Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Tuhan, Ambillah Nyawaku

Krisis moneter 1998 membuat banyak orang (dewasa) melakukan bunuh diri, tetapi sekarang banyak anak muda bunuh diri karena mendapat nilai jelek di sekolah atau karena cyberbullying. Alkitab mencatat beberapa orang yang bunuh diri di luar relasi dengan Tuhan, seperti:
- Yudas berkata, “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tidak bersalah” lalu menggantung diri. (Mat. 27:4-5)
- Saul mengambil pedang dan menjatuhkan dirinya ke atasnya. (1Sam. 3:4)
- Ahitofel, penasihat raja Daud yang nasihatnya dinilai sama dengan petunjuk dari Allah (2Sam. 6:23), menggantung diri ketika nasihatnya tidak dipedulikan oleh Absalom.

Alkitab juga mencatat tokoh besar yang ingin mengakhiri hidupnya, dan menyampaikannya kepada Tuhan:
- Elia mengatakan, “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku” (1Raj. 19:4). Tuhan mengangkat Elia ke sorga dengan kereta berapi dan kuda berapi (2Raj. 2:11).
- Ayub mengatakan, “Kiranya Allah berkenan meremukkan aku, kiranya Ia melepaskan tangan-Nya dan menghabisi nyawaku!” (Ayb. 6:9) Tuhan memulihkan Ayub dan ia melihat anak cucunya sampai keturunan yang keempat (Ayb. 42:16).
- Yunus mengatakan, “Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup” (Yun. 4:3). Tuhan berfirman, “Layakkah engkau marah?” (Yun. 4:4).
- Simson meminta Tuhan mengembalikan kekuatannya dan mengatakan, “Biarlah kiranya aku mati bersama-sama orang Filistin ini” (Hak. 16:30). Alkitab mencatat “Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak daripada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya” (Hak. 16:30).

Apakah masalah kita sedemikian besar dan rumit sehingga tidak mungkin diselesaikan oleh Tuhan yang Mahakuasa dan Pengasih? Apakah mengancingkan baju sekolah sedemikian susah bagi anak kecil sehingga dia hanya bisa menangis terus? Bukankah orang tuanya siap dan akan senang untuk membantunya? Bartimeus yang tidak bisa melihat, berteriak meminta pertolongan Yesus walaupun orang banyak menyuruhnya untuk diam. Yesus mendengar dan dengan senang hati mencelikkan matanya (Mat. 10:46-52). Marilah kita terus berdoa walaupun dunia menyuruh kita untuk berhenti memanggil nama Tuhan. Tuhan akan dengan senang hati mencelikkan mata rohani kita sehingga kita bisa menyanyikan “isi dunia menjadi suram oleh sinar kemuliaan-Nya”. Inilah pengharapan yang nyata dari orang yang menantikan Tuhannya. Mari menyambut bulan Natal dengan kesadaran akan pengharapan yang sesungguhnya, karena Kristus telah datang dan akan datang kembali.

Yana Valentina

November 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk kondisi pandemi COVID-19 yang sudah makin melandai. Berdoa kiranya setiap orang Kristen mengambil kesempatan untuk dapat memberitakan Injil dan membawa jiwa-jiwa kepada Kristus terutama di dalam momen Jumat Agung dan Paskah di bulan ini. Bersyukur untuk ibadah fisik yang sudah dilaksanakan oleh banyak gereja dan bersyukur untuk kesempatan beribadah, bersekutu, dan saling menguatkan di dalam kehadiran fisik dari setiap jemaat.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Bagus

Selengkapnya...

senang dengan penjelasan yang di atas dan memberkati. yang pada intinya pacaran dalam kekristenan adalah berfokus...

Selengkapnya...

Maaf u 99 domba itu Tuhan Yesus tidak mengatakan mereka tidak hilang., melainkan tidak memerlukan pertobatan yang...

Selengkapnya...

terimakasih, bagi saya sangat memberkati karena orang percaya hidup dalam peperangan rohani. karena itu Allah terus...

Selengkapnya...

Bagaimana jika Saat di Rafidim. bgs Israel tidak bersungut-sungut. Melainkan sabar dan kehausan tsb apakah mungkin...

Selengkapnya...

© 2010, 2022 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲