, atau cara lambat namun dengan penderitaan setiap hari seperti diracun pelan-pelan dalam makanan. Kejahatan manusia terhadap sesamanya bisa sangat kejam sehingga dunia menjadi tempat yang mengerikan untuk dihidupi. Hidup seperti berjalan di jalan berbatu sambil memegang pagar berduri yang tidak berujung.

Oleh karena itu, dunia sangat merindukan cinta, namun cinta yang didambakan hanyalah pepesan kosong belaka. Cinta diekspresikan dalam semua aspek, mulai dari musik, film, buku, makanan, pakaian, dan lainnya. Cerita cinta selalu menjadi fokus untuk menarik orang dan menghibur orang demi untuk sementara terlepas dari kesengsaraan. Namun yang natural terjadi antarsesama manusia adalah kemarahan dan kebencian. Banyak orang yang berpikir bahwa bunuh diri adalah satu-satunya cara untuk lepas dari pusaran keputusasaan. Masalah kejiwaan menjadi salah satu penyakit utama zaman ini.

Tuhan Yesus tidak mendoakan dunia, Ia mendoakan kita karena kita adalah milik Bapa di sorga, “Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat; kuduskanlah mereka dalam kebenaran; Aku telah memberikan mereka kemuliaan supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu; supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka; supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka” (Yoh. 17:13-26).

Kasih Tuhan bukan untuk mengambil kita keluar dari dunia, tetapi agar kita dilindungi, dikuduskan, disatukan, dikasihi selama kita berada di dalam dunia. Keamanan sejati bukanlah ketika tidak ada musuh, tetapi aman di tengah musuh. Keajaiban Tuhan adalah ketika kita bisa hidup kudus di tengah keberdosaan. Kuasa Tuhan dipamerkan ketika tidak ada satu hal pun yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Kasih Tuhan dibuktikan ketika Ia tidak meninggalkan kita sendirian. Mujizat Tuhan adalah ketika kita bisa bersukacita di tengah dukacita.

Allah adalah kasih, dan kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain (1Yoh. 4:8, 1Kor. 13:4-8). Inilah kasih: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita (1Yoh. 4:10).

Baik mati atau hidup, marilah kita senantiasa mengingat kasih Allah, karena itulah satu- satunya obat bagi masalah kejiwaan kita yang membutuhkan cinta kasih sejati.

Yana Valentina

Januari 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Seminar Reformasi dengan tema “What if No Reformation?” yang telah diadakan pada tanggal 30 Oktober 2021. Bersyukur untuk setiap firman yang telah dibagikan, kiranya melalui seminar ini setiap kita makin mengerti dan menghargai arti Reformasi yang telah dikerjakan oleh para reformator yang telah memengaruhi segala aspek kehidupan kita, dan kiranya Gereja Tuhan tetap dapat mereformasi diri untuk selalu kembali kepada pengertian akan firman Tuhan yang sejati. 

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲