Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Renungan
Paulus Menulis Surat Galatia

Signifikansi Pembelaan Diri Paulus terhadap Iman Kekristenan Hari Ini

17 September 2026 | Melky Alexander Lingga 5 min read

Galatia 1:11-2:21

Surat Galatia adalah surat Paulus yang unik. Salah satu keunikan dari surat ini yaitu bahwa Galatia adalah surat Paulus yang paling emosional. Ketika kita membaca kitab ini, kita bisa merasakan nuansa emosional yang kuat, dan hal ini dilatarbelakangi oleh jemaat Galatia yang dianggapnya begitu lekas berbalik dari Injil yang diberitakannya dan mengikuti suatu injil lain, yang terhadap itu Paulus mengatakan “yang sebenarnya bukan Injil”.

Hal ini terjadi sebelum sidang Yerusalem diadakan, di mana kelompok Kristen Yudais yang berasal dari Yerusalem mengatakan bahwa setiap orang yang ingin menjadi warga Kerajaan Mesianik harus menjadi anggota keluarga Abraham melalui penyunatan dan ketaatan terhadap hukum Taurat. Dengan itu mereka memberitakan Injil yang lain dari yang Paulus beritakan. Lebih dari itu, mereka juga menentang kerasulan Paulus dengan mengatakan bahwa Paulus bukanlah seorang rasul yang sejati karena ia tidak diutus oleh para rasul pertama di Yerusalem, dan ia tidak mempunyai hak memberi petunjuk kepada orang-orang Kristen baru, dan mereka tidak perlu memperhatikan apa yang dia katakan.

Terhadap semua tuduhan itu Paulus merasa perlu baginya untuk membela panggilan dan integritasnya sebagai seorang rasul Kristus kepada jemaat Galatia. Lalu bagaimana Paulus membela panggilan dan integritasnya? Hal ini dia lakukan dengan memaparkan siapa dia dahulu.

Dia mulanya adalah penganiaya jemaat

Seperti yang telah kita ketahui bahwa sebelum pertobatannya, Paulus begitu aktif membela keyakinannya yang lama dengan menganiaya jemaat Kristus. Saulus adalah musuh utama orang Kristen Mula-mula. Dia menyetujui pembunuhan Stefanus, dan secara aktif memburu, menangkap, memenjarakan, dan mendukung hukuman mati bagi pengikut Kristus (Kis. 8:3; 9:1-2; 22:4-5; 26:9-11). Pertanyaannya adalah mengapa musuh Injil bisa menjadi pembela Injil? Tentu saja hal ini terjadi bukan karena frustrasi ataupun demi mencari suatu ketenaran seperti yang banyak terjadi di zaman ini; banyak orang meninggalkan kepercayaannya untuk mendapatkan ketenaran. Namun pertobatannya semata-mata disebabkan oleh perjumpaannya dengan Yesus di dalam perjalanannya menuju Damsyik dengan surat resmi untuk menangkap orang Kristen (Kis. 9:3-6; 22:6-11; 26:12-18). Pertemuan itulah yang memberikan kepadanya kewenangan sebagai seorang rasul (Gal. 1:11-12).

Dia sangat berprestasi di dalam keyakinannya yang lama

Paulus juga sangat berprestasi di dalam keyakinannya yang lama. Dididik secara ketat menurut hukum Taurat (seperti orang Farisi sejati), ia belajar di Yerusalem di bawah Gamaliel, guru Taurat yang sangat dihormati pada masa itu (Kis. 22:3). Di dalam agama Yahudi, ia jauh lebih maju dari banyak teman sebayanya di antara bangsanya, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangnya (Gal. 1:14). Dengan latar belakang ini, Paulus dipastikan memiliki karier yang cerah di dalam ke-yahudi-annya seandainya ia tetap pada keyakinan lamanya. Hal ini menunjukkan kepada kita akan kemurnian imannya sebagai rasul yang dipanggil oleh Allah.

Dia 180 derajat berbalik tanpa pernah bertemu dengan rasul Yerusalem

Hal berikutnya adalah bahwa sejak pertobatannya, Paulus secara drastis berbalik dari penganiaya jemaat menjadi pemberita Injil yang gigih sekalipun dia belum bertemu seorang pun dari rasul Yerusalem. Hal ini secara otomatis memberi keheranan kepada jemaat di Damsyik karena mereka mengetahui bahwa ia adalah orang yang hendak ke sana dengan maksud untuk menangkap dan membawa orang-orang yang percaya kepada Yesus ke hadapan imam-imam kepala di Yerusalem, namun sekarang malah memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat dan menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah (Kis. 9:21). Hal ini juga memberikan keraguan kepada murid-murid yang ada di Yerusalem. Ketika Paulus hendak menggabungkan diri dengan murid-murid di sana, mereka takut kepadanya karena mereka tidak dapat percaya bahwa ia juga seorang murid (Kis. 9:26).

Dia sejalan dengan para rasul Yerusalem

Penting untuk digarisbawahi bahwa di dalam pengajarannya, Paulus sejalan dengan para rasul Yerusalem. Karena setelah mereka melihat bahwa kepadanya telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tidak bersunat (orang-orang bukan Yahudi), sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat (orang-orang Yahudi), dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadanya (melalui perjumpaannya dengan Kristus yang bangkit), maka Yakobus, Kefas, dan Yohanes berjabat tangan dengannya dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya mereka pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan para rasul Yerusalem kepada orang-orang bersunat.

Dia memegang teguh panggilannya, at any cost!

Surat Galatia ditulis kurang lebih sekitar 48-49 M di Antiokhia, yaitu sekitar 14-15 tahun setelah pertobatan Paulus (33-34 M), dan selama itu dia telah memegang teguh panggilannya at any cost. Dia telah mengelilingi Pulau Siprus dan provinsi Galatia selatan di dalam perjalanan misinya yang pertama dan mengalami banyak sekali kesusahan di dalam perjalanannya memberitakan Injil.

Paulus juga membela integritasnya dengan menunjukkan bahwa ia tidak berkompromi. Paulus tidak ragu-ragu secara terang-terangan menentang Petrus di Antiokhia ketika Petrus menghentikan kebiasaannya untuk makan bersama-sama dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi di sana hanya karena beberapa orang Kristen Yahudi tiba dari Yerusalem (Gal. 2:11). Dan sepanjang yang kita ketahui, Petrus tidak menolak teguran yang disampaikan kepadanya pada kesempatan tersebut.

Berdasarkan pembelaan Paulus di atas, kita dapat melihat bahwa ia adalah rasul sejati yang memiliki kredibilitas sebagai pemberita Injil Kristus, tidak seperti yang telah dituduhkan oleh kelompok Kristen Yudais terhadap dirinya. Namun sekarang, pembelaan Paulus ini bukan hanya menjadi pembelaan terhadap dirinya sendiri, melainkan ini juga menjadi pembelaan bagi iman Kristen, khususnya dalam menghadapi kelompok yang mengeklaim bahwa Paulus telah memberi gagasan baru di dalam ketiga belas suratnya di Perjanjian Baru yang tidak seturut dengan ajaran Perjanjian Lama dan ajaran Kristus. Paulus adalah seorang Yahudi yang memegang ajaran Yahudi dengan ketat yang telah berjumpa secara pribadi dengan Kristus, yang telah menetapkannya menjadi rasul untuk orang-orang bukan Yahudi, dan ia telah dengan setia menunaikan tugas dan panggilannya untuk menyatakan firman Allah kepada dunia oleh kuasa Roh Kudus. Saat ini, sebagaimana orang Kristen Mula-mula, seluruh kekristenan mengakui ketiga belas surat Paulus sebagai firman Allah yang setara dengan Perjanjian Lama yang telah memberkati dan mempertumbuhkan iman jutaan orang Kristen di segala zaman.

Melky Alexander Lingga

Mahasiswa STTRII Konsentrasi Misiologi

Tag: Galatia, injil, Paulus, Perjanjian Baru, pertobatan

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII