What has Lost?

Apa yang hilang dari hidup kita sebagai manusia? Ada yang mengatakan bahwa masalah
terbesar manusia adalah penerimaan/acceptance. Sejak seorang manusia lahir ke dalam dunia
ini, dia harus diterima oleh orang yang membantu proses kelahirannya. Bahkan selagi ia
masih di dalam kandungan ibunya, ia harus diterima oleh ibunya (jika tidak, mungkin akan
diaborsi). Setelah ia dilahirkan, dia harus diterima oleh orang yang akan mengasuhnya
sampai dia bisa mengasuh dirinya sendiri. Setelah besar, ia harus diterima oleh teman-teman
sebayanya. Untuk memperoleh pendidikan yang memadai, ia harus diterima oleh lembaga
pendidikan tertentu. Bahkan untuk mendapatkan nafkah, ia harus diterima untuk bekerja.
Untuk bisa berkeluarga, ia harus diterima oleh calon pasangannya. Bahkan oleh dirinya
sendiri, bagaimana ia bisa menerima kenyataan hidupnya sendiri. Dan terakhir, ia harus
diterima untuk bisa masuk sorga. Banyak syarat dan ketentuan yang berlaku, agar dia bisa
diterima untuk apa pun dan oleh siapa pun. Penerimaan adalah masalah sepanjang hidup.

Tetapi bagaimana manusia bisa beres dalam hal penerimaan? Manusia bisa menjadi sejahat-
jahatnya, bisa juga menjadi sebaik-baiknya. Akan tetapi sesungguhnya hati semua manusia
adalah jahat di mata Tuhan, karena manusia telah kehilangan kemuliaan Tuhan. Tidak ada
seorang pun yang memiliki keinginan yang murni dan hak istimewa untuk berelasi dengan
Tuhan setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Manusia diusir pergi dari Taman Eden. Manusia
kehilangan penerimaan Tuhan, dan terus mencari penerimaan dari sesamanya maupun dari
materi untuk memenuhi kegalauan hidupnya. Tetapi solusi sesungguhnya, satu-satunya
Juruselamat adalah tangan Tuhan yang terulur ke dunia untuk menarik kita kembali ke
Taman Eden. Seperti film All is Lost, di mana orang yang terjebak di dalam perahunya
di lautan bebas, terpaksa melakukan apa pun demi menjaga hidupnya. Namun pada akhirnya
semuanya hilang, dan ia hanya bisa memandang langit dari dalam air laut, sementara
tubuhnya terus tenggelam. Tiba-tiba, ada tangan yang terulur masuk dan menarik dia ke atas
serta menyelamatkannya.

Masalah penerimaan bisa diselesaikan ketika seseorang menerima kenyataan bahwa Tuhan
menerimanya bagaimana pun kehancuran hidupnya; bagaimana ia menyadari bahwa
kehilangan yang sesungguhnya adalah kehilangan kemuliaan Tuhan dalam diri-Nya, bukan
kehilangan kesehatan, kekayaan, keluarga, dan sebagainya; dan ketika berita sukacita dari
sorga menggema dalam hatinya, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan
damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14)
sebagaimana disampaikan oleh para malaikat.

Kiranya kepedihan kita terhadap kehilangan kemuliaan Tuhan menjadi sukacita yang tidak
ada habis-habisnya ketika Anak Manusia itu lahir ke dalam dunia. Selamat hari Natal!