Kebaktian dengan jumlah massa besar dan pesan utama yang memberitakan Kristus Yesus yang tersalib mungkin sudah mulai jarang terjadi di dunia, apalagi di Indonesia. Dalam sejarah modern Protestan, khotbah Billy Graham pada 1973 di Seoul mencapai jumlah kehadiran terbanyak; sekitar 1,1 juta orang yang hadir dalam satu waktu dan venue yang sama. Memang tidak tentu momen-momen seperti ini akan terulang, dan terkadang memang tidak akan pernah terjadi lagi. Namun demikian, kebaktian pengabaran Injil yang mengumpulkan banyak orang pada satu tempat dan satu waktu yang sama masih diperlukan oleh zaman ini.
Selain pentingnya firman dan Injil yang murni diberitakan, manusia juga perlu untuk dipertemukan dengan murka Tuhan, tuntutan pertobatan, dan komitmen pembaruan hidup kepada Allah dalam kebaktian kristiani yang sehat. Dan biasanya, kebaktian-kebaktian massa besar untuk kebangunan rohani menekankan hal tersebut; menuntut orang-orang yang hadir untuk berada pada momen eksistensial dalam hidup mereka.
Sisi lain dari kebaktian yang melibatkan jumlah massa besar adalah terciptanya suatu awareness sosial dan atensi yang lebih luas di ruang publik. Terlepas dari beragam respons yang muncul, dari dulu pesan iman Kristen memang telah mengisi ruang publik. Pengajaran-pengajaran Kristus terjadi di ruang publik, mukjizat yang Ia lakukan berada di ruang publik, bahkan penyaliban Kristus pun terjadi di ruang publik; sengaja dipertontonkan kepada khalayak ramai, masyarakat Yerusalem. Kesaksian Injil, sedari awal mulanya, tidak dapat dilepaskan dari kesaksian di ruang publik, menarik atensi dan kesadaran masyarakat sekitar untuk melihat, memikirkan, dan berespons terhadap intervensi Allah atas hiruk-pikuk hidup mereka. Dan intervensi itu adalah kenyataan sejarah bahwa Allah Anak pernah hadir di muka bumi untuk menebus dan mengembalikan hidup mereka kepada kehendak Allah Bapa yang kekal.
Kembali kepada kebaktian massa besar. Ketika kegiatan ini diupayakan, dalam rangka memberitakan firman dan Injil yang murni, kerja-kerja kolektif dari kegiatan semacam ini memunculkan potensi untuk terbangunnya kelekatan yang lebih erat di antara beragam individu dan kelompok Kristen yang mungkin jarang berinteraksi. Solidaritas sosial terbentuk, didasarkan pada ekspresi dari pokok iman yang harus diperjuangkan bersama; pemberitaan atas Kristus yang tersalib, yang mati dan bangkit, dan yang akan kembali untuk menghakimi dunia. Solidaritas kolektif semacam ini sangat diperlukan oleh tubuh Kristus di Indonesia, juga dunia, jika kita menyadari bahwa tantangan bagi gereja tidak pernah sederhana dan sepele.
Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) memang tidak meniadakan tanggung jawab kristiani untuk mengabarkan Injil secara pribadi, ataupun secara kolektif pada skala kecil. Tetapi, hal sebaliknya juga berlaku bahwa kelompok-kelompok kristiani dapat, dan bahkan perlu, untuk mengupayakan secara bersama pemberitaan Injil kepada massa yang lebih luas. Ini dikarenakan oleh, setidaknya dalam argumentasi saya, pertama, peristiwa kematian Allah Anak di kayu salib memiliki signifikansi ultimat dan absolut dalam seluruh keberadaan narasi ciptaan. Tidak ada hal lain di dunia ini yang punya nilai kepentingan, dan kegentingan, lebih tinggi dari kematian Allah Anak di kayu salib.
Kedua, karena pemberitaan tentang pesan Ilahi kepada banyak orang dalam satu waktu dan satu tempat yang sama selalu hadir dalam narasi umat Allah di sepanjang sejarah; baik dalam narasi Alkitab, maupun dalam narasi sejarah gereja. Yang saya maksud “selalu hadir” bukan berarti muncul setiap waktu secara berkala (setiap bulan, setiap tahun, dan atau sejenisnya), melainkan di sepanjang sejarah iman Kristen pemberitaan massal seperti ini pasti selalu memiliki porsinya di dalam sejarah penebusan. Ketika Allah ingin membangkitkan (atau bahkan menghakimi) umat-Nya pada satu kurun waktu tertentu, pemberitaan massal pasti mendapatkan tempatnya dalam kejadian tersebut.
Menilik Kebaktian Jumat Agung di Indonesia Arena
Saya melihat, Kebaktian Jumat Agung yang bisa kita selenggarakan di kompleks Gelora Bung Karno (GBK) pada 3 April 2026 lalu juga merupakan berkat tersendiri bagi Gerakan Reformed Injili (GRI). Karena bagaimanapun juga, gerakan kolektif yang kohesif memerlukan sarana dan momentum. Kerja bersama yang padu memungkinkan tercapainya dampak Injil yang lebih luas; suatu kondisi yang tidak dapat dicapai bila dikerjakan secara terpisah/mandiri. Bersyukur sekali kepada Tuhan, pada tanggal tersebut ada sekitar 11.000 jiwa yang hadir di Indonesia Arena untuk memperingati salah satu hari terpenting dalam iman umat kristiani. Pada hari itu sakramen perjamuan kudus juga dapat berjalan. Hal ini menuntun benak kita kepada bayang-bayang dari masa lalu, dan pengharapan eskatologis di masa depan, yang bertemu pada satu titik; titik ketika roti dan cawan itu diangkat dan terdengar seruan: “Inilah tubuh-Ku yang Kupecahkan bagimu,” dan, “Inilah darah-Ku yang ditumpahkan bagi kamu.”
Tubuh Kristus yang dipecahkan, dan darah-Nya yang ditumpahkan, menjadi tanda pendamaian. Allah Anak dikorbankan, supaya musuh-musuh Allah dapat dipertobatkan, dan didamaikan, dari murka Allah Bapa yang dahsyat. Pdt. Dr. Stephen Tong membawakan pesan Alkitab tersebut di dalam stadion Indonesia Arena. Perdamaian yang pertama melalui kematian Kristus adalah manusia diperdamaikan dengan Allah. Bukan supaya setelahnya manusia dapat hidup suka-suka karena jaminan surga, bukan. Perdamaian ini dikerjakan supaya manusia, yang tidak jadi binasa, menyerahkan hidupnya untuk diperbarui dan dikembalikan kepada Sang Tuan. Diperdamaikan dengan Allah agar hidup sungguh-sungguh bagi Dia, bukan bagi dunia.
Beliau melanjutkan, dari hidup yang diperdamaikan dengan Allah, baru dimungkinkan terjadi perdamaian-perdamaian selanjutnya; berdamai dengan diri, berdamai dengan orang lain, menjadi pendamai antar sesama manusia yang bertikai, dan terakhir mengajak orang supaya berdamai dengan Allah (penginjilan). Pdt. Dr. Stephen Tong menambahkan, sayangnya orang semacam demikian sangat sedikit. Di manakah kita semua yang sudah Kristen kalau orang-orang semacam demikian justru makin sedikit? Bukankah angka penganut agama Kristen adalah yang terbesar di dunia? Apakah itu berarti banyak orang beragama Kristen tetapi tidak pernah membawa orang untuk mengenal dan diperdamaikan dengan Allah?
Dari sini kita jadi menyadari, tanda sejati dari orang yang telah diperdamaikan dengan Allah adalah di dalam hidupnya ia akan berjuang dengan segenap kapasitas untuk membawa orang lain mengenal Tuhan. Tidak harus ia menjadi seorang rohaniwan. Ia bisa merupakan seorang profesional, akademisi, cendekiawan, montir, supir, pengusaha, staf ahli, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Dalam Alkitab, ada Priskila dan Akwila, dalam sejarah gereja ada Monika, ibu dari Agustinus, dan masih banyak lagi.
Refleksi Jumat Agung
Kalau memperhatikan perjalanan dari masa ke masa, apa harta terbaik yang dapat diwariskan bagi generasi muda masa kini? Berkaca dari Kebaktian Jumat Agung lalu, salah satu harta terbaik untuk generasi muda Kristen pada tiap masa adalah hadirnya figur-figur teladan yang mengasihi Tuhan dalam tiap zaman. Saya jadi khawatir, betapa miskinnya kita kalau di sepanjang masa hidup kita tidak ada lagi orang-orang yang genuinely mengasihi Allah di sekitar kita; baik itu di keluarga kita, di gereja kita, di masyarakat kita, dan di zaman kita. Kita miskin bukan karena kurang uang. Kita miskin bukan karena kurang kepemilikan barang. Kita miskin karena tidak ada lagi orang-orang yang mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh di dalam masa hidup kita.
Di sepanjang sejarah, kekristenan maju bukan karena banyak orang Kristen yang makmur, bukan karena banyak orang Kristen yang senang-senang. Kekristenan di sepanjang sejarah maju karena banyak orang Kristen yang mau berjuang mengasihi Allah, mengenal Allah, dan hidup menggenapkan kehendak Allah di dunia. Saya mengutip pernyataan Pdt. Budi Sutrisno, Gembala Sidang MRII Lampung, dalam salah satu cuplikan khotbahnya: “Selama ini kita mengabaikan firman Tuhan. Tidak ada sensitivitas lagi. Kita pribadi tidak peka lagi pada pimpinan Tuhan atas hidup kita. Ya bagaimana kita mau peka pimpinan Tuhan atas gereja? Apalagi pimpinan Tuhan dalam zaman ini, kalau pimpinan Tuhan atas diri kita saja kita tidak mau taat.”[1]
Akhir kata dari refleksi singkat Jumat Agung Indonesia Arena, apakah kita mau makin taat, makin peka, makin paham kehendak Tuhan atas hidup kita, gereja kita, dan zaman kita? Kalau iya, saya percaya itu tanda dari pekerjaan Allah Roh Kudus atas hidup Anda dan saya yang sudah diperdamaikan dengan Allah. Jika belum, mari kita dengan rendah hati datang kepada Tuhan, memohon kepada Tuhan dengan sungguh dan bertobat, berbalik dari cara pikir dan cara hidup kita yang lama. Kalau tidak, setiap kegiatan religi yang kita alami nantinya hanya menjadi kegiatan simbolik saja.
Jikalau ada istilah “Kristen nominal” atau “Kristen KTP” yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi kehidupan orang Kristen yang jauh dari nilai-nilai pokok kristiani, mungkinkah juga terminologi “Reformed nominal” atau “Reformed KTP” bisa saja mencuat sebagai penanda bagi diri kita? Pada akhirnya sungguh kita memang perlu berseru, bertobat, dan kembali mengikuti Dia sebagai Tuhan. Kematian Anak-Nya tidak pernah diperuntukkan agar kita terbebas dari maut dan kemudian hidup bagi dunia sambil menantikan surga. Allah Anak mati supaya kita kembali hidup untuk melayani kehendak Bapa, Sang Empunya dunia, surga, dan neraka. Oh Tuhan, datanglah segera. Maranatha! Amin.
Nikki Tirta
Dosen Calvin Institute of Technology.
[1] Sumber: Instagram MRII Lampung.
