Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

What has Lost?

Apa yang hilang dari hidup kita sebagai manusia? Ada yang mengatakan bahwa masalah terbesar manusia adalah penerimaan/acceptance. Sejak seorang manusia lahir ke dalam dunia ini, dia harus diterima oleh orang yang membantu proses kelahirannya. Bahkan selagi ia masih di dalam kandungan ibunya, ia harus diterima oleh ibunya (jika tidak, mungkin akan diaborsi). Setelah ia dilahirkan, dia harus diterima oleh orang yang akan mengasuhnya sampai dia bisa mengasuh dirinya sendiri. Setelah besar, ia harus diterima oleh teman-teman sebayanya. Untuk memperoleh pendidikan yang memadai, ia harus diterima oleh lembaga pendidikan tertentu. Bahkan untuk mendapatkan nafkah, ia harus diterima untuk bekerja. Untuk bisa berkeluarga, ia harus diterima oleh calon pasangannya. Bahkan oleh dirinya sendiri, bagaimana ia bisa menerima kenyataan hidupnya sendiri. Dan terakhir, ia harus diterima untuk bisa masuk sorga. Banyak syarat dan ketentuan yang berlaku, agar dia bisa diterima untuk apa pun dan oleh siapa pun. Penerimaan adalah masalah sepanjang hidup.

Tetapi bagaimana manusia bisa beres dalam hal penerimaan? Manusia bisa menjadi sejahat- jahatnya, bisa juga menjadi sebaik-baiknya. Akan tetapi sesungguhnya hati semua manusia adalah jahat di mata Tuhan, karena manusia telah kehilangan kemuliaan Tuhan. Tidak ada seorang pun yang memiliki keinginan yang murni dan hak istimewa untuk berelasi dengan Tuhan setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Manusia diusir pergi dari Taman Eden. Manusia kehilangan penerimaan Tuhan, dan terus mencari penerimaan dari sesamanya maupun dari materi untuk memenuhi kegalauan hidupnya. Tetapi solusi sesungguhnya, satu-satunya Juruselamat adalah tangan Tuhan yang terulur ke dunia untuk menarik kita kembali ke Taman Eden. Seperti film All is Lost, di mana orang yang terjebak di dalam perahunya di lautan bebas, terpaksa melakukan apa pun demi menjaga hidupnya. Namun pada akhirnya semuanya hilang, dan ia hanya bisa memandang langit dari dalam air laut, sementara tubuhnya terus tenggelam. Tiba-tiba, ada tangan yang terulur masuk dan menarik dia ke atas serta menyelamatkannya.

Masalah penerimaan bisa diselesaikan ketika seseorang menerima kenyataan bahwa Tuhan menerimanya bagaimana pun kehancuran hidupnya; bagaimana ia menyadari bahwa kehilangan yang sesungguhnya adalah kehilangan kemuliaan Tuhan dalam diri-Nya, bukan kehilangan kesehatan, kekayaan, keluarga, dan sebagainya; dan ketika berita sukacita dari sorga menggema dalam hatinya, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14) sebagaimana disampaikan oleh para malaikat.

Kiranya kepedihan kita terhadap kehilangan kemuliaan Tuhan menjadi sukacita yang tidak ada habis-habisnya ketika Anak Manusia itu lahir ke dalam dunia. Selamat hari Natal!

Yana Valentina

Desember 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Sidang Tahunan Sinode (STS) GRII yang diadakan pada tanggal 28-30 Desember 2020. Berdoa kiranya melalui STS ini, setiap cabang GRII dapat mengerti visi dan misi Gerakan Reformed Injili dan dimampukan Tuhan untuk bekerja sama satu dengan yang lainnya demi mencapai visi dan misi tersebut. Berdoa untuk setiap pemimpin Gerakan Reformed Injili, kiranya Roh Kudus mengurapi mereka dalam memimpin dan melayani zaman ini dengan kepekaan dan pengertian akan kehendak dan isi hati Tuhan.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲