Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Transkrip
Foto Header Filsafat Asia - Bangunan di Forbidden City, Tiongkok

Filsafat Asia: Bagian 30

11 Mei 2026 | Pdt. Dr. Stephen Tong 7 min read

Konfusius membedakan antara Orang Agung dan Orang Kecil. Perbandingan kedua karakter ini merupakan pemikiran penting antropologi konfusianisme. Seseorang dikatakan agung bukan karena ukuran badannya secara fisik, tetapi karena kemurahan hatinya, spiritualitasnya, atau kebesaran karakter kepribadiannya. Jadi orang agung adalah orang yang karakternya, wataknya, sifatnya, pikirannya, dan jiwanya, lapang dadanya besar. Itulah cara untuk mengukur orang agung atau tidak.

Saya sering berpikir seandainya ada kamera rohani, saya ingin membelinya. Kalau kita foto pakai kamera biasa, mungkin kita akan melihat seseorang itu gemuk, kurus, atau tinggi badannya. Tetapi ketika kita memfoto dengan kamera rohani, mungkin yang gemuk dan tinggi besar, ternyata rohaninya kecil sekali, sebaliknya yang badannya kecil mungkin kerohaniannya besar sekali, dan kita bisa melihat siapa yang rohani dan siapa yang tidak. Tetapi hal seperti ini sangat susah dilihat. Terkadang kita harus mengenalnya lebih dari sepuluh tahun barulah kita bisa mengenal karakter orang itu sesungguhnya seperti apa. Mungkin kita baru tahu kalau karakter dia itu seperti setan, atau seperti babi. Sebelumnya kita kira dia seperti malaikat, ternyata salah. Mengerti karakter seseorang sangatlah susah. Tetapi inilah kunci penting untuk kita mengenal orang. Kunci konfusianisme adalah dengan melihat orang itu agung atau tidak.

Mengenai hal ini, Konfusius mengatakan beberapa kalimat yang penting.[1]

Pertama, seorang agung selalu ingin ke atas. Seorang agung selalu mengarahkan kehidupannya ke arah hal yang agung, kepada arus yang mengarah ke atas dan mau maju. Tetapi orang kecil selalu memikirkan hal-hal yang di bawah, yang hina, yang remeh dan rendah. Orang kecil pemikirannya tidak tinggi, melainkan berpikir hal yang di bawah, bicara apa pun akan mengarah ke hal-hal yang rendah. Sebaliknya, orang agung (yunzi / gentleman) selalu mau mengarah ke atas. Dia tidak peduli kalau langkah itu makin sulit dan makin melawan arus. Selama hal itu bisa membawanya naik menjadi lebih agung, dia akan perjuangkan terus. Jadi orang-orang seperti ini, ketika berbicara, ketika berpikir, semuanya untuk bagaimana bisa maju, bagaimana bisa naik makin tinggi, bagaimana meningkatkan moral diri. Ia tidak peduli sesulit apa pun, asal bisa maju. Orang-orang seperti ini jiwanya agung. Tetapi orang kecil (xiao ren / small man) selalu memikirkan yang mudah, yang seenaknya sendiri, tidak peduli apa pun yang dilakukan asal menyenangkan diri. Bahkan berbuat dosa pun dia tidak peduli. Orang-orang seperti ini karakternya terus merosot ke bawah.  

Kedua, orang agung membicarakan apa pun yang menegakkan dan mementingkan kebenaran dan keadilan. Kata ini di dalam bahasa Alkitab (dalam bahasa Yunani) disebut sebagai dikaiosune yang dalam bahasa Inggris disebut righteousness. Maka jika di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kebenaran (yang dalam bahasa Yunani disebut aletheia, atau bahasa Inggris disebut truth), itu sebenarnya kurang tepat. Yang benar adalah kebenaran keadilan (righteousness). Di dalam Alkitab, ketika muncul frasa: “Dibenarkan oleh iman,” itu bukan menggunakan kebenaran (truth), tetapi kebenaran keadilan (righteousness). Righteousness atau dikaiosune dalam bahasa Yunani memiliki pengertian: dijadikan tegak dan benar (dibuktikan secara keadilan bahwa itu terbukti benar). Ini bukan kebenarannya, tetapi penekanannya pada suatu keadilan dan kesucian yang tegak, yang lurus. Jadi, seorang yang agung saat bicara apa pun dia terus memikirkan tentang kebenaran, keadilan, ketegakan dan kelurusan. Tetapi orang kecil berbicara apa pun hanya memikirkan dapat untung apa, bisa mendapatkan manfaat apa, semua hal-hal duniawi yang bisa diperoleh untuk dirinya. Ini adalah pemikiran orang kecil. Orang besar berpikir bagaimana bersumbangsih yang besar dan mulia untuk negara, memikirkan kepentingan yang lebih besar. Mencius, seorang penerus Konfusius, yang hidup sekitar 200 tahun setelah Konfusius, pergi ke negara Qi. Di sana ia memperjuangkan perombakan politik, menolong raja untuk mengatur segala sesuatu. Sesudah itu, raja memikirkan dan mau memberikan uang yang banyak untuk Mencius dan mau dihitung sehari berapa, kemudian sebulan berapa. Namun Mencius mengatakan, “Saya datang ke negara ini betul-betul untuk mau menolong raja, bukan untuk uang.” Dia tidak mau menerima honor. Saya kagum sekali dengan orang-orang seperti ini. Ada penasihat yang hanya memberikan usulan atau anjuran-anjuran dan setelah itu menerima uang, tidak peduli apakah anjurannya terlaksana atau tidak; yang penting sudah beri nasihat, maka perlu dapat uang. Itu adalah xiao ren (orang kecil), yang hanya mau cari keuntungan diri sebelum betul-betul membangun negara. Mencius sudah memberikan anjuran dan nasihat yang sudah menjadikan kerajaan mengalami perbaikan dan kemajuan, tetapi dia tetap tidak mau diberi uang banyak oleh raja. Ini orang agung. Konfusius tidak memedulikan engkau punya berapa banyak gelar akademik, berapa banyak pengetahuan, dan berapa banyak sekolah, tetapi dia lebih melihat karaktermu seperti apa. Jadi bukan masalah punya gelar doktor berapa banyak, tetapi jiwamu agung atau tidak agung. Orang yang hanya memikirkan profit, mencari keuntungan diri, pikirannya hanya berpusat kepada diri sendiri untuk bagaimana mendapatkan uang, adalah orang kecil. Makin banyak uang yang dia terima, ia makin dihina. Tetapi orang yang bukan mementingkan profit, melainkan mementingkan kebenaran, berjuang untuk menegakkan suatu keadilan dalam masyarakat, itu adalah orang agung. Saya rasa, sampai di sini, orang Kristen seharusnya malu jika kita hanya hidup untuk mengejar keuntungan dan uang. Kita bisa-bisa kalah dari moral dari orang-orang konfusianisme yang memiliki standar begitu tinggi.  

Ketiga, seorang agung akan menuntut keras dirinya, sementara orang kecil menuntut keras orang lain. Orang kecil selalu menuntut orang lain begitu kerasnya, sementara begitu lunaknya terhadap semua kekurangan diri. Ada orang yang mengatakan, “Mengapa engkau mengajar anak tidak beres?” tetapi pada saat yang sama dia sendiri tidak pernah bertanya apakah dia mendidik anaknya sendiri cukup beres. Orang kecil menuntut orang lain harus hidup suci, sementara dirinya sendiri hidup tidak suci. Seseorang mudah menuntut orang lain, memaki-maki orang lain dan melihatnya kurang beres, tetapi menuntut diri dan mendisiplin diri sendiri jauh tidak mudah. Konfusius mengatakan bahwa orang agung menuntut diri, bukan orang lain. Orang kecil suka menuntut orang lain. Saya duga engkau sudah pernah mendengar, bahwa ketika menunjuk seseorang, maka dua jari kita (telunjuk dan jempol) mengarah ke orang itu, sementara tiga jari lainnya, justru menunjuk ke diri kita sendiri. Kita harus sadar lebih banyak jari dan tuntutan kepada diri kita ketimbang kepada orang lain. Yesus juga sempat mengajar pengikut-Nya untuk tidak seperti orang Farisi, yang munafik menuntut orang lain harus hidup suci, tetapi dirinya sendiri penuh dosa. Konfusius hanya menyatakan itu sebagai suatu nasihat atau konsep yang ada di dalam pikirannya, tetapi Yesus langsung menyatakan untuk hidup jangan seperti orang Farisi yang menuntut orang lain, tetapi tidak menuntut dirinya sendiri. Orang agung akan menuntut diri untuk terus maju, sesulit apa pun akan lebih menuntut keras diri sendiri untuk bisa hidup disiplin dan bermoral tinggi.

Keempat, orang agung tidak mau diperalat orang lain, atau orang agung tidak membatas diri seperti suatu alat. Menerjemahkan pengertian kata bagian ini cukup sulit. Maksudnya adalah orang agung tidak membiarkan dirinya sekadar seperti suatu alat (tool) yang bisa dipergunakan atau dipakai orang lain untuk kepentingan orang itu. Dia juga tidak mau hanya menjadi wadah yang terbatas dan dibatas oleh orang lain, karena dia ingin menjadi diri yang berkapasitas luas. Sepanjang hidup saya memikirkan satu hal, yaitu saya tidak mau memperalat orang lain dan juga tidak mau diperalat orang lain. Yang boleh memakai saya hanyalah Tuhan, dan saya hanya bisa membangkitkan orang-orang yang akan dipakai oleh Tuhan, bukan saya. Mereka bisa bekerja sama dengan baik dan saling menghormati, karena sama-sama dipakai oleh Tuhan. Ini sikap yang saya nyatakan baik kepada dosen saya, kepada tukang becak, atau sikap kepada sopir, atau kepada siapa pun. Semua sama. Saya tidak akan menganggap dan memperlakukan engkau berbeda karena engkau kaya sekali. Atau saya akan menggertak dan mengancam sambil mengeluarkan nada keras dan menghina kepada orang miskin. Tidak boleh seperti ini sama sekali. Rekan-rekan saya di seminari sangat tahu bagaimana sikap saya kepada para tukang becak sama hormatnya seperti kepada para murid saya, juga dengan rekan-rekan kerja sesama dosen. Semuanya saya perlakukan sama. Semua pendeta yang sejak menjadi rekan kerja saya dahulu adalah murid saya. Saya berjanji dalam diri saya, seberapa tahun engkau ikut melayani bersama saya, saya terus berharap engkau menjadi pendeta yang betul-betul besar dipakai oleh Tuhan. Kita perlu memiliki sikap yang saling menghormati, bukan memperalat orang lain. Itu akan menjadi sifat untuk bagaimana kita bisa dipakai oleh Tuhan terus-menerus. Amin.


[1] Jika perkataan-perkataan ini diberi urutan, sebenarnya Konfusius bukanlah memang berkata dalam urutan tertentu, karena penulisan ini lebih banyak merupakan hasil tanya jawab, di mana ketika Konfusius mengajar, muridnya bertanya dan dia menjawab. Lalu jawaban-jawaban itu dicatat, sehingga bukan merupakan pembahasan yang terencana secara terstruktur menurut urutan tertentu.

Tag: Etika Moral, Karakter Manusia, Kofusius, Orang Agung, Orang Kecil, Refleksi Rohani

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII