The Day of the Lord

Hari itu pun tiba. Banyak petugas dan polisi datang ke kawasan kumuh yang akan digusur itu.
Berpuluh-puluh mobil petugas dan sebuah mobil pemadam kebakaran parkir di sepanjang jalan, siap
untuk digunakan jika diperlukan. Jalanan itu pun ditutup oleh petugas, sehingga mobil yang hendak
melintasinya harus berbagi dengan jalur sebaliknya. Banyak orang berada di jalan itu, banyak yang
berdiri diam dan menonton. Ternyata ada sebuah ekskavator sedang merobohkan sebuah rumah
bedeng. Besar kemungkinan semua rumah sementara yang berada di sepanjang jalan itu akan
mengalami nasib yang sama.

Dapatkah para penghuni rumah sementara itu memprotes apa yang dilakukan aparat? Mereka
mendirikan bangunan di lahan kosong milik pemerintah, walaupun mereka mengaku membayar
sejumlah uang tetapi apakah itu resmi dari pemerintah? Sudah bertahun-tahun mereka tinggal
di tempat itu, mereka sudah mengisi rumah mereka dengan segala keperluan mereka. Hari itu
mereka terpaksa mengeluarkan seluruh miliknya dan memindahkannya ke tempat lain. Mereka
tidak memiliki hak yang sah untuk menempati tempat itu. Tetapi pertanyaannya, mengapa mereka
bisa membangun di sana dan tinggal di sana selama bertahun-tahun? Selama itu kelihatannya
pemerintah seperti tidak ada, dia tidak melarang ataupun mengiyakan, dia tidak bertindak apa-apa.
Tetapi lahan itu tetap adalah miliknya dan ia berhak untuk mengambilnya setiap saat. Para penghuni
ilegal itu tidak memiliki hak apa-apa.

Taman Eden adalah milik Tuhan. Di sanalah kedaulatan Tuhan dinyatakan. Tuhan menempatkan
Adam dan Hawa di sana untuk berkuasa atas segala ciptaan-Nya yang lain. Tetapi ketika mereka
melanggar perintah Tuhan, mereka tidak boleh berada di Taman Eden itu lagi, mereka harus keluar.

Tuhan adalah pencipta langit dan bumi. Apapun, siapapun yang tidak mau tunduk pada perintah
dan kehendak-Nya tidak berhak menikmati apapun ciptaan-Nya, tidak berhak menginjakkan kakinya
di atas bumi ini, bahkan tidak berhak menikmati nafas yang diberikan-Nya! Orang fasik (wicked)
mengatakan “Tidak ada Allah, Allah melupakannya. Ia menyembunyikan wajah-Nya, dan tidak akan
melihatnya untuk seterusnya. Engkau tidak menuntut” (Mzm. 10:4, 11, 13). Orang dikatakan fasik,
jahat jika ia tidak mengakui kedaulatan Allah. Ia mengatakan tidak ada Allah sebagai perlawanannya
terhadap kedaulatan-Nya, ia merendahkan Allah dengan mengatakan Dia tidak bisa berbuat apa-apa
terhadapnya. Ia tidak sadar bahwa ia sedang memupuk kemarahan Tuhan, ia sedang bermain-main
dengan waktu Tuhan. Jika hari Tuhan tiba (the day of the Lord), hari penghakiman itu, ia akan lenyap
dari tanah-Nya. Tuhan adalah Raja untuk seterusnya dan selama-lamanya. Bangsa-bangsa lenyap
dari tanah-Nya (Mzm. 10:16).

Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah
keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN
(Zefanya 2:3).