Artikel

Apakah yang Kaunantikan?

Natal t’lah tiba! Natal adalah waktu yang paling dinantikan orang Kristen bahkan orang non-Kristen sekalipun. Ada orang yang menanti-nantikan Natal untuk beli baju karena diskon saat Natal besar. Ada yang sibuk mempersiapkan KKR Natal gerejanya karena ini momen penting. Ada yang gembira karena bisa menikmati libur Natal plus tahun baru. Setiap orang memandang Natal dengan kacamata yang berbeda, mereka menantikan sesuatu di hari Natal.

Orang Israel sudah dari zaman dahulu menantikan kedatangan Mesias yang dinubuatkan para nabi. Mereka bukan menantikan diskon atau liburan atau hal duniawi lainnya, mereka menantikan Mesias! Tetapi at the end of the day, mereka kecewa dan menolak Yesus, Sang Mesias yang dinantikan. Apa yang salah dari penantian mereka? Alkitab sebenarnya sudah memberi bocoran mengenai jawaban ini melalui kisah berbagai macam orang yang menantikan Kristus juga, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. 

1. Yahudi/Israel secara Umum
Benarkah orang Yahudi atau bangsa Israel menantikan Mesias? Secara fenomena mereka punya tembok ratapan, mereka membaca Taurat dengan tekun, mereka berdoa dengan giat. Semua hal ini adalah wujud nyata penantian mereka akan Mesias. Tetapi ada hal yang mengganjal, mengapa ketika Mesias datang, mereka justru menolak-Nya dan bahkan menyalibkan-Nya di atas kayu salib? Karena mereka salah fokus. Dengan latar belakang penjajahan Romawi, mereka menantikan waktu pembebasan bangsa mereka, bebas dari jajahan Romawi, dan Israel kembali menjadi bangsa yang merdeka dan berjaya seperti pada zaman Daud. Sehingga, Mesias hanyalah salah satu cara untuk mencapai kemerdekaan itu. Jadi, fokus mereka adalah kemerdekaan dari bangsa Romawi dengan memiliki satu raja yang hebat dan kembali kepada kejayaan zaman dahulu. “Unfortunately”, Mesias yang sejati datang dan menawarkan hal yang lain. Kristus datang memberikan pembebasan tetapi pembebasan dari perbudakan dosa, memberikan anugerah hidup yang baru sehingga umat tebusan-Nya menjadi umat yang diselamatkan dan hidup yang kembali memuliakan Allah, tetapi hal ini bukanlah yang Israel nantikan. Mereka hanya mau freedom secara lahiriah tetapi Kristus memberikan freedom yang sejati, freedom from sin.

2. Orang Majus
Orang majus, dalam beberapa penafsiran, dikatakan sebagai orang bijak dari Timur yaitu dari Kerajaan Media-Persia kuno. Jarak dari Persia ke Yudea adalah bermil-mil jauhnya, sehingga mereka butuh setidaknya 40 hari untuk berjalan ke Betlehem, dengan dituntun bintang. Apa yang menjadi pertimbangan mereka hingga mereka berani menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk datang memberi persembahan kepada seorang bayi lalu pulang lagi ke negeri mereka begitu saja? Karena mereka membaca nubuatan mengenai kelahiran seorang raja di Betlehem (Mi. 5:1). Ketika orang majus sampai di tempat bintang itu berhenti, Alkitab mengatakan, “When they saw the star, they rejoiced exceedingly with great joy.” Kegembiraan mereka meluap-luap. Yang dilakukan orang majus bukan masuk ke kandang hewan lalu menginspeksi bayi Yesus, “Oh, jadi seperti ini bayi yang dinubuatkan kitab kuno!” atau bertanya, “Apa ya yang membuat bayi ini spesial? Mari kita [orang majus] teliti lebih dalam.” Tetapi ketiga orang majus langsung gembira seperti orang yang sudah bertahun-tahun mencari harta karun terpendam, tiba-tiba menemukan harta itu. Mereka memperlakukan bayi Yesus dengan hormat, karena mereka tahu siapa Dia. Ini salah satu respons unik yang dicatat Alkitab. Orang majus itu meskipun bukan bagian dari umat pilihan secara darah atau lahiriah, mereka menantikan kedatangan Mesias, Sang Raja Damai. Mereka memperlakukan Yesus dengan hormat, dan yang paling penting adalah mereka menyambut dengan sangat sukacita karena nubuatan itu telah digenapi.

3. Herodes
Herodes bukanlah orang yang menantikan kedatangan Sang Mesias, bahkan ia tidak menyelidiki mengenai Mesias. Namun yang mengejutkan adalah ketika Herodes mendengar mengenai nubuatan Mesias dari orang majus, Alkitab mengatakan bahwa Herodes beserta seluruh Yerusalem terkejut (Mat. 2:3). Yerusalem yang seharusnya menjadi tempat di mana keajaiban itu terjadi (seorang raja seharusnya lahir di situ), malah menjadi pihak yang terkejut karena adanya Raja yang lahir di luar Yerusalem dan karena penggenapan nubuat para nabi akan kelahiran Mesias yang mereka tunggu, tidak disadari oleh mereka yang sedang menunggu. Memang terkadang Tuhan memakai orang lain yang bukan dari kalangan Kristen untuk menyadarkan kita betapa lelapnya kita tertidur hingga orang lain lebih sadar akan suara Tuhan dibanding kita sendiri. Di sisi lain, Herodes mengambil sikap yang ekstrem, yang dicatat oleh Alkitab menjadi sejarah yang disorot umat Kristen yang membaca Alkitab sampai zaman ini. Ia membunuh anak-anak kecil hanya untuk memastikan takhtanya tetap aman, itulah yang dilakukan Herodes. Itulah responsnya terhadap kelahiran Mesias. Beberapa orang mempunyai respons yang sama dengan Herodes, yaitu merasa terancam dengan kedatangan Mesias karena ingin mempertahankan takhta, kenyamanan, dosa, atau harta. Mereka akan berusaha mempertahankan apa yang mereka anggap berharga dengan memusnahkan Kristus dari hidup mereka.
 
4. Simeon
Simeon dan Hana memiliki respons yang unik yang dicatat dalam Lukas 2:25, “Now there was a man in Jerusalem, whose name was Simeon, and this man was righteous and devout, waiting for the consolation of Israel, and the Holy Spirit was upon him.” Simeon menantikan penghiburan bagi Israel. Simeon bukan menantikan kelepasan dari penjajah, tetapi ia menantikan kelepasan dari ikatan penderitaan dan kesusahan Israel. Motivasi terdalam dari penantian Simeon menjadi nyata saat dia melihat bayi Yesus. Simeon berkata, “Lord, now you are letting your servant depart in peace, according to your word, for my eyes have seen your salvation that you have prepared in the presence of all peoples, a light for revelation to the Gentiles, and for glory to your people Israel.” Simeon mengerti bahwa fokus dari penantian dia adalah keselamatan bagi Israel, terang bagi Yahudi, kemuliaan Tuhan yang tercermin melalui umat-Nya Israel. Respons Simeon adalah lega, sukacita, seperti seorang penjaga tembok yang menantikan fajar dan akhirnya fajar itu tiba.

5. Hana
Hana adalah orang yang tidak pernah keluar dari Bait Suci, berpuasa dan berdoa terus-menerus siang dan malam. Sesudah melihat bayi Yesus, Hana mengucap syukur pada Allah dan berbicara kepada semua orang yang sedang menantikan datangnya penebusan (redemption) untuk Yerusalem. Satu-satunya orang yang dicatat Alkitab menunggu kedatangan Mesias dengan berdoa dan berpuasa tak henti-henti adalah Hana. Berapa banyak orang yang tahu pada zaman itu, bahwa Kristus datang untuk menjadi penebusan dosa seluruh umat manusia? Pemikiran Hana melampaui orang-orang sezamannya.

Kita, orang Kristen zaman sekarang, harus menginstrospeksi dalam hati kita, apakah kita sedang menantikan Kristus atau hanya menantikan berkat-Nya saja? Apakah kita, sebagai orang Kristen, selama ini menantikan “mesias” yang salah seperti Israel zaman dulu, yang sebenarnya menantikan kemerdekaan dari penjajah dan raja yang hebat, bukan penebusan dosa? Atau mungkin kedatangan-Nya mengusik comfort zone kita, sehingga kita berjuang untuk menyingkirkan Dia dari hidup kita, seperti Herodes? Sikap yang tepat yang dicatat Alkitab dalam menyambut Natal adalah dengan bersyukur sebab penebusan itu sudah datang, dan bersukacita karena sekarang Kebenaran sejati sudah tiba dan menerangi bangsa yang berjalan dalam kegelapan. Waktu kita menantikan Natal, biarlah subjek penantian kita adalah pribadi Kristus, kebenaran-Nya, terang-Nya, dan karya penebusan-Nya. Janganlah kita menantikan berkat-Nya saja, sehingga kita memiliki respons seperti Hana yang mampu memberitakan kabar bahwa penebusan sudah tiba bagi kita orang berdosa. Seperti lirik sebuah lagu Natal yang sering kita nyanyikan, “Come Thou Long Expected Jesus”, sebuah lagu karya Charles Wesley. Biarlah kita menyambut Natal dengan kesadaran akan makna Natal seperti yang disyairkan dalam lagu ini.

Come, thou long expected Jesus,
born to set thy people free;
from our fears and sins release us,
let us find our rest in thee.
Israel’s strength and consolation,
hope of all the earth thou art;
dear desire of every nation,
joy of every longing heart.

Born thy people to deliver,
born a child and yet a King,
born to reign in us forever,
now thy gracious kingdom bring.
By thine own eternal spirit
rule in all our hearts alone;
by thine all sufficient merit,
raise us to thy glorious throne.

Bobbie Timothea Christian
Pemuda GRII Melbourne

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲