Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Tak Berkategori

Damai Kristus dan Eksistensialisme Kierkegaard Sebagai Dasar Penginjilan

21 Mei 2026 | Mario Aron Jeremy 9 min read

Di dalam sejarah gereja, hari kebangkitan Yesus, yakni Paskah, bukan merupakan peringatan yang hanya dirayakan dalam satu hari di mana Yesus bangkit saja, melainkan di dalam satu musim. Hal ini dinyatakan di dalam Alkitab, yakni di Kisah Para Rasul 1:3 di mana Yesus bangkit dan menampakan diri-Nya berkali-kali, berhari-hari; bukan di dalam satu hari yang bersamaan ke seluruh murid. Selama 40 hari itulah yang disebut dengan “musim” Paskah, yang sama-sama bersifat musiman seperti perayaan Minggu Penantian (Advent, sebelum Natal) dan Minggu Pra-paskah (Lent, sebelum Paskah). Kristus bangkit, dan bukan hanya bangkit, tetapi selama 40 hari Dia menampakkan diri-Nya kepada orang-orang yang Dia kasihi, sehingga dapat dikatakan bahwa para saudara mengalami kebangkitan Kristus juga di dalam dimensi yang lebih personal. Oleh karena itu, karena tulisan ini ditulis masih saat musim Paskah 2026, tulisan ini akan membahas hal terkait tentang Jumat Agung dan Paskah.

Pada tanggal 3 April 2026, Gerakan Reformed Injili telah mengadakan KKR Jumat Agung di Indonesia Arena. Kita bersyukur bahwa ada lebih dari 14.000 orang yang boleh datang atas undangan Tuhan untuk mendengar Firman yang disampaikan oleh hamba-Nya Pdt. Stephen Tong. Pada KKR tersebut, Pdt. Stephen Tong berkhotbah yang berjudul “Kematian yang Memperdamaikan”. Dalam khotbahnya, Pdt. Stephen Tong memberikan 5 point penting yang merupakan hasil dari kematian Kristus yang dapat kita renungkan: Kematian Kristus menjadikan kita dapat berdamai dengan Allah, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain, memperdamaikan orang lain dengan orang lain, memperdamaikan orang lain dengan Allah.

Jikalau kita perhatikan, ke-5 poin ini sifatnya sekuensial (berlangsung secara berurutan). Mengapa hal ini sekuensial? Karena kita tidak dapat mengubah urutannya. Ketika kita merenungkan poin tersebut, poin yang belakangan (latter points) tidak dapat berdiri tanpa poin yang terdahulu (former points). Berdamai dengan diri sendiri tidak mungkin terjadi tanpa adanya perdamaian dengan Allah, dan baru ketika kita berdamai dengan Allah, kita bisa berdamai dengan orang lain, dan seterusnya.  Namun, setelah kita mengetahui karya Kristus di kayu salib agar kita boleh berdamai dengan Allah, bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri?

Seorang filsuf Kristen Lutheran yang adalah seorang bapak filsafat eksistensialisme bernama Soren Aabye Kierkegaard di dalam bukunya, Concluding Unscientific Postscript to Philosophical Fragments, menyatakan suatu ide tentang kebenaran, yakni Subjectivity of Truth. Dalam pemikirannya, Kierkegaard TIDAK mengatakan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang subyektif, seakan-akan berkata: “untukmu kebenaranmu, untukku kebenaranku” ala postmodernist. Kierkegaard percaya bahwa kebenaran itu sifatnya objektif, tetapi kebenaran yang sifatnya objektif tidak boleh hanya berhenti menjadi sebagai satu hal di luar diri seorang yang menyaksikannya, melainkan kebenaran tersebut harus masuk, ber-inkarnasi, ke dalam jiwa sang pengamat. Kebenaran tersebut harus menjadi komitmen eksistensial sang pengamat. Inilah yang disebut subjektivitas kebenaran. Jikalau dokter memberi hasil analisis kepada dua pasien sakit kritis, yang satu mengerti analisisnya tetapi pola hidupnya tidak berubah, sedangkan yang lain tidak mengerti analisisnya tetapi percaya terhadap dokter, maka yang satu akan hidup dan yang lain tidak. Pertanyaan besar bagi kita adalah: setelah kita mengetahui bahwa Kristus disalibkan dan mati untuk memperdamaikan kita dengan Allah, maka selanjutnya apa?

Kembali ke khotbah Pdt Stephen Tong, sekuens selanjutnya adalah perdamaian dengan diri sendiri. Bagaimana kita bisa berdamai dengan diri sendiri? Kita harus mengerti apa itu “diri”. Di dalam buku Kierkegaard yang lain, yakni The Sickness Unto Death, dia menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang berpribadi. Apa itu diri? Diri adalah sebuah relasi yang mengikat diri dengan diri. Diri tersebut, utamanya, adalah relasi, yang berelasi dengan diri kita sendiri. Bagaimana mengerti hal rumit ini? Singkatnya, Kierkegaard berusaha mengatakan bahwa diri manusia itu bukan satu benda statis, tetapi diri kita adalah sebuah sintesis di dalam ruang dan waktu. Kita bercakap-cakap dengan diri sendiri.

Apa arti dari sintesis? Sintesis adalah penyatuan dari dua hal yang berbeda, menjadi satu kesatuan yang utuh. Misalnya: Air dingin dan air panas bersintesis menjadi air hangat. Dalam konteks diri, jiwa kita adalah sintesis antara hal-hal yang berseberangan: yang terbatas dengan yang tidak terbatas, yang kekal dan sementara, yang kebutuhan dan kemungkinan. Kita menyadari bahwa kita punya fisik dan waktu terbatas, tetapi kita punya mimpi dan harapan yang tidak terbatas; di dalam kesementaraan, kita hidup, bekerja, dan makan, tetapi kita punya pikiran akan hal yang kekal seperti tujuan dan makna hidup. Ketika bersintesis, diri kita tidak menjadi kekal atau tidak kekal secara penuh, tidak menjadi sekedar terbatas atau tidak terbatas, maupun tidak hanya realistis atau optimis. Diri kita bersintesis untuk menjadi sesuatu di antara ketegangan-ketegangan tersebut, dan di dalam prosesnya kita sadar bahwa kita adalah makhluk yang memiliki diri yang utuh dan seimbang, dan sadar bahwa kita berelasi dengan sesuatu yang lain.

Ketika diri kita bersintesis, kita sedang sadar menilai diri kita sendiri. Kita sadar bahwa kita hanyalah sementara, tetapi kita tahu bahwa kita harus punya nilai-nilai yang baik, yang sifatnya kekal. Kita menilai diri kita sendiri di hadapan Yang Kekal, yakni Allah. Jadi, ketika kita berelasi dengan diri kita sendiri, kita pun juga sedang berhadapan dengan Allah – berelasi dengannya. Inilah yang dimaksud Kierkegaard bahwa diri berelasi dengan diri dan kemudian berelasi dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain tersebut adalah Allah.

Manusia seharusnya berelasi dengan Allah, karena hanya dengan cara tersebutlah manusia boleh berelasi dengan aktif dan berdamai dengan diri sendiri. Namun, banyak manusia yang tidak berelasi dengan Allah, dan itu mengakibatkan apa yang Kierkegaard katakan sebagai keputusasaan (despair). Keputusasaan bukanlah hanya sekedar perasaan emosional, tetapi kondisi jiwa, yakni ketika manusia yang seharusnya menemukan peristirahatan di dalam Allah, tetapi tidak terjadi. Terdapat tiga jenis keputusasaan: putus asa karena tidak mau menjadi diri sendiri, putus asa karena terlalu ingin menjadi diri sendiri (tanpa Tuhan), dan putus asa karena diri tidak sadar akan pendiriannya. Ringkasnya, manusia putus asa karena terlalu membenci dirinya, karena terlalu mencintai dirinya, dan tidak sadar atau peduli bahwa dia adalah seorang pribadi. Keputusasaan membuat manusia kehilangan dirinya, merasa kosong, gelisah, dan akhirnya terpisah dari Tuhan. Dari luar bisa terlihat normal, tapi di dalam sebenarnya tidak utuh. Badannya hidup tapi jiwanya penuh kematian, jiwanya ingin mati tapi badannya tidak mampu. Inilah kondisi keputusasaan yang terkait dengan kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga manusia tidak dapat berdamai dengan diri sendiri.

Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa (yakni kita semua) pasti pernah berada dan bersintesis di antara tiga kondisi keputusasaan tersebut. Ini senada dengan Firman Tuhan yang mengatakan bahwa semua manusia telah menyeleweng dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:12-23). Oleh penyelewengan kita di dalam Adam, dosa telah masuk ke dalam dunia dan ke dalam diri kita, dan oleh dosa itu juga maut (Roma 5:12). Ketika kita membaca ini, mungkin kita mengatakan “ah tidak ah, saya tidak pernah merasa di dalam keputusasaan.” itu sama saja seperti kita tidak mengakui bahwa kita tidak pernah berada di dalam dosa, sehingga sama saja seperti kita membohongi diri kita sendiri (1 Yoh 1:8). Keputusasaan yang paling bahaya adalah ketika kita tidak sadar bahwa diri kita sedang berada di dalam keputusasaan, sehingga kita akan hidup sebagaimana angin bertiup, sebagaimana air mengalir, tanpa adanya kesadaran bahwa diri bertanggung jawab di hadapan Allah. Tidak mungkin manusia yang berputus asa bisa berdamai dengan diri sendiri, karena obat dari keputusasaan adalah beristirahat di dalam kekuatan yang menopangnya, yakni Allah. Perlu ada kuasa yang menarik manusia dari keputusasaan tersebut.

Kembali ke khotbah Pdt. Stephen Tong, Allah menetapkan satu hari dalam sejarah di mana Anak Allah yang berinkarnasi dihukum mati di salib. Hari tersebut adalah hari yang disebut dengan Jumat Agung. Namun, kematian Anak Allah bukanlah kematian biasa. Semua filsuf mati, semua kaisar agung mati, dan sama halnya semua pemimpin agama mati. Namun, tidak ada satu pun dari kematian tersebut yang memperdamaikan pengikutnya dengan Allah. Hanya kematian Yesus lah yang memperdamaikan manusia dengan Allah. Bagaimana caranya? Dengan mengambil keberdosaan kita dan mati di kayu salib. Kristus mengambil seluruh pemberontakan kita, rasa malu (shame), dan rasa bersalah (guilt) kita di hadapan Allah, dan menebus kita darinya melalui salib.

Oleh kematian Kristus, manusia bisa diperdamaikan dengan Allah. Inilah yang Kierkegaard katakan sebagai obat dari keputusasaan, yakni diri manusia bisa beristirahat secara transparan di hadapan Allah karena Kristus telah menanggung dosa kita. Dengan kematian Kristus, murka Allah tidak lagi dicurahkan kepada kita, dan kebaikan Kristus diperhitungkan kepada kita, sehingga kita dapat dipandang sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak-anak Allah, diri kita sekarang dapat kembali berelasi dengan apa adanya di hadapan kuasa yang menopangnya, yakni Allah. Berelasi (secara transparan) maksudnya adalah mengakui bahwa kita terbatas dan mengakui kesalahan kita di hadapan Allah, lalu bertobat. Jika kita mengakui dosa kita, maka Allah adalah setia dan adil (1 Yoh. 1:9). Inilah Injil itu: Kematian Kristus memperdamaikan kita dengan Allah supaya kita bisa berdamai dengan diri sendiri. Ketika kita menerima diri kita di hadapan Allah, kita dapat berdamai dengan orang lain karena pertikaian, penghakiman, perkataan, perbuatan orang lain tidak lagi berdampak kepada diri kita. Tentu ini semua tidak terjadi dengan instan, melainkan diri kita sekarang disatukan dengan Allah, sehingga kita semakin dibentuk sesuai serupa dengan Allah. Ketika kita berdamai dengan orang lain, kita dapat menginjili orang lain sehingga orang lain bisa berdamai dengan orang lain, dan nantinya berujung orang lain berdamai dengan Allah.

Ketika kita mengetahui kebenaran ini, jikalau kita sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus Kristus disalib untuk menebus kita dari dosa, kita sadar bahwa kebenaran ini mengubahkan kita secara pribadi. Kita sadar bahwa kebenaran yang obyektif ini, telah berinkarnasi ke dalam diri kita, yang olehnya, kita boleh berdamai dengan diri kita sendiri. Sama seperti Kristus, Allah, Kebenaran yang hidup, telah berinkarnasi ke dunia ini dan memberikan diri-Nya agar kita boleh diubahkan dan bertobat. Sayangnya, hari ini banyak orang di luar sana yang tidak berdamai dengan dirinya sendiri. Banyak orang yang secara tidak sadar, terlalu membenci dirinya, terlalu mencintai dirinya, atau tidak sadar bahwa dirinya adalah pribadi di hadapan Tuhan. Banyak orang pada akhirnya putus asa, dan menghidupi kehidupan hanya untuk memuaskan dirinya. Inilah yang menjadi dasar bagi penginjilan kita, bahwa relasi dengan Allah begitu membebaskan kita. Seseorang harus memberitakannya.

Mario Aron Jeremy
Pemuda GRII Pusat

Tag: kebangkitan, Kierkegaard, Kristus, penginjilan

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII